(satu)
catatan cuaca telah lengkap. tutupkanlah
jika telah kau lihat debu ungu di wajahku
katakanlah, ini selamat malam penghabisan
tidurku di ranjang kelabu itu, sayangku
dan kurasakan embun mengental di bibirmu

pada ketika kau rasakan langit itu menjemputmu
tubuhku telah selesai jadi abu

(dua)
maut itu, alangkah indah

menjelmalah senyummu pada gelisah daun-daun
musim gugur. tatap matamu makin asing
suara-suara tobat meruncing, o nama-nama suci itu
mengekalkan beku di tubuhku
bau tanah alangkah wangi

(tiga)
kalau telah tercium olehmu bau busuk tubuhku
jangan menangis
aku tahu, kenangan itu berlari-lari di bola matamu. basah
mari, tak ada lagi yang akan membujukmu
tanganmu telah terkurung tanah
jasadku bersatu dengan cacing-cacing
dan sukmaku menjelma cahaya di kamarmu

mari. jangan menangis
padatkanlah malam-malamu dengan doa
embun

resah cuaca. usiaku, usiaku!
***

Arya Gunawan, tamatan ITB ini pernah menjadi wartawan budaya Kompas, lantas masuk BBC Siaran Indonesia, dan kini bekerja di Unit Komunikasi PBB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *