Judul Buku: Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982 (82년생 김지영)
Pengarang: Cho Nam-Joo
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2019 (Cetakan Pertama)
Tebal: 192 halaman

Sebagai penggemar musik dan drama Korea -populernya Kpop, Kdrama, atau drakor (drama Korea)- saya selalu merasa ‘bebas’ saat menikmati karya-karya tersebut. Saya pernah berpikir, ‘Wah, pasti Korea Selatan itu negara yang bebas sekali, ya.’ Tanpa melihat gender dan identitas, semuanya dapat mengekspresikan diri melalui seni. Pantas saja, sekarang karya seni atau dunia hiburan mereka disorot dunia. Dari Kpop dengan berbagai macam boyband, girlband, dan solois per generasi, sampai drakor yang terus laris dengan tema yang beragam.

Lalu industri filmnya yang memukau, sampai-sampai Parasite, film asal negara ginseng tersebut dianugerahi Piala Oscar.’ Tapi, ternyata di balik ‘kebebasan’ yang saya lihat itu, masih banyak orang Korea sendiri yang tidak merasa bebas dalam menjalani hidupnya, salah satunya adalah kelompok perempuan.

Faktanya kelompok perempuan di Korea Selatan hanya mendapatkan 63% dari penghasilan laki-laki, dan menurut OECD (Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi), negara ini juga memiliki persentase kesenjangan penghasilan berbasis gender tertinggi di dunia. Dengan PDB per kapita US$ 31.637,300 (2020) ternyata Korea Selatan masih memiliki isu-isu kesenjangan gender seperti di Indonesia, yang PDB per kapita jauh di bawah negara tersebut (US$ 3.917,087 di tahun 2020). Pasti banyak orang, termasuk saya, yang tertanya-tanya kenapa negara yang sudah ‘lumayan’ sejahtera secara ekonomi ternyata masih menderita kesenjangan gendernya.

Dan kesenjangan gender itu terkisahkan lewat buku ‘Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982’ karya Cho Nam-Joo. 

Tokoh utama dalam kisah ini bernama Kim Ji-Yeong, perempuan yang memiliki satu kakak perempuan dan satu adik laki-laki. Sejak kecil ia sudah melihat bagaimana adik laki-lakinya diutamakan dalam keluarga. Seperti saat neneknya marah karena dia minum susu formula milik adik laki-laki itu. Atau ketika makan bersama, maka adiknya pasti mendapatkan potongan makanan yang sempurna dan penuh sedang Kim Ji-Yeong dan kakak perempuannya cuma mendapat sisa atau potongan yang berantakan.

Kim Ji-Yeong dan kakaknya juga dibiasakan untuk mengalah dan menjadi ‘duet’ yang memakai segala macam barang bersama dengan alasan mereka perempuan. Kontras dengan adik laki-lakinya yang punya barang-barang sendiri, termasuk kemewahan kamar sendiri. Merasa masih terlalu kecil dan tidak mengetahui apa-apa, Kim Ji-Yeong diam.

Memasuki masa remaja, Kim Ji-Yeong mengalami dan menyaksikan peristiwa yang mengganggunya, juga mengganggu teman-teman perempuannya, di sekolah. Ternyata diskriminasi gender bukan hanya terkungkung di dalam rumah.

Jadi ada peraturan berpakaian yang timpang antara siswa laki-laki dan perempuan di sekolah. Siswa perempuan diharuskan memakai pakaian yang sangat tertutup dan menghambat mereka yang ingin berolahraga sangat kesulitan dan tidak nyaman. Tetapi laki-laki dibebaskan memakai seragam yang lebih longgar, tanpa aturan-aturan seperti untuk siswa perempuan.

Atau saat dirinya dilecehkan oleh laki-laki yang ia temui dalam perjalanan pulang ke rumah, hanya karena laki-laki itu geer dan menganggap perilaku Kim Ji-Yeong yang bersahabat menandakan Kim Ji-Yeong menyukainya. Pada peristiwa ini, Kim Ji-Yeong akhirnya mulai minta pertolongan orang lain, namun lagi-lagi ia harus diam karena banyak orang Korea Selatan merasa hal-hal yang dialaminya adalah wajar dilakukan laki-laki.

Justru Kim Ji-Yeong yang seharusnya mencegah hal tersebut, seperti di banyak negara konservatif lain bahwa perempuan yang menggunakan rok mini adalah perempuan yang boleh dilecehkan. Rok mini bukan pilihan bebas seorang perempuan dalam ekspresi diri tapi dianggap oleh kaum laki-laki sebagai ‘ajakan’.

Kata-kata yang menuding dia itu bahkan keluar dari mulut ayahnya sendiri, “Mengapa bimbingan belajarmu sangat jauh?” “Mengapa kamu berbicara dengan orang asing?” “Mengapa rokmu begitu pendek?” tanyanya. Pertanyaan-pertanyaan yang terkesan umum-umum saja, tetapi sebenarnya miris untuk dilontarkan pada kaum yang jelas-jelas menjadi korban dalam kasus pelecehan seksual.

Sampai saat Kim Ji-Yeong sudah menjadi seorang wanita dewasa, ia masih harus menghadapi perilaku tidak adil dan tidak mengenakkan dari rekan-rekan kerja. Dimulai dengan lingkungan kerja yang tidak memberikan kesempatan baginya untuk berkontribusi dalam suatu proyek, hanya karena dia seorang perempuan, yang pekerjaannya akan terganggu karena hamil. Juga bahwa perempuan tidak berkomitmen pada kerjaan di kantor karena lebih memilih untuk mengurus keluarga.

Dan ketika sudah dewasa sekalipun, masih ada ‘tekanan stereotip’ dari keluarganya: agar cepat-cepat hamil. Urusan kehamilan bukan semata keputusan Kim Ji-Yeong dan suaminya, Jung Dae-Hyun, tapi urusan semua anggota keluarga besar, yang memojokkan Kim Ji-Yeong.

“Dia terlalu tua.” 
“Dia terlalu kurus.”
“Tangannya dingin… Dia pasti punya sirkulasi yang buruk.”
“Jerawat di dagunya adalah pertanda dari uterus yang tidak sehat.”

Semua hal itu didengar langsung oleh Kim Ji-Yeong, yang hanya bisa terdiam berulang kali tanpa belaan siapapun. Tidak seperti di depan banyak orang, maka di depan suaminya Kim Ji-Yeong cukup nyaman untuk berbicara dan berpendapat. Setelah ‘diinterogasi’ oleh keluarga suaminya, ia pun protes dan marah pada Jung Dae-Hyun karena tidak membelanya. Maka Jung Dae-Hyun akhirnya memilih ‘berbeda’ dari keluarganya untuk memihak istri. Keberpihakan Jung Dae-Hyun membuat Kim Ji-Yeong cukup nyaman dan mulai bersuara tentang hal-hal yang ia suka dan tidak suka. Sayangnya, ternyata hal itu tidak cukup untuk menghapus ratusan hal yang tidak mengenakkan lainnya, yang bertumpuk-tumpuk dalam pikiran dan ingatan Kim Ji-Yeong.

Pasca melahirkan anaknya, Kim Ji-Yeong mulai berperilaku aneh. Ia tidak diam lagi tapi mulai berbicara dan menyatakan pendapatnya dengan keras pada banyak orang, tidak hanya di depan suaminya. Ia mengungkapkan pendapatnya dengan lugas, tetapi bukan sebagai dirinya, melainkan sebagai orang lain. Di depan Jung Dae-Hyu, ia pernah berbicara seakan-akan dirinya adalah ibunya, lalu juga sebagai mendiang temannya. Di waktu lain ia muncul sebagai mendiang neneknya.

Seluruh keluarga Kim Ji-Yeong kaget, melihat sisi lain Kim Ji-Yeong. Setiap ‘fenomena’ atau ‘episode’ aneh itu selesai, maka Kim Ji-Yeong bertingkah seperti biasa lagi dan tidak mengingat apa pun. Suaminya khawatir dan mulai mencari tahu apa yang terjadi pada istrinya, sambil menyembunyikan ‘episode’ aneh itu dari Kim Ji-Yeong.
***

Kisah Kim Ji-Yeong merupakan satu dari banyak kisah perempuan lain di dunia, yang harus berjuang setiap harinya melawan konstruksi sosial yang tergerus budaya patriarkis. Kim Ji-Yeong adalah kami, perempuan yang selalu berusaha menjalankan kewajibannya dengan baik, bahkan ketika kewajiban-kewajiban tersebut lebih berat dari yang seharusnya kami alami. Kim Ji-Yeong adalah kami, perempuan yang ingin bermimpi tinggi, di tengah suara-suara yang berusaha membatasi mimpi tersebut.

