Malam beranjak semakin tua ketika Naima masih khusuk menekuni laptopnya. Jemarinya lincah menari di atas huruf-huruf mengikuti irama cerita yang berlompatan di kepalanya. Naima, seorang perempuan yang jatuh cinta pada sunyinya malam, ketika ia bisa menjadi apa saja, siapa saja, dan membuat dunia sesuka hatinya.
“Ngapain kamu? Sampai tak sadar suamimu ini sudah pulang!” teriak Danu dari luar kamar memecah keheningan malam yang sedang dinikmati Naima.
“Mas sudah pulang?” Naima melirik Danu sekilas lalu kembali memalingkan pandangan ke layar laptop. Tanggung. Ia ingin menyelesaikan paragraf terakhir dari cerita yang sedang digarapnya sebelum semua isi kepalanya berlompatan ke mana-mana.
Danu berjalan cepat mendekati Naima, menutup dengan kasar layar laptop. Wajahnya merah padam. Merasa di nomor duakan, padahal ia amat lelah dan butuh diperhatikan.
“Untuk apa terus menulis?” tanya Danu yang berkacak pinggang di hadapan Naima. “Toh tidak menghasilkan apa-apa. Buang-buang waktu saja.” Kalimat itu melesat bak anak peluru dari penembak jitu dan menghunjam tepat di jantung Naima. Tubuhnya menegang seketika. Ucapan suaminya berdesing-desing di kepalanya. Napasnya tercekat. Sebuah bongkahan besar bergulung di dadanya, naik ke tenggorokan, lalu sampai di ubun-ubun dan mendesak air matanya untuk keluar. Sepanjang malam Naima berderai air mata hingga tenggelam dalam palung kesedihan dan kekecewaan.
Sebagai seorang penulis baru, Naima sudah biasa dipandang sebelah mata. Sudah biasa terhina. Juga sudah biasa dianggap tak ada. Ia tidak pernah ambil pusing dan tetap semangat bergumul merangkai kata-kata. Namun, malam ini, benteng pertahanannya porak-poranda. Ia benar-benar tak pernah menyangka Danu, yang seharusnya mendukung, ternyata sama saja dengan yang lainnya.
Enam tahun lalu, ketika menerima pinangan dengan penuh suka cita, Naima menuruti keinginan Danu yang memintanya menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Ketrampilan sebagai karyawati bank yang dibangun selama hampir tujuh tahun segera dibuangnya. Mimpinya tinggal membangun rumah tangga, dengan anak-anak yang riang.
Dua tahun Naima hidup dalam mimpinya. Menjelang tahun ketiga, saat hamil kembali sementara anak pertama mereka baru saja berumur sepuluh bulan, semuanya berbelok ke arah neraka. Naima harus mengalami kepayahan masa-masa trisemester pertama kehamilan sambil mengasuh Zahra yang baru belajar jalan. Belum lagi tumpukan urusan rumah yang tak bisa selesai hanya dengan pandangan mata, sementara dua anak butuh uang lebih banyak.
Maka Danu semakin sibuk di kantor: berangkat pukul tujuh pagi, pulang pukul sepuluh malam..
Sedang Naima semakin sibuk di rumah: pukul 00.00 subuh hingga 24.00 tengah malam.
Sehari dua puluh empat jam masih kurang untuk menyusui bayi yang terbangun berulang kali sepanjang malam, membersihkan popok, memandikan dua balita, masak, mencuci, menyapu, dan deretan panjang urusan rumah lainnya. Tak tersisa uang untuk pembantu, pun tak ada keluarga yang datang membantu.
Naima nyaris gila. Setiap hari bermandikan keringat dan air mata. Ia bahkan sudah lupa seperti apa aroma ketenangan dan kebebasan itu. Naima bertahan sekuat tenaga membuat semuanya tampak baik-baik saja namun ada bagian dirinya yang dipaksa bekerja di luar kapasitas yang sudah mulai aus. Tak jarang, Naima merasa amat lelah dan ingin menyerah.
Sampai akhirnya, suatu hari, sim sala bim, Naima menemukan cara ampuh mempertahankan kewarasan. Ia mulai menulis, menumpahkan semua perasaan ke layar laptop yang selalu menyala ketika kedua balitanya tertidur dan Danu belum pulang. Piring kotor tak bakal menjerit, meja makan yang berantakan tak akan berteriak, dan lantai berdebu tak mungkin menangis. Namun hasrat menulisnya tak terkendalikan.
