mungkin benar,
minyak di tubuhmu telah dikremasi
oleh ruh malam dan kepentingan nyala api
dalam lelap ia terus bercahaya
meskipun,
bukanlah bulan menjadi tandingnya
di lentera aku menyimpan benam mata
yang telah pedih memandang luka-luka
memendam erat sengatan prasangka
berkarat dan mengalir, ujung air mata
sementara, hanya di bangku sebuah meja
aku telah lama membaringkan kepala
yang telah berat oleh sesaknya udara
dari pembeda dan juga getir nestapa.
***
Kepada Yang Belum Kuterjemahkan
barangkali benar,
kesepian selalu lebih menentramkan
ketika berpadu dengan selimut hujan
membawa turun beragam bahasa air
dari gumpalan beban awan, ia mencair
tak lepas dari denting,
beranjak turun dari ujung bibir genting
berjatuhan merata pada badan ranting
mengusap harap, yang beranjak kering
atau mungkin jika beruntung
ia mampir dan lihai bergantung
berwujud setengah lingkaran bening
pada jendela yang basah oleh hening
sementara,
di dalamnya ada secangkir kopi mocca
dan sesosok perempuan dengan puisinya
berusaha menerjemahkan bahasa air
berarti kebebasan atau justru tersingkir
atau bahkan,
luas senyuman bagi alam yang kehausan
membawa kehidupan, penyelamat rintihan
mungkin kerap tak terbaca oleh sungai
hingga menuju lautan, surut dan lalai.
***
Analogi Senyuman dan Hujan
sembari menumpang kicau burung
sebentuk luka tak habis merenung
antara menerima atau menangisi
untuk kesalahan yang belum terjadi
maka percayalah,
sebaik-baik penolong adalah senyum
diantara sesak luka yang tumbuh ranum
sebaik-baik penolong adalah diam
jika kasih sayang, justru berbuah dendam
barangkali untuk menurunkan beban
awan hitam harus memukul air hujan
agar segera luruh dan terus pergi
menuju parit atau akar-akar pelangi
membawa serbuk aroma hamparan
musim semi telah berbuah harapan
para ibu daun yang penuh kesegaran
juga cinta akar yang tertambat tujuan.
***
Kinanthi Anggraini, lahir di Magetan. Karya puisinya sudah dimuat di berbagai media cetak dan daring. Meraih Juara 1 Puisi Terbaik pilihan Gerbang Sastra, Bali (2014). Buku puisi tunggalnya yang telah terbit berjudul ‘Mata Elang Biru’ (Pustaka Puitika, 2014) dan ‘Pelajaran Kincir Angin’ (Buku Katta, 2017). Puisinya juga termaktub dalam belasan buku antologi. Alumnus Pascasarjana Pendidikan Sains UNS ini pernah menjadi model Hijab Moshaict tahun 2011 dan meraih Juara II pada Lomba Tutorial Hijab yang diadakan Koran Bogor 2015.