Mengenang Carmel Budiardjo: London 18 Juni 1925 – London 10 Juli 2021

Musim panas 1995, saya mendarat di London, tempat yang asing. Memang setahun sebelumnya saya bersama istri jalan-jalan menjadi turis yang cuma berkunjung ke tempat-tempat wisata di permukaan kehidupan keseharian warga London. Tapi kunjungan kedua adalah untuk tinggal dan bekerja, sama seperti warga London lainnya.
Carmel Budiardjo adalah yang pertama saya tuju. Setahun sebelum mendarat di London saya bertransformasi dari jurnalis profesional menjadi jurnalis aktifis, setelah media tempat saya kerja, Tempo, dibredel rezim jahat Soeharto. Saya ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen AJI, yang terang-terangan nekad melawan korupsi dan kesemenaan Orde Baru. Carmel, di seberang lautan di London, adalah pendukung penting AJI.
Nama Carmel dan LSM-nya, Tapol, sering disebut dalam rapat-rapat AJI di apartemen sempit di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Beberapa kawan yang suka teori konspirasi atau yang ekstra hati-hati tak suka AJI dikait-kaitkan dengan Carmel, musuh utama pemerintahan Soeharto. Saya cuma aktifis baru yang bersemangat tinggi dan, amat yakin, dengan tujuan sakral AJI: ‘kebebasan pers’. Terserahlah mau dicap komunis, sosialis, pengkhianat negara, pemberontak, atau antek-antek liberalis.
Maka pada musim panas 1995, ketika istri dan anak belum tiba di London, bertemu Carmel menjadi prioritas.
***
Suasana terasa agak tegang di rumah Carmel yang merangkap kantor Tapol, di pinggiran London. Biasalah, jurnalis muda dan aktifis ingusan bertemu dengan tokoh hak asasi yang konsisten memperjuangan hak-hak tahanan politik PKI, yang divonis Soeharto sebagai pendosa berbahaya bagi bangsa dan negara. Ditambah lagi dengan sosok Carmel yang serius dengan perhatian terfokus pada isu hak asasi. Untung ada Liem Sio Liong, pegiat Tapol lainnya, yang lebih santai dan sesekali bercanda mengejek-ngejek beberapa pejabat Orde Baru, antara lain, sudah pasti, Menteri Penerangan Harmoko.
Menyambut kedatangan saya pada malam di musim panas itu, tersaji santapan kari India yang banyak, beragam, dan enak. Ketika saya berkomentar enak, barulah tahu kari itu, seperti kata Carmel, dipesan menyambut kedatangan saya dari restoran India. Saya pun geer dan Liem bercanda menambahkan, ‘Jadi tidak setiap malam seperti ini Bung.”
Bukan kari enak yang membekas paling kuat pada malam itu tapi hardikan Carmel. Dia marah karena saya selalu merujuknya sebagai Bu Carmel. “Jangan panggil saya Bu Carmel!” bentaknya dengan suara keras di sela makan malam enak itu, dengan bahasa Indonesia yang kaku dan wajah yang lebih serius lagi. Dia rupanya amat tersinggung dengan sebutan ‘Bu’ yang maksud saya -orang Indonesia yang baru mendarat di London beberapa hari- jelas menghormati orang yang lebih tua.
***
Setelah makan malam dengan hardikan keras itu, saya masuk ke tepi lingkaran Carmel yang luas. Saya disuruh memberi masukan kepada staf anggota seorang parlemen Inggris yang akan menulis laporan tentang kebebasan pers di Indonesia, diminta jadi salah satu pembicara dalam diskusi di SOAS tentang Timor Timur -waktu itu masih dalam masa perjuangan untuk pisah dari Indonesia- hadir dalam beberapa diskusi hak asasi dengan pembicara yang tak saya kenal.
Juga main ke kantor baru Tapol di pusat kota London -walau cuma sebentar- termasuk jadi penggembira yang meramaikan acara-acara Tapol lainnya, entah itu HUT Tapol atau pemutaran film. Saya sempat pula ikut beberapa kali rapat umum tahunan Tapol, bukan sebagai pengurus tapi masuk dalam -istilah kami untuk menjustifikasi kehadiran saya dan dua tiga orang lainnya- Friends of Tapol atau Kawan-kawan Tapol.
Lewat Tapol saya jadi mengenal banyak pegiat Timor-Timur yang pada pertengahan 1990-an menjadi isu penting buat Tapol, selain soal tahanan politik, Aceh, dan Papua. Ada kawan dari Timor Timur yang jadi menteri dan diplomat di masa kemerdekaan Timor Leste, ada juga pegiat asal Australia yang belakangan menikah dengan Bapak Menteri itu, maupun pegiat Inggris yang menikah dengan orang Indonesia. Banyak pula pegiat dari Aceh maupun Papua yang berkunjung atau bersekolah ke Inggris yang saya kenal di Tapol.
Saya, terus terang, sebenarnya ikut-ikutan saja karena isu sakral saya adalah kebebasan pers, sementara perjuangan mereka terkait dengan hidup mati. Cuma Carmel sudah terlanjur menjadi panutan saya.

Di tingkat praktis saya masuk rota untuk menyiapkan pengiriman buletin Tapol dan buletin isu lingkungan, Down to Earth. Ada masanya, para donatur lebih suka menyalurkan dana untuk kampanye lingkungan maka digaraplah isu lingkungan oleh Tapol. Jadi saya mengenal teman-teman Carmel yang lebih meluas lagi, bukan para pegiat ‘serius’ tapi sukarelawan non-politis dan non-ideologis yang sekedar membantu Carmel.
Biasanya rota di akhir pekan itu hanya dengan satu orang lain dan kami berdua duduk di meja makan untuk memasukkan buletin Tapol atau Down to Earth ke amplop dan menempelkan perangko, sambil ngobrol macam-macam yang bukan soal hak asasi, lingkungan atau Indonesia. Carmel sendiri tak duduk bersama kami, selain menyapa sebentar jika memang sedang tidak berkegiatan.
Di situlah saya pertama kali mengenal salah seorang sahabat Carmel, ibu guru sekolah di London Timur, yang saya lupa namanya. Belakangan ketika Carmel semakin tua dan butuh teman untuk bepergian ke luar rumah, ibu guru SD itulah yang selalu menjadi pendampingnya. Juga ketika Carmel kedatangan tamu yang bukan urusan kerja, maka ibu guru itu yang membantu menambut tamu, seperti menyiapkan teh dan beres-beres lainnya.
Sesekali kami atur nonton film bareng atau ngobrol bersama beberapa kawan sesama Indonesia yang berani dekat dengan Carmel dan Tapol, seperti pendiri lain AJI yang juga pindah ke London, Lenah Susianty, dan budayawan pegiat yang sudah balik ke Yogyakarta, Bramantyo Prijosusilo. Saat kumpul-kumpul itu Bram pernah menegaskan keyakinannya bahwa selama belum ada penyelidikan atas pembunuhan umat Islam di Tanjung Priok 1984 maka tidak akan pernah ada penyelidikan atas pembantaian massal 1965. Mana mungkin orang Indonesia lebih peduli sama pembunuhan komunis dibanding pembunuhan umat Islam, asumsi Bram.
Carmel, selalu, merupakan pendengar yang baik bukan cuma keras berpendapat saja. Dia terima keyakinan Bram tapi menegaskan pembantaian massal 1965 dan penahanan ratusan ribu orang tanpa pengadilan -termasuk Carmel sendiri masuk penjara selama tiga tahun- harus tetap diingat sebagai kejahatan negara. Keyakinan yang merasuk kepada saya bahwa pemerintah Indonesia entah masa kapanpun tidak akan pernah menggelar penyelidikan, apalagi rehabilitasi, korban 1965 tapi harus tetap diingat dan diteruskan ke generasi berikut: bahwa pada satu masa rezim Soeharto membunuhi rakyatnya sendiri.
***

Walau cuma masuk ke tepi lingkaran Tapol, pelan-pelan saya punya peluang untuk mengenal Carmel yang bukan pejuang hak asasi, tapi orang baik yang hangat dan perduli orang lain. Jauh dari kampung, saya juga pingin kedua anak punya ‘ompung’ atau nenek yang dekat, yang bisa disalam, yang bisa diajak ngobrol. Ada beberapa sesepuh Indonesia lain di London, cuma repotnya hampir semua ‘patronising’ dengan semangat superioritas lebih berpengalaman dan lebih lama hidup di London sambil menerapkan ukuran benar dan baik untuk hidup di tanah rantau.
Carmel tidak. Dia mendengar, bertanya, dan tak memberi nasihat walau menjawab dengan hati-hati jika memang diminta saran. Dia seperti ‘Namboru’ yang dalam Bahasa Batak berarti kakak atau adik perempuan dari Bapak. Dalam kultur Batak para Namboru ini ‘takluk’ kepada keponakan laki-laki, yang akan meneruskan marga keluarga ketika mereka, sebagai perempuan, ‘hilang’ terikut marga suami. Maka para namboru menyebut keponakan laki-laki sebagai ‘amang naposo’ atau bapak muda, yang dihormati dan dilindungi karena kelangsungan hidup ‘amang naposo’ yang akan menentukan eksistensi keluarga di masa depan.
Carmel jelas tidak takluk kepada saya, tapi hormat kepada semua orang yang selalu ditempatkannya setara dengan dia. Muncullah keyakinan membawa istri dan kedua anak ke rumahnya, biasanya menjelang Natal atau setelah Tahun Baru, sebagai masa yang tepat untuk bersilaturahmi ke rumah Namboru. Dan dia selalu hangat menyambut kami.
Sekali waktu istri saya yang suka barang antik memperhatikan cangkir teh yang digunakan untuk kami adalah set antik yang amat indah, yang menurutnya terlalu berisiko dikeluarkan untuk satu keluarga muda dengan dua anak kecil. Jadi dia berkomentar, “Ini kan set cangkir istimewa,” dan Carmel menjawab dengan hangat, “You are all special to me.” Set cangkir itu ternyata memang antik dari peninggalan neneknya. Saya dan istri tersanjung walau yakin bahwa Carmel akan memperlakukan semua orang dengan ‘istimewa’.
Kali yang lain kami berkunjung ketika dia baru operasi kecil dan ketika kami datang dia sebenarnya sudah pulih total. Tapi alasan kunjungan adalah membesuk ‘ompung’ yang sakit maka putri saya yang masih kelas dua atau tiga SD menulis kartu ucapan semoga cepat pulih. Usai membaca kartu itu, Carmel tertawa besar, riang, dan -yang jauh lebih penting- menghargai sepenuhnya keberadaan putri saya: “I will my dear.” Anak kecilpun dihormati dan dihargai Carmel sepenuhnya.
Beberapa kali saya datang sendiri ke rumahnya malam hari selepas kantor naik angkutan umum, untuk ngobrol sekedar cek dan recek keadaan masing-masing. Jauh sebelum waktunya pulang dia akan menyarankan agar ke luar sebentar ke setopan bus yang cuma beberapa meter dari rumahnya untuk melihat jam kedatangan bus, yang ditempel di setopan itu. Jelas bukan niatnya mengusir tapi wujud dari keperduliannya supaya saya tidak terlalu lama kedinginan menunggu bus, tapi cukup menunggu satu menit saja karena sudah tahu jam kedatangan bus berikut.
Beberapa kali berkunjung ke rumahnya, kami juga tahu Carmel suka mangga Bangladesh yang manis dan empuk. Itu karena pada suatu sore ketika kami pulang menyetir, dia minta tolong dibelikan satu peti kecil mangga Bangladesh dari toko buah yang cukup jauh untuk berjalan dari rumahnya, apalagi jika harus membawa sepeti kecil mangga. Sejak itu, kami selalu singgah dulu di toko itu untuk membeli mangga Bangladesh sebelum ke rumahnya.

Setelah pendengaran Carmel semakin terganggu, kunjungan keluarga kami jauh berkurang dan berhenti sama sekali. Saya juga mulai terlempar dari lingkaran Tapol tanpa alasan yang terlalu jelas. Mungkin proses reformasi setelah kejatuhan Soeharto membuat Tapol, yang berada di London, tidak berperan penting seperti sebelumnya lagi karena semakin banyak LSM di Indonesia yang juga bergerak dalam isu hak asasi, Aceh, dan Papua. Mungkin juga karena Carmel tidak terlibat lagi mengelola Tapol yang membuat saya jadi merasa kurang tertarik datang ke kantor Tapol dan juga terasing dengan orang-orang baru Tapol. Apalagi setelah pensiunnya Paul Barber, yang belasan atau puluhan tahun sempat memimpin Tapol.
Kami memang masih bertemu di beberapa acara, seperti pemutaran film The Act of Killing-nya Joshua Oppenheimer maupun diskusi di Amnesty International yang diprakarsai pegiat hak asasi Papang Hidayat ketika masih bekerja di kantor Amnesty International di London. Waktu itu saya jadi salah satu pembicara dan Carmel duduk di samping ibu guru sahabatnya, yang menjadi telinganya. Dengan pendengarannya yang semakin parah, kami cuma saling menyapa saja usai diskusi. Dan dia tetap hangat walau hanya dengan gerak tubuhnya.
