Kita bertarung
Baratinsky (1)
Aku bersumpah menembaknya sesuai hukum bertarung
(aku masih berhutang satu tembakan kepadanya)
‘Malam Hari di Perkemahan’ (2)
Kami ditempatkan di sebuah kota kecil. Bagaimana kehidupan seorang perwira tentara sudah diketahui. Pagi ada latihan berbaris dan menunggang kuda, makan siang di rumah komandan resimen atau di sebuah rumah makan Yahudi, waktu malam minum arak dan main kartu. Tidak ada satu rumah pun yang terbuka untuk kami di tempat itu. Tidak ada satu gadis pun yang bisa kami kenal. Kami berkumpul di kamar-kamar kami silih berganti dan di situ tidak ada sesuatu untuk dilihat kecuali pakaian seragam kami.
Di kalangan kami hanya ada seorang saja yang bukan anggota tentara. Usianya lebih kurang tiga puluh lima tahun dan karena itu kami menganggapnya sebagai orang tua. Pengalamannya membuat dia memiliki banyak kelebihan dari kami: bersamaan dengan itu kemurungannya yang lazim, kelakuan kasar, dan lidah tajamnya sangat mempengaruhi otak muda kami. Ada rahasia menyelubungi hidupnya: tampaknya dia orang Rusia tetapi memakai nama asing.
Dia pernah berdinas sebagai husar (3), dengan keadaan keuangannya yang baik. Tidak seorang pun yang tahu mengapa dia terpaksa berhenti dari jabatannya dan tinggal di tempat kecil untuk hidup sederhana dan juga boros: dia selalu berjalan kaki berpakaian mantel panjang hitam yang tua tetapi menyambut semua perwira resimen kami di rumahnya.
Memang makanan yang disajikan cuma terdiri dari dua atau tiga hidangan yang dimasak oleh seorang bekas laskar, tetapi sampanye mengalir di mejanya seperti sungai. Tidak seorang pun yang tahu tentang kekayaan atau pun pendapatannya dan tidak ada juga yang berani menanyakan perkara itu kepadanya.
Dia mempunyai sejumlah buku, kebanyakan tentang perang dan novel. Dengan rela hati dia selalu bersedia memijamkannya untuk dibaca. Tidak pernah dia memintanya kembali tetapi dia sendiri pun tidak pernah mengembalikan buku-buku yang dipinjamnya.
Latihan utamanya adalah menembak dengan pistol. Dinding-dinding kamarnya penuh dengan bekas peluru, berlubang-lubang dan tampak seperti sarang lebah. Kumpulan besar pistiolnya adalah satu-satunya kemewahan di rumah yang dibuat dari tanah liat di kawasan tempat tinggalnya itu. Kemahiran yang pernah dicapainya luar biasa dan sekiranya dia hendak menembak sebuah pir di topi seseorang maka tidak seorang pun di resimen kami yang akan menolaknya. Pembicaraan sesama kami sering menyentuh perkara bertarung: tetapi Silvio (begitulah aku menyebutnya) tidak pernah ikut dalam pembicaraan itu. Apabila ditanya apakah dia pernah bertarung, dia menjawab ringkas pernah tetapi tidak mau memperinci.
Jelas, pertanyaan seperti itu tidak disukainya. Kami menduga di dalam hati nuraninya tersimpan ingatan tentang korban yang menderita karena kemahirannya yang mengerikan itu. Tentulah tidak terlintas di kepala kami kesangsian bahwa dia memiliki perasaan tersipu-sipu. Ada orang yang air mukanya saja sudah menepis kesangsian seperti itu.
Tapi tiba-tiba suatu kejadian mengejutkan kami semua.
Pada suatu hari, sepuluh orang perwira makan di rumah Silvio. Kami minum sebanyak yang biasa. Itu berarti banyak sekali. Sesudah makan, kami meminta tuan rumah menjadi pembagi kartu dalam permainan kartu. Lama dia menolak karena hampir tidak pernah ikut main kartu, tetapi akhirnya dia minta dia yang memimpin kartu, mencurahkan separuh duit emas bernilai sepuluh rubel di atas meja, kemudian mulai membagi-bagikan kartu.
Kami semua mengelilinginya dan permainan dimulai. Silvio mempunyai kebiasaan untuk berdiam penuh pada masa bermain, tidak berbantah, tidak menjelaskan apa pun. Apabila kebetulan seorang pemain yang bertaruh salah hitung maka Silvio segera membayar sisanya atau mencatat lebihannya. Kami tahu kebiasaan itu dan tidak mengganggu dia untuk mengurus segalanya dengan caranya sendiri. Tapi di antara kami ada seorang perwira yang baru dipindahkan ke resimen kami. Selama main kartu, dia terus lalai dengan sudut kartu yang terlipat, yang mestinya tidak diperlukan.
Silvio mengambil kapur tulis dan membenarkan hitungan seperti biasanya. Perwira itu menyangka dia membuat kesalahan dan mulai memberikan penjelasan. Silvio dengan senyap meneruskan membagi-bagikan kartu. Perwira itu hilang kesabaran, mengambil sikat dan menghapus yang ditulis, yang menurutnya salah. Silvio mengambil lagi kapur tulis dan menulis kembali. Perwira yang sudah panas oleh anggur, permainan, dan ketawa kawan-kawannya, merasa sangat tersinggung dan dalam keberangannya itu mengangkat kaki tembaga tempat lilin dan melemparkan kepada Silvio, yang dengan susah payah sempat mengelak.
Kami sangat bingung. Silvio berdiri pucat karena kemarahan dan dengan mata berapi-api berkata: “Tuan yang dihormati, sudilah keluar dan bersyukurlah kepada Tuhan bahwa ini terjadi di rumahku”.
Kami tidak menyangsikan akibat dari perbuatan perwira itu dan menganggap kawan baru kami seperti sudah mati. Perwira itu keluar sambil berkata siap membalas hinaan itu dengan cara apapun jua yang sesuai dengan kehendak tuan pembagi kartu. Permainan berlangsung beberapa menit lagi, akan tetapi terasa bahwa tuan rumah sudah kehilangan minat kepada permainan sehingga kami meninggalkannya satu persatu dan pulang ke rumah masing-masing.
Pada keesokan harinya, ketika latihan menunggang kuda, kami tertanya-tanya apakah letnan yang malang itu masih hidup dan ketika dia tiba-tiba muncul; kami mengajukan pertanyaan yang sama kepadanya. Dia menjawab belum ada berita sebarang tentang Silvio. Ini mengherankan. Kami pergi ke Silvio dan menemuinya di halaman tempat dia melepaskan peluru demi peluru ke arah daun as yang dilekatkan pada pintu gerbang. Dia menerima kami seperti biasa dengan tidak menyebut peristiwa semalam. Tiga hari berlalu, letnan itu masih hidup. Kami tertanya-tanya keheranan: mungkinkah Sulvio tidak akan bertarung?
Silvio memang tidak bertarung. Dia puas dengan penjelasan singkat dan berdamai.
Hal itu sangat mengganggu reputasinya di hadapan perwira-perwira muda. Kurangnya keberanian adalah hal yang paling tidak bisa dimaafkan oleh kaum muda yang biasanya menganggap keberanian sebagai puncak kelebihan manusia dan pemaafan adalah sebuah tabiat buruk. Akan tetapi lambat laun segalanya dilupakan, dan Silvio kembali meraih pengaruh yang dimilikinya dulu.
Hanya aku seorang saja yang tidak mau mendekatinya lagi.
Oleh karena daya khayal maka aku tertarik lebih kuat atas orang yang kehidupannya merupakan teka-teki itu dan yang bagiku kelihatan sebagai watak misterius sebuah novel. Dia suka aku: setidaknya dalam pembicaraan dengan aku, dia mengelak kata-kata tajam yang lazim diucapkannya dan bercakap tentang berbagai hal secara sederhana dan nikmat yang luar biasa. Akan tetapi sesudah malam yang malang itu, ada pikiran bahwa kehormatannya tercemar atas kesalahannya sendiri dan mengganggu perlakuan yang seperti dulu: aku jadi canggung bertemu mata dengannya.
Silvio adalah seorang yang terlalu pandai dan berpengalaman untuk tidak sampai memperhatikan hal itu dan dia tidak paham apa sebabnya. Kiranya hal itu mengecewakannya: sekurang-kurangnya aku melihat ada satu-dua kali dia ingin menjelaskan segalanya kepadk akan tetapi aku mengelak dan Silvio mundur. Sejak itu kami berjumpa hanya apabila ada kawan-kawan lain, dan pembicaraan kami sudah berhenti.
***
Penduduk ibu kota yang lalai tidak tahu-menahu tentang banyak perkara yang diketahui oleh penduduk desa dan kota kecil. Misalnya tentang hari penerimaan surat: pada hari Selasa dan Jumat jawatan tata usaha resimen kami menjadi penuh dengan perwira. Ada yang menunggu kiriman uang, ada yang menunggu surat atau koran. Biasanya surat dibuka di situ juga, kabar diumumkan, dan jawatan menjadi sangat ceria. Silvio menerima surat yang dialamatkan kepada resimen kami dan biasanya dia hadir. Pada suatu hari dia mendapat surat yang segel lilinnya dipecahkannya dengan amat tidak sabar. Sepintas lalu, matanya berbinar-binar. Para perwira yang sibuk dengan surat-suratnya sendiri tidak memperhatikan apa-apa.
“Tuan-tuan yang dihormati,” kata Silvio, “keadaan memaksa aku segera pergi, aku bertolak malam ini juga, aku harap tuan-tuan sudi makan siang bersamaku untuk kali terakhir. Aku menunggu. Tuan juga,” lanjutnya kepadaku. “Datanglah dengan pasti!” dan dia bergegas keluar. Kami, sesudah bersetuju berkumpul di rumah Silvio, bubar ke arah masing-masing.
Aku datang ke rumah Silvio pada waktu yang ditentukan dan mendapati hampir seluruh resimen sudah hadir. Segala harta bendanya sudah dibereskan, yang tinggal hanya dinding kosong penuh dengan bekas-bekas peluru. Kami duduk di meja, tuan rumah penuh semangat dan segera kegembiraannya menyebar ke semua hadirin: sumbat-sumbat botol meletup tak henti-hentinya, isi gelas berbuih dan