lalu bebatuan itu pun terukir nama-nama
ditanam sebagai nisan-nisan. lebih pualam daripada hatimu sendiri
dan cahaya begitu menyilaukan karena telah lama matamu
menyantap kegelapan, menyantap kegelapan!
lihatlah,
wajah-wajah suci kanak-kanak terpeta air telaga
membasuh diri sampai ke hati
membasuh hati sampai ke langit
hingga segumpal mega
menghapus kemarau yang renta
meremajakan dedaunan yang dahaga
kaulihatkah wajah mereka di meja kerjamu
di tikar sembahyangmu, di dinding kamarmu
di sprei tilam tidurmu, di lembaran koran pagimu
di lampu-lampu jalan, di sudut-sudut perempatan:
di relung hatimu.
hingga bebatuan itu meruntuhkan senyum mereka
menjelma hatimu, kulit mukamu, jemari tanganmu,
alas kakimu, santapan siangmu
maka kaujadikan anak-anakmu menjelma batu-batu,
satu demi satu hingga beratus-ratus ribu
lalu bebatuan itu pun terukir nama-nama
ditanam sebagai nisan-nisan lebih pualam daripada
hatimu sendiri dan cahaya begitu menyilaukan
karena telah lama matamu menyantap kegelapan
menyantap kegelapan!
***
yogyakarta, 2001