Tentang Penulis Edisi 41
T.S. Pinang, tinggal di Yogyakarta, beberapa puisinya pernah dibacakan di Radio Suara Jerman Deutsche Welle dan RRI Nusantara IIYogyakarta dan masuk dalam antologi Graffiti Gratitude: Sebuah Antologi Puisi Cyber.Ningrum Sirait , pengajar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan, anggota Dewan Pengurus LSM Pusaka Indonesia, dan sedang menyelesaikan S3 untuk bidang Hukum Internasional.Bramantyo Prijosusilo, pegiat seni […]
Sajak Batu – T.S. Pinang
lalu bebatuan itu pun terukir nama-namaditanam sebagai nisan-nisan. lebih pualam daripada hatimu sendiridan cahaya begitu menyilaukan karena telah lama matamumenyantap kegelapan, menyantap kegelapan! lihatlah,wajah-wajah suci kanak-kanak terpeta air telagamembasuh diri sampai ke hatimembasuh hati sampai ke langit hingga segumpal megamenghapus kemarau yang rentameremajakan dedaunan yang dahaga kaulihatkah wajah mereka di meja kerjamudi tikar sembahyangmu, di […]
Sangkuriang – T.S. Pinang
terbatuk-batuk masih kulihat engkau, terseok-seok mengusung kerandasendiri. dimana masih tersisa sepetak bumi untuk kuburan cintaku ini,rintihmu menghiba pada angin kota, pada genang got riool tepi jalan, padalampu merkuri malam-malam mungkin kesepian ini harus kautelan bulat, sebagai puisi ataukah doa, takpenting benar. mungkin rumah hati telah terlalu sempit oleh bangkai-bangkaimenung, filsafat-filsafat murung “aku haus air susu […]
Semangkuk Sereal Untukmu – T.S. Pinang
: josephira mengapa pula pagi mesti menawarkan sepiring masygul dan segelas sesal,ketika mimpi-mimpi semalam pun telah punah dan mentari sudah bosanmenjanjikan kehangatan selimutnya. maka ucapan terima kasih atas sepotongkeju dan semangkuk sereal susu pun menjadi demikian sumbangataukah mungkin memang sudah sepantasnya begitu berita televisi merampok selera makandan sebatang rokok menjadi sepengap asap mesiusaat lagu kanak-kanak […]