Pada parasmu yang pucat
        kubaca gurat isyarat:
cambuk angin
 musim dingin,
           perusuh yang kembali
dengan sisa dengki laskar Stasi

    Cahaya terkubur di kota yang tidur,
anak-anak dan perempuan dari Timur
mimpi sekerat roti dan seteguk anggur

Sungguh, kausuguhkan padaku
                            malam itu:
      letus tulang di tungku krematorium
dan kuntum-kuntum gandum yang alum

 Selebihnya selingkup selimut,
selembut dan selembab kabut
 digetar guruh yang meronta
jauh di relung hutan cemara

      Dan kita pun tiarap,
dan napas pun tersekap
   Kamar jadi sesunyi ruang kremasi
lenguh luluh terpanggang api birahi

                                     Di balik matamu yang terpejam,

seorang perempuan membakar Mein Kampf diam-diam
Kata-kata perkasa Si Fuhrer itu lantak ke dalam sekam,
       seperti bara tubuhmu yang gemeretak dan padam
          Sejarah, remah, gairah, kembali susut ke tanah,
tempat awal dan akhir langkah bertaut di satu noktah

“Bahkan kau yang berjalan dengan khayal
       kelak istirah di sebuah negeri oriental:
         sejenak jiwa
di sejengkal Jawa.
  Tapi sukmaku akan senantiasa mengembara
mencari tanah yang dijanjikan, entah di mana.”

Selapang yang kaubayangkan, ribuan mil,
             terbentang antara Eifrat dan Nil
Tapi kaummu merebut,
  tapi kaulmu terenggut

                       Burung-burung
lintas di remang bayang gedung,
tapi kaulihat diri sendiri, gamang di kegelapan
                 bicara dalam bahasa orang Selatan

Langit bagai telungkup nyiru
dengan geletar cahaya zohal
      “Aku ingin kembali, Ibu.
Anakmu masih bocah nakal.”
***
1997

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *