Sitok Srengenge
Antonia Logue
Bayang-bayang maut bersimpuh di helai daun-daun layu,
ditimang angin laut lalu luruh sebagai, “Musim gugur,” katamu
Lenguh anggun nan rawan lepas dari bibirmu,
seluruh rimbun hutan ranggas di nyeri rindu
Dengus bukit dan beting dan batang-batang batai
menghunus sakit atas hening kita yang mencintai
Serisau rasa, sekatam kata,
seriuh ruh berpiuh antara duka dan dukana
Gaungnya bertalu di kelung kaldera kalbu
merdu bagai lagu, menderu bagai seru seteru
Langit menabur serbuk cahaya ke setangkup jiwa lusuh
bayang-bayang maut lebur dalam kelam sayup menjauh
Musim menangkar peluhku di pelir waktu
kelak berbiak menjadi lendir salju
Menyungkup janin musim semi di ceruk rahim reranting raras
menyusup ingin di palung tubuhmu yang terkelupas
2001