Pada akhirnya aku harus memilih satu di antara mereka yang melamarku! Kutulis dalam statusku.
“Ooh.. haruskah kuucapkan selamat padamu?” aku diam. Respon pertama.
“Semoga sakinah dan bahagia,” respon lainnya.
Setelah beberapa saat, dua, tiga, dan seterusnya akhirnya mampir respon yang kutunggu. Aku diam. Menunggu lanjutannya. Kamu diam, kita saling diam. Ada tawa yang menunggu meledak. Aku menahannya.
Suara SunWoo, dering hapeku, menuntaskan penantianku. Salman! Senyum kemenangan terlukis di wajahku. Kuangkat.
“Kamu benar-benar akan menerima salah satu lamaran itu, Ay?” sapaanya. “Memangnya ada berapa yang melamarmu, hingga kamu sampai harus memilih?” suara itu terdengar meresah. Kuabaikan resah itu.
“Tiga,” sahutku pendek. Diam sesaat.
“Kamu akan memilih salah satu dari mereka?” suara itu meragu.
“Ya,” sahutku.
“Sebelum kamu ambil keputusan, bisakah kita bertemu?” mulai terdengar frustasi.
“Kapan? Jangan terlalu lama, mereka butuh jawabanku secepatnya…” sahutku mengambang.
“Malam ini aku turun, kita ketemu besok pagi. Pagi ya Ay!”.
“Baiklah. Aku tutup telponnya ya?” kataku, minta ijin. Diam. Kutunggu.
Bleep! Terdengar suara hape dimatikan.
Ah, seharusnya kamu tidak benar-benar mematikan hapemu, keluhku sedikit kesal. Aku kangen!, gerutuku. Sebenarnya aku ingin tertawa saat Salman menelpon. Tapi keinginanku bertemu dengannya untuk sesaat mengalahkan tawaku.
***
Hubunganku dengan Salman memang bukan hubungan biasa. Tuhan tidak sungguh-sungguh mengirim dirinya untuk menghiburku, ia seolah hanya bertugas mengalihkan kesedihanku. Hanya mengalihkan saja. Karena setelah itu kesedihan yang lebih parah akan mengurung. Aku memang payah dalam mengendalikan perasaan. Kupikir, aku terlalu mudah baper.
Tanpa tahu rencana apa yang tengah bergulir indah dalam hidupku, aku hanya menunggu urutan takdir. Saat terjeda oleh waktu, seorang Salman Amar menerobos pintu takdirku yang sedikit terbuka oleh matahari yang tengah berbagi pelukan hangatnya. Aku sedikit terhenyak ketika ia menyapaku. Sapaan berikutnya membuatku merasa bersemangat hingga menunggu ia menyapa lagi dan lagi. Dari terlalu excited menjadi sakit. Seperti itulah perasaanku terhadapnya. Bertunas, berkembang dan pada saatnya harus tumbang.
Fatih, suamiku telah ‘dipanggil pulang’ oleh Yang Maha Memiliki. Aku masih saja ingkar bahwa kepergiannya nyata. Aku belum sepenuhnya bisa melepas perginya. Saat itulah hadir Salman, penulis yang pernah jadi idolaku di masa lalu.
Pada awalnya aku risih karena ia bukan saja seorang ayah, juga masih seorang suami. Walaupun tak kupungkiri aku merasa nyaman tapi aku pula enggan bertemu. Meski aku tak takut jatuh cinta padanya tapi aku tak ingin jatuh cinta lagi.
Ah kenapa Salman? Sosok yang bahkan bayangannya, dulu, tak pernah sekalipun mlipir dalam kehidupanku. Ia hanya pernah singgah belaka. Di tempat dan waktu yang sama, kami ‘hanya pernah’ berjumpa tanpa menyapa.
Di benakku muncul wajah Salman tiga puluh satu tahun lalu. Laki-laki berkulit cerah, berambut ikal, tinggi, bermata ramah berwajah dingin dan seenaknya. Saat itu aku kelas dua SMA, ia mengajar di SMP tetangga. Karena letak gedungnya bersebelahan dengan sekolahu, kami saling bertemu tanpa rasa ingin tahu. Kegemaranku membaca membuatku ingin tahu tentang Salman Amar, seorang guru, jurnalis, dan penulis, yang namanya sering menghiasi media. Aku hanya tertarik pada karya-karyanya.
“Seandainya saat itu kau ajak aku pacaran, saat ini kamu pasti jadi istriku,” kata Salman malam itu. Yakin banget ia ngomong. Aku tertawa geli, membayangkan betapa konyol kata-kata yang baru saja ia lontarkan. “Kamu masih punya suami, aku masih hidup,” Ah, benar-benar tambah gak jelas dia.
“Kenapa waktu tak kau tulis saja di punggungmu : Sedang mencari pacar anak SMA.”
“Kamu akan daftar ya, Ay?” aku tergelak pelan.
“Mungkin saja tidak.”
“Kenapa?” tanyamu sedikit memaksa.
“Karena aku tidak mengenalmu waktu itu,” sahutku.
Benar-benar manusia dengan penuh kemustahilan. Begitulah Salman. Hampir tiap hari ia menyapaku, hingga kami kecanduan. Aku terhibur dengan sikapnya yang sembrono, kata-katanya yang bagai tanpa filter. Kami tidak bertemu, tapi ia meyakini suatu hari kami akan bertemu. Seperti biasa ia yakin sekali dengan kata-katanya. Membuatku menantikan hal itu dan semua mengalir tanpa kusadari.
Hingga aku penasaran dengan takdirku. Apa jadinya jika kami benar-benar bertemu. Seperti apa ia sekarang. Aku benar-benar penasaran. Aku tak tahu, kenapa ia merasa terpancing dengan statusku.
Padahal status itu adalah keputusan yang harus kuambil untuk memilih satu dari tiga perusahaan yang melamarku, memintaku bergabung dalam tim mereka. Dua perusahaan IT dan satu perusahaan rintisan di bidang seni kreatif. Pada akhirnya toh aku harus memilih. Rupanya Salman menangkap hal lain di balik kata ‘memilih’. Berpikir seperti itu membuatku tersanjung karena merasa ada yang peduli.
Apapun yang memaksa Salman untuk menemuiku, aku excited. Karena aku lebih merasakan penasaran yang sesungguhnya. Apa yang akan terjadi ketika kami benar-benar bertemu! Banyak hal yang membuatku bertanya-tanya, takdir seperti apa yang akan Engkau gulirkan?
***
2. Solitude (Salman)
“Ay, maaf, aku belum bisa menemuimu saat ini. Kuharap kau tak menanyakan alasannya.”
Ayyara menatap layar hapenya tanpa berniat membalas pesan tersebut. Gurat gusar berkilat di matanya. Hanya sejenak, di detik berikutnya ia telah memesan Espresso! Ia berusaha maklum, dengan menyadari keadaan dirinya. Meski mengharap pertemuan dan sempat berharap lebih. Sambil meringis menahan pahit espresso, Ayyara tersenyum.
“Ternyata espresso pagi ini lebih pahit dari hidupku,” gumamnya getir tanpa getir.
“Aku tunggu di Eden, lantai dua…” pesan Ayyara pada Salman. Pagi itu perasaannya melarang pergi, tapi ia ingin mencoba seberapa tepat perasaan itu berpihak padanya. Seharusnya ia mempercayai hatinya, Ah, sudahlah. Ayyara membuang nafas, mencoba lega.
Sepasang mata legam mengikuti semua gerik Ayyara. Lelaki tampan berbadan tinggi, berambut ikal, berusia matang dan mapan. Telah beberapa jam ia duduk di sudut ruang pribadi berdinding kaca satu arah, sepertinya tengah menunggu seseorang. Iapun sempat sarapan di sana. Salman Amar!
Lebih baik kau anggap aku bajingan sekarang, daripada kau anggap aku pecundang esok harinya. Aku akan menerimanya Ay. Bila kita tetap memaksa bertemu, aku khawatir, kamu akan terluka dan membenciku. Untuk sementara, biarlah seperti ini, berkesan bahwa akulah yang jahat padamu. Lebih baik begitu.
Aku sudah jatuh cinta padamu, aku tak ingin berbuat lebih jauh dan aku ingin melindungimu. Aku ingin dirimu tetap sebagai perempuan baik seperti di awal kita kenal. Aku akan berusaha menjagamu, karena itu aku akan menjauh secara pelahan, hingga kau lupa bahwa kita pernah dekat.
***
“Apakah ajakanmu masih tetap berlaku, Sal?” tanyamu. Aku ingin mengajakmu ke perkebunan teh. Kau tolak ajakanku yang pertama, kembali kutawarkan ajakan ke sekian kali dan lagi-lagi kamu berdalih, yang intinya menolak bertemu.
