Ada yang senantiasa melukisi daun dan buah,
lihat jejaknya menggaris di batuan tanah
Aku daun yang tanggal, terbasuh embun
sebelum luruh dibantun taifun
Kau buah yang mengkal, tersepuh ranum
sebelum jatuh dikulum alum
Kita tumbuh dari akar berbeda,
meski mencecap air dari sumber yang sama
Aku datang dari perih yang diguritkan angin
dan angin mengibarkan rambutmu yang perak
Lihat tapaknya mengering di bangkai musim,
sebagian abadi dalam sajak
Kita saksikan laut
melalui nyala lilin dan rekahan kembang
Pulau-pulau bagai bangkai hanyut,
jerit di jauhan menyusun bukit karang
Kapal-kapal beringsut
memasuki kelabu kabut,
kau melambai
ke pemuda kusut masai
“Kelak ia kembali membawa buah pala
dan seorang putri Minahasa.
Aku adalah cucu mereka.”
Jauh di tepi danau gubuk-gubuk gipsy diperam perih waktu
hingga udara dan air payau sama membeku,
tapi pohon-pohon putih menanggalkan baju
dan aku tertindih tumbang tubuhmu
***
1997