: josephira
mengapa pula pagi mesti menawarkan sepiring masygul dan segelas sesal,
ketika mimpi-mimpi semalam pun telah punah dan mentari sudah bosan
menjanjikan kehangatan selimutnya. maka ucapan terima kasih atas sepotong
keju dan semangkuk sereal susu pun menjadi demikian sumbang
ataukah mungkin memang sudah sepantasnya begitu
berita televisi merampok selera makan
dan sebatang rokok menjadi sepengap asap mesiu
saat lagu kanak-kanak terdengar begitu pilu
hingga air mataku segan mengalir terlalu banyak
setitik saja cukuplah untuk sebuah sarapan pagi
seharusnya, katamu, embun menguap membawa janji bumi
ke langit agar tak lagi kau dengar lagu pilu
saat kausisip kopi krem dengan segigit roti keju
seharusnya matahari cukup hangat
seperti layaknya secangkir kopi
menguapkan harum
***
yogyakarta, 2001