Ia mengorbankan mimpi untuk melanjutkan profesinya setelah melahirkan, juga menerima ungkapan dan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan ketika belum ingin punya anak, dan menjadi pihak yang disalahkan ketika sesuatu terjadi pada keluarganya. Kim Ji-Yeong sejak kecil sudah dipaksa menerima perlakuan tidak adil dan dianggap sebelah mata. Meskipun berusaha sekeras untuk memuaskan semua orang, terkadang ia tidak mendapat hak-hak paling dasar di hidup ini. Kim Ji-Yeong adalah kami, perempuan yang seringkali didiamkan, tetapi sejatinya tidak pernah berdiam diri dalam pikirannya.

Kisah fiski Cho Nam-Joo ini mengangkat isu sosial klasik: diskriminasi gender yang sudah lama ada tetapi masih relevan untuk dibahas di masa kini. Kim Ji-Yeong seperti menjadi bagian dari gerakan #MeToo yang memperjuangkan hak-hak perempuan korban pelecehan seksual, sejak tahun 2006 sampai sekarang di berbagai negara, termasuk Korea Selatan. Pelecehan seksual merupakan satu dari sejumlah dampak negatif budaya diskriminasi gender yang dialami perempuan. Diskriminasi gender yang membuat banyak perempuan yang tak terhitung jumlahnya harus merasa sesak tak henti, ketika aksi-aksi merendahkan dan meremehkan diri mereka sebagai manusia terus dilanggengkan dari generasi ke generasi.

Dan Cho Nam-Joo berhasil mengangkat isu tersebut lewat storyline yang mengutamakan kehidupan sehari-hari Kim Ji-Yeong. Dalam satu wawancara, dia suatu kali mengaku, “Hidup Kim Ji-Yeong tidak banyak berbeda dengan kehidupan saya dulu.”

Sejak kecil Kim Ji-Yeong sudah menghadapi diskriminasi gender dan mengungkapkan masalah itu akan membuat ia dianggap ‘berlebihan’. Juga di sekolah dan di tempat kerja. Pilihan atau pertanyaan: ‘karir atau keluarga?’ selalu ada di depan mukanya, yang disebut Najwa Shihab sebagai “.. pertanyaan itu sejak awal sudah menempatkan posisi perempuan seolah-olah tak berdaya.”

Kim Ji-Yeong jelas lebih dari mampu dan layak untuk masuk dalam tim kerja yang ia inginkan, tetapi dia adalah seorang perempuan jadi tidak dipilih. Ia juga menyaksikan bagaimana atasan perempuannya menerima perilaku yang tidak pantas, bukan karena tidak mampu memimpin suatu proyek tetapi karena divonis meninggalkan anak demi pekerjaan. Miris, bukan? Memilih pekerjaan salah, memilih keluarga pun salah.

Oleh sebab itu saya -sama seperti Najwa dan jutaan perempuan lain di dunia ini- bingung kenapa kami diharuskan memilih antara karir atau keluarga? Mengapa pula pertanyaan sulit ini hanya dilontarkan ke perempuan, bukan laki-laki yang faktanya turut berkontribusi dalam keputusan kepemilikan anak?

Buku yang kontroversial ini juga berhasil menggambarkan suami Kim Ji-Yeong -Jung Dae-Hyu- sebagai pihak yang terdampak pula dari lingkungan yang tidak ramah perempuan. Jung Dae-Hyu digambarkan takut, kalut, dan khawatir akan ‘hilangnya’ perempuan yang menjadi istri dan ibu dari anaknya akibat ‘episode’ aneh yang tiba-tiba datang. Ia pun pergi mencari jawaban ke internet, dan teman-teman terdekatnya, sampai ke psikiater. Bagian ini menunjukkan keberhasilan Cho Nam-Joo menggambarkan diskriminasi gender yang ternyata menghasilkan banyak korban, bukan hanya Kim Ji-Yeong, tetapi juga suami dan keluarganya yang lain.