“Ya masihlah.. aku ingin mengajakmu menikmati sejuknya pegunungan. Di bawah pasti panas dan kamu butuh refreshing juga”.
“Sudah pernah update tempatnya?” tanyamu kembali
“Belum…” Suaraku meragu. “Beberapa kali ke sana buat latihan teater, ketika mahasiswa dulu. Entahlah seperti apa sekarang tempatnya, tapi kita bisa googling keadaan sekarang,” suaraku sedikit menghibur, sedikit merayu. Kamu diam. Pasti lagi searching.
“Tak adakah opsi lain?”
Aku tersenyum membayangkan wajah engganmu.
“Ke pantai panas. Lagipula di tempatmu mana ada pantai? Atau kita ke Jogja saja ya, Ay, banyak pantai di sana” kataku memberi opsi. Kamu hanya tertawa tak menanggapi. Intinya, kamu masih keberatan aku ajak jalan. Aku maklum, kenapa kamu terkesan sangat hati-hati memutuskan sesuatu. Bahkan ketika aku mengajakmu untuk sekedar makan siang.
“Tak bisakah aku mengajakmu makan siang, Ay?”.
“Maaf, belum bisa, Sal.”
“Kalo hanya jalan saja, Ay?” kejarku.
“Jalan kan capek, Sal…” sahutmu enteng.
“Gak bisa ya?”
“Belum bisa!” sahutmu enggan.
Pada akhirnya aku menyerah, kuanggap kamu merasa terganggu dan kamu tak suka. Kamu tak pernah menyapa lebih dulu padaku.
“Sepertinya kamu terganggu dengan sapaan-sapaanku, Ay. Bener gak?” tanyaku.
“Sebenarnya bukan seperti itu, Sal. Akulah yang khawatir akan mengganggumu,” kamu menjelaskan dengan suara terdengar sungkan.
Maaf Ay, aku sedikit salah menilaimu. Hubungan kita jalan di tempat, perasaanku berkembang pesat. Ada rindu yang tak semestinya dan rasa yang tak seharusnya. Semua bergerak cepat saling berebut menyalip untuk selalu di depan. Seperti iklan motor.
Benar!
Ternyata kita saling menyimpan rasa. Kamu lebih terbuka dengan perasaanmu. Salah satu hal yang aku suka dari sekian banyak hal yang membuatku jatuh cinta padamu dalam sekejap. Sementara aku tak pernah terbuka bila tentang hatiku, karena memang ada yang membuatku harus memberi jarak pada hatiku untukmu.
“Kamu terus terang sekali, Ay, tapi jujurkah itu dari hatimu?”.
“Entahlah. Sepertinya, kamulah yang lebih dulu mengatakan itu..”.
Aku mencoba mengingat-ingat kata rindu pertama yang kita ucapkan. Kamu mengingatnya, aku tak begitu ingat. Aku mencoba berdalih, mungkin karena aku mulai tua, meski aku tahu, bahwa akulah yang memulai kata rindu itu. Tapi sengaja kubuat seolah-olah kamulah yang merindukanku meski rindu itu sesungguhnya milikmu. Rinduku itu kamu!
“Tolong ingatkan aku akan banyak hal tentang lupa…” pintaku suatu malam. Kamu tak pernah mengiyakan dan tak pernah mengingatkan aku akan banyak hal lupa. Kamu hanya diam.
Aku merindukanmu.
Sungguh!
***
April 2021, menunggu selesai Idul fitri
Menunggu hal yang tak pernah terjadi.
Ingin terjadi, tapi khawatir bila itu terjadi
Ann Fathu diambil dari namaku dan Alm suamiku (Anna dan Fathu Rohman) yang menjadi nama penaku, di dunia lamaku yang baru. Menulis! Cerpenku pernah muncul di koran lokal Semarang (Suara Merdeka) untuk cerita mingguan anak-anak. Ikut beberapa projek keroyokan Antologi Puisi oleh penerbit indie dan komunitas literasi. Lahir di Semarang, 23 November. Kembali jadi ibu rumah tangga setelah 20 tahun basah kuyup di dunia Informasi dan Teknologi, dari admin, marketing, manajer, hingga pemilik. Saat ini tengah akrab dengan dunia kreatif ibu-ibu dan pernikahan (WO). Berputra tiga yang semuanya sudah dewasa.