Tentang Penulis Edisi 55

Sitok Srengenge, penyair. Edwin, anak Yayasan Seni, Estetika dan Teknologi di Jakarta. Dewa Gumay Lembak, anak Palembang penulis cyber dan koran lokal. Syam Asinar Radjam, menulis novel Smaradina Muda Mangin di Bogor.

Mimpi

Tidak kah akan pernah cukupSebuah hidup dalam gigitan realitasSehingga mimpi selalu berujung enas. Tidak kah akan pernah layakSebuah impian untuk digenggamSehingga pahit lah yang bisa tercecap Tidak kah akan pernah sanggupMengharap sebuah hidup dalam impianAkankah selalu bernilai mahalLosari, 1 Januari 2002

Saat-saat Kuberbaring di Pahamu

Aku telah preteli segala lencanaKucuci riasan yang mengerikan ituYang dipasang di parasmuKunikmati kecantikanmuDalam wajah yang ternikmati mata batinkuKucumbui engkauDalam mabukku akan lukaDalam perih yang meracunikuMungkin mataku terlalu nanarUntuk menatapmu dengan jelasSetidaknya aku mampuMerasai hangatnya rengkuhanmuSaat tetes darah dari keningkuJatuh di pahamuSaat-saat ku berbaring diatasnyaJl. Kampus II Bandung, Mei 1999

Stasiun Terakhir

Di sini kita labuhkan luka dan sepiLantas kita berkacaCawan-cawan anggur yang berdentingSeperti lonceng kematianYang tak lagi menakutkan Cermin itu ternyata buramMata kita pun terlalu nanarUntuk membaca kenyataanBahkan untuk menjadi nyata Kini hanya tersisaKursi dan meja sunyiTanpa jiwaKereta terakhir telah lama tibaMalam sudah semakin larutTerminus Café CCF Bandung, Oktober 1999

Imaji Harapan

EdwinDan apakah lukaSelain kemanjaan dan keterasinganDalam samudra harapanTapi lihat ujung tombaknyaMenusuk berjuta kepalaMelahirkan tiran dan melestarikanPenindasanDalam mitologi divinitasKepasrahan pada mahalukaMenjerumuskanJiwa-jiwa yang basahOleh airmata kemayaanPada sumur tanpa dasarDimana-harapan dikaitkanKau Bukan ituSungguh aku yakin sekaliAkankah ada yang peduliJakarta, 26 Desember 2000

Reportase Sunyi

EdwinDan angin yang manjaMeniupkan kerinduanUntuk pulang ke haribamuTapi jarak yang terlalu panjangMembentang sebuah ruangselengkapnya

Senja Kerinduan

Senja yang habis bersamamuSungguh mengguncang aras eksistensikuBanjir cahaya di matamuMenerbangkankuMencapai awan-awan ketinggianAku takluk padamu Haruskah kini ditangisiBahtera karam di pantai mimpiAkankah ada yang peduliJiwa yang lantas kering dan matiSurabaya, 25 Desember 2001

Waktu

Kenapa tak mau menungguLihatlah ku berlari mengejarmuLangkah tersuruk di jalan berdebu Mata kaki mata hatiKenapa tak mau pergiBagai tersangkut pada duriTerikat pada penggal memoriSekeloa, 11 Februari 2002

Reportase Sunyi

EdwinDan angin yang manjaMeniupkan kerinduanUntuk pulang ke haribamuTapi jarak yang terlalu panjangMembentang sebuah ruangAntara kau dan akuHingga kita terasingSatu sama lainHanya imaji tentang hadirmuMenuntun pelayarankuSemoga sampai di dermagamuJalan Kampus II Bandung, Juli 1999