Awalnya Naima hanya menulis curahan hati yang diposting di grup literasi. Niatnya sekedar berbagi sekaligus berharap dukungan namun ternyata dia juga mendapat ilmu. Tak hanya tentang kehidupan, juga tentang penulisan. Malam-malam sepi pun melemparnya ke dunia mimpi, yang beraroma ketenangan atau kebebasan, sampai dia takut aroma yang amat kental itu akan membangunkan kedua anaknya.
Naima pun bisa menjadi apa saja dan siapa saja, atau tidak menjadi apa-apa, juga tak siapa-siapa. Hanya jemari dan angannya yang bergegas cepat, mengalirkan halaman-halaman cerita tentang hidup masa lalu, masa kini, masa depan, dan masa fantasi, entah kapan dan di mana.
Dan dia kirimkan cerita-ceritanya yang berbuah dari malam bergejolaknya itu ke segala media. Dan dia telusuri kembali kebulatan tekadnya untuk bertahan menghadapi penolakan demi penolakan. Dan dia buktikan lagi bahwa hidup adalah perpaduan sempurna antara perih dan gembira. Dan dia melompat girang ketika ceritanya diterbitkan untuk mencapai luasan orang-orang yang tak dikenalnya.
Naima tak perduli honor, tapi kecanduan sensasi kebahagian setiap ceritanya terbit dan bisa terbebas dari hasrat kuat yang menghipnotisnya setiap malam, pun menikmatinya sebagai hiburan melewati detik-detik kesendirian, tertinggal oleh dua anaknya yang tertidur dan suaminya yang sibuk bekerja.
Tragisnya, suaminya pula yang memporak-porandakan dunianya. Amarahnya tadi malam yang belum reda kembali tersulut pagi ini. Danu menghakimi Naima lagi, tanpa peduli mata bulat istrinya telah merah dan sembap. Vonisnya: Naima terlena dan mengabaikan tugas. Buktinya: Naima sering terlihat lebih asyik di depan laptop, mengacuhkan anak-anak yang minta diperhatikan, dan rumah yang semakin berantakan. Alasannya: Naima menulis tanpa mendapat imbalan honor.
Hati Naima panas membara terbakar semburan api yang keluar dari mulut suaminya. Kantong kesabarannya habislah sudah. Pertengkaran hebat pun tak terelakkan. Naima memuntahkan segala beban terpendamnya.
“Sekarang, giliranku bicara,” tekan Naima ketika Danu baru saja menjatuhkan bokongnya di sofa depan, hendak mengenakan sepatu kerjanya.
“Apalagi? Cepatlah! Aku sudah lelah dengan semua ini.”
“Kamu pikir hanya kamu yang lelah? Aku juga sama,” nada Naima meninggi.
“Apa maumu?” Lelaki itu menatapnya lekat-lekat.
“Bercerai.”
Seketika Danu bangkit dari sofa, terdorong oleh kata yang keluar mulus dari mulut Naima. Wajahnya semakin merah padam. Rahangnya mengeras. Matanya melotot seolah akan menelan istrinya bulat-bulat.
“Apa maksudmu? Jangan bicara sembarangan.”
“Tidak! Sudah kupikirkan baik-baik.”
“Karena aku tak suka kamu menulis?”
“Ya!”
“Gila kamu.”
“Baru tahu aku gila??? Selama ini kamu ke mana saja?” napas Naima semakin memburu. Dadanya bergemuruh tak kuasa lagi menahan emosi, yang sama kuat seperti hasrat menulis yang harus berlompatan ke luar dari benaknya. Pagi ini emosi yang harus bermuncratan dari mulutnya.
“Sekarang, aku akan pergi. Silakan kamu urus sendiri anak-anak dan rumah. Aku sudah tak peduli,” dan Naima segera berlari ke dalam kamar, membanting pintunya. Ia tersungkur ke lantai dengan air mata yang kembali berderai sambil menyiapkan kembali keteguhan hati menghadapi apapun yang kelak terjadi. Yang jelas dadanya terasa begitu lapang, dan bayangan malam-malamnya yang hening dan sepi dengan gumpalan-gumpalan hasrat liar itu bermunculan kembali.
Dengan mata terpejam, Naima menghela udara dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan-lahan. Menakjubkan. Dia bersyukur bisa menyelesaikan paragraf terakhir untuk ceritanya malam itu, sebelum Danu tiba.
“Baiklah, sudah hampir jam sepuluh malam. Sebentar lagi Mas Danu pulang,” gumam Naima. Kemudian, ia memberi sedikit sentuhan kepada rambut dan wajahnya.
Ia ingin selalu terlihat baik-baik saja di hadapan suaminya. di dunia nyata.
***
Teni Ganjar Badruzzaman, alumnus Sekolah Farmasi Bumi Siliwangi Bandung. Berbagai cerita pendek dan cerita anaknya dimuat di beberapa media dan antologi bersama.