***
Minggu siang 13 Juni 2021, saya dan istri membesuk Carmel di sebuah rumah jompo di London tenggara. Sebelumnya saya mendengar dia kena stroke tapi ketika menelepon rumah jompo itu, perawat pengasuh menjelaskan ‘kondisinya memang naik turun’. Perawat itu menambahkan kami boleh membesuk kapan saja namun tergantung dari kondisi Carmel pada saat kunjungan.
Setelah uji swab dan menanti sekitar setengah jam di ruang tunggu untuk memastikan negatif Covid-91, kami berdua naik ke kamar Carmel. Namun perawat mengatakan Carmel sedang dalam kondisi baik dan menyarankan agar kami ngobrol lebih santai di teras bawah yang memandang ke halaman hijau. Cuaca hari itu cerah pula.
Carmel tak bisa mendegar lagi, jadi kami menulis di iPad, dia membaca dan dia mengangguk, menggeleng, dan sesekali menjawab. Saya tidak bisa memastikan apakah dia memang masih ingat kami berdua atau tidak karena hanya mengangguk sambil tersenyum setelah membaca iPad yang mengenalkan saya dan istri.
Banyak juga obrolan kami, tentang apakah dia masih mengikuti berita Indonesia -dia gelengkan kepala- maupun menjawab ‘Boris Johnson’ dengan pelan ketika kami bertanya siapa PM Inggris sekarang dan tersenyum ketika diberitahu Boris baru kawain lagi. Dia tampak kesakitan di atas kursi rodanya sambil menjelaskan pinggangnya yang sakit.
Sekitar lima belas menitan istri saya tak nyaman melihat dia duduk kesakitan di kursi roda jadi kami siap-siap pamit dan menulis di iPad. Tapi Carmel malah bersuara meminta, “Stay a bit longer” jadi kamipun tinggal lebih lama. Obrolan lewat iPad dilanjutkan, tentang kedua anaknya yang tinggal jauh, kedua anak kami yang kirim salam, juga janjian akan berkunjung lagi. Ketika kami pamit untuk kedua kalinya, dia mengangguk.
Kami panggil perawat yang akan membawanya kembali ke kamar atas. Ketika kursi rodanya berbalik setelah kami bertiga saling melambaikan tangan, saya menangis tak tertahankan. Dalam perjalanan pulang, istri saya nyelutu, “Kasihan Carmel, dia menderita” karena memang terlihat menahan sakit selama duduk di kursi roda di depan kami.
Tapi saya masih ingin membesuknya, yakin dia sudah mampu bertahan dari rasa yang jauh lebih sakit -seperti masuk penjara atau dicap ‘penipu’ oleh pemerintah Indonesia- dari sekedar duduk di kursi roda.
***
Tak ada rencana apapun pada Sabtu 10 Juli, jadi sarapan pagi bersama istri tak berbentuk namun santai sambil ngobrol ngalor ngidul tentang apa saja yang terlewat di kepala. Salah satu yang tiba-tiba muncul adalah keinginan membesuk Carmel lagi. Tapi namanya ngobrol ngalor ngidul, keinginan itu tak langsung direncanakan selain ‘ya nantilah dicari waktunya.’
Sekitar pukul delapan malam, kawan dekat saya yang bekerja di BBC Indonesia memberi tahu Carmel Budiardjo meninggal pagi tadi.
Saya percaya selalu ada naluri yang tak terjelaskan ketika kita kehilangan orang dekat. Munculnya keinginan untuk membesuk Carmel pada saat-saat berdekatan dengan kepergiannya membuktikan dia ternyata amat dekat buat saya. Mungkin saya cuma lewat dalam kehidupannya, tapi jelas Carmel tidak lewat begitu saja dalam kehidupan saya. Dia meninggalkan kenangan kuat sebagai orang baik yang hangat dan perduli orang lain, bukan cuma pejuang hak asasi yang konsisten dan tak kenal lelah.
Dia inspirasi untuk menghormati manusia, siapapun. Tak mudah untuk diwujudkan, tapi sudah dibuktikan olehnya.
Carmel Budiardjo adalah Namboru saya.
***
Liston P Siregar, editor ceritanet.com dan pengasuh anjing yang bergabung dalam agen homefromhomeboarding.com.