6
malam ini:
tak ada yang lebih senyap dari hatiku. tak ada yang lebih
nyaring dari mesin kepalamu. kau-aku saling memburu kata.
menjahit kisah-kisah kecil yang belum kita ingat beberapa
detik lalu. sementara kafka sudah sejam lampau kulepas ke
hutan-hutan bahasa, ke ladang-ladang kenangan, sebelum
kata pertama kucangkul mengawali puisi panjang ini.
ini malam sungguh puisi. tak lazim. tak ada kekasih
memanggil dalam telepon. mungkin hanya kafka yang
sibuk berjalan. bolak-balik dari masa lalumu ke masa kiniku:
memanggul beban curiga, rindu dan cinta menjadi segenap
keresahan dalam bentuk wajahmu yang terus bergantung
di langit-langit kamarku, di dinding mata dan pikiranku.
sejak detik runtuh, kafka telah berusaha menghapus
gambar-gambar rindu, bercak-bercak wajahmu di dinding
kamar ini. jurus pertama tak mempan. kuputar lagu-lagu
pembasmi hama rindu dan sendu.
malam jadi pahit. waktu menjadi tangis. dan air matamu
jatuh dari sepasang mataku yang runtuh: melebur dalam
bayang-bayang ketidakpastian melupakanmu hanya untuk
malam ini.
tiba-tiba kafka menelurkan tanya dalam kepalaku. namun kita
ini siapa ? apakah sepasang puisi keabadian? atau sekadar sejoli
daun kering pada reranting rapuh: tak lama –esok atau lusa akan
jatuh dan terbakar dalam ritus api di pagi hari.
7
sejak matahari membakar ubun-ubun kepala siangku.
kafka gelisah. mondar-mandir di sekitar terik bahasa duka.
ia ingin mencari detak yang memberi degup pada jantung puisi.
lalu ia pun mandi. mencoba meluruhkan seluruh panas di badan.
atau mencari cara memadamkan api yang sedang melalap hutan
waktu. namun naas. ternyata panas itu meluap dari dalam hatiku.
lalu ia coba pergi ke rumah tuhan.
karena ia ingat – ini hari jumat:
waktunya orang-orang mencari muka
dihadapan gusti yang murka pada kepuraan-puraan
doa dan air mata.
setiba di rumah tuhan pada saf paling belakang,
hatinya khusuk berdoa. air matanya rajin mengalir.
layaknya agamawan picisan yang mencoba membeli
obat hati di apotik kemurahan hati tuhan dengan
selembar doa-doa palsu.
8
di hadapan jendela, malam telanjang tanpa mantel kebisingan.
angin berimigrasi ke negara lain. pohon-pohon mati tak bergerak.
burung-burung bergumam pada tuhan: sunyi sungguh menyakitkan!
akhirnya kafka murung di dekat jendela. entah apa yang ingin ia
rencanakan untuk malam ini. pikiran petang, ingatan mengais-ngais
kata di antara detik yang sudah lewat tanpa menitipkan sesobek peristiwa.
lalu perasaanku mengajak kafka berlibur ke baris-baris puisi penyair
dunia, ke buku-buku sejarah. siapa tahu di sana ia mendapat permata atau
harta benda. namun selalu makhluk menyebalkan yang bernama kemalasan itu:
mencegatku di tengah jalan dengan berbagai alasan. seperti polisi
yang ditakuti para pengendara hitam. seperti perampok yang merampas isi
dompet kebahagiaan.
pun akhirnya kafka kembali ke kampung murungnya. seperti biasa,
malam ini ia ingin mencangkul sawah-sawah kenangan. menyabit rumput-
rumput peristiwa. dan kembali biji-biji kata di tabur di lahan-lahan puisi.
bersama hujan waktu yang terus berguguran detik-detik ke haribaan malam.
kurawat dan kudewasakan kata sampai menjadi puisi. sebagaimana langit
menyusui bumi dengan gerimis kasih-sayangnya. sebagaimana tangan-tanganku
menjaga api pada lilin cinta di tengah angin yang berkibar musibah.
9
dengan segelas pagi sekental kopi. di dekat jendela, kafka lari-lari
pagi di halaman kata-kata ibu tadi malam:
uang memang bisa melupakan segalanya, nak. bahkan anak pada
ibunya sendiri. seperti bunarso, bunarwi, mereka menelantarkan
ibunya sendiri yang sedang sakit-sakitan. mereka malah sibuk
mengeloni uang tak ingin luang. bahkan menjenguk pun hanya
satu minggu satu kali. anak macam apa itu!
di setiap larik, kafka istirahat: merokok, berkipir dan mungiliti kata-katanya.
siapa tahu dibalik kulit ada daging makna yang bisa ia masak untuk puisi ini.
lalu pada saat ia berhenti di perempatan kata uang dan manusia –kafka
gelisah, marah-marah dan berpuisi: manusia dan uang adalah sepasang
kekasih setan, mereka saling membutakan mata bila tak mampu saling mengendalikan.
uang adalah jalan menuju neraka paling terang. karena dengan uang manusia
gampang menukar-membeli kasih-sayang, kebohongan dan kejujuran. uang
juga mampu melipat cinta pada ibu dan ayah sekalipun, hanya dalam satu
lipat ketidakpedulian.
memang:
tak ada yang mustahil dalam uang. sebab uang layaknya
raja yang sangat di hormati oleh penduduknya. bahkan uang
adalah tuhan-surga baru yang diidam-idamkan oleh setiap
makhluk mesin. oleh setiap manusia buta.
10
setiap detik –kata saling berpelukan di udara. tak kenal musim
dan cuaca. sebab segalanya adalah bara cinta. selalu kaleng-kaleng
waktu yang kosong, kita isi dengan gumam-gumam kecil dan nakal,
atau desah cinta yang terlalu kanak berciuman setiap kafkaku mengajakmu
menaiki tangga khayali ketidakwarasan.
ketika kau-aku kemabukan bahagia di malam lengang dalam telepon.
mulut kita bagai burung condet pada suatu pagi: berkicauan dengan
berbagai variasi bunyi yang timbul dari karnaval berita pemerkosaan,
pelecehan seksual, corona dan tentang hidup kita yang sama-sama
mengenyam derita nasib yang sama.
*** 2020
Norrahman Alif lahir di Jurang Ara –Sumenep –Madura. Menulis puisi dan resensi di Lesehan Sastra Yogyakarta. Beberapa karya saya bisa dinikmati di: Media Indonesia, Republika, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Rakyat Sultra, Tempo, Padang Ekspres dll. Buku puisi terbarunya “Mimpi-Mimpi Kita Setinggi Rerumputan” (sublimpustaka-2019).