Terbit tahun 2016, buku ini sudah mencatat pencapaian dua tahun kemudian, pada 2018, sebagai buku Korea Selatan kedua yang mampu menembus angka penjualan satu juta di seluruh dunia. Saya kira salah satu kekuatan buku ini adalah menegaskan hubungan pernikahan yang seharusnya, yang membutuhkan kerja sama suami dan istri dalam mengelola rumah tangga walau kenyataannya tidak selalu demikian. Dan Cho Nam-Joo memberi konteks dengan penjelasan tentang hukum maupun kebijakan pemerintah Korea Selatan yang singkat tetapi cukup jelas.

Memang perpindahan periode tahun dalam kisah buku ini sedikit membingungkan. Terkadang, saya belum merasa selesai melihat kehidupan Kim Ji-Yeong di periode tahun tertentu namun sudah melompat ke kisah pada periode tahun yang lain. Seperti kisah Kim Ji-Yeong di kantornya yang terasa belum selesai dan tiba-tiba pembaca dibawa ke periode ketika dia di sudah memiliki anak dan tidak bekerja lagi. Perpindahan yang terlalu cepat tetapi masih bisa ditoleransi dengan alur ceritanya yang memang memfokuskan pada kehidupan Kim Ji-Yeong di masa sekarang, yang sedang mengalami depresi pasca melahirkan, dan juga mengalami ‘keanehan’ yang disaksikan keluarganya. 

Meskipun begitu, perpindahan periode tahun seperti menegaskan masa kini Kim Ji-Young merupakan dampak dari masa-masa lalunya. Dan kisah fiksi, yang sepertinya merupakan kenyataan bagi banyak perempuan, ditutup dengan awal baru bagi Kim Ji-Yeong yang berani mengambil langkah untuk menerima kondisinya sekarang, dan sekaligus ingin mencintai dan menghargai dirinya sendiri lebih baik lagi. Sebuah kebijakan yang mungkin hanya mampu dijalani kaum perempuan.

Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982 memicu kontroversi dan aksi penolakan. Bukan hanya kisahnya yang dikecam, juga orang-orang yang terkait dengan buku itu, seperti aktris utama dalam film adaptasi buku ini, Jung Yu-Mi. Dia diserang dengan banyak komentar kebencian di akun media sosialnya. Juga beberapa penyanyi maupun artis perempuan yang secara terbuka membaca buku ini maupun mendukung rilis adaptasi filmnya. Mereka semua terbawa menjadi sasaran hujatan massal, seperti Bae Suzy dan Irene dari girlband Red Velvet.

Bahkan sempat ada penggalangan petisi untuk melarang penayangan film Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982, termasuk rencana-rencana berbagai pihak untuk memberikan rating buruk atas film adaptasinya, bahkan ketika film itu belum dirilis. Reaksi negatif yang menunjukkan banyak kaum misoginis yang merasa terancam karena semakin banyak orang yang membaca (dan menonton) kisah ini, maka semakin banyak pula orang yang terbuka pemikirannya: hahwa tidak semua budaya benar dan tidak semua kebiasaan harus dilanggengkan. 

Kim Ji-Yeong adalah kami. Sejak sebelum kelahirannya tahun 1982 sampai sekarang, kisah-kisah Kim Ji-Yeong tampaknya akan terus hidup dan disebarkan, sehingga semua mata, mulut, telinga dan hati akan mulai terbuka. Dengan harapan semakin sedikit pula perempuan yang tersakiti, terpinggirkan, dan tersingkirkan karena identitas gendernya. Sebaliknya, semakin bertambah pula pihak yang berani bersuara dan bergerak untuk merubah sistem diskriminasi maupun patriarki yang sudah mengakar di dunia ini.

Dengan lebih banyaknya Kim Ji-Yeong yang bersuara di berbagai keluarga, kantor, sekolah, kampus, dan tempat-tempat umum lainnya, maka dunia akan menjadi lebih ramah untuk perempuan.

Begitulah semestinya.
***

Samantha Yohana Blessya, lahir di Jakarta. Suka berimajinasi dan menulis sejak kecil. Penikmat musik, film/serie (terlebih rilisan Korea dan Disney), juga komik dan buku-buku non fiksi. Masih belajar menulis banyak hal dan sekarang kuliah di Universitas Brawijaya, Malang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *