terbatuk-batuk masih kulihat engkau, terseok-seok mengusung keranda
sendiri. dimana masih tersisa sepetak bumi untuk kuburan cintaku ini,
rintihmu menghiba pada angin kota, pada genang got riool tepi jalan, pada
lampu merkuri malam-malam
mungkin kesepian ini harus kautelan bulat, sebagai puisi ataukah doa, tak
penting benar. mungkin rumah hati telah terlalu sempit oleh bangkai-bangkai
menung, filsafat-filsafat murung
“aku haus air susu ibu!” raungmu mengepal tinju
pada bulan dingin tanpa peduli, pada siapa lagi kaucari-cari. lalu engkau
perkosa ibumu sendiri seperti kau cabut jantung anjing, bapamu:
engkau pun keluar dari bingkai dongeng!
***
yogyakarta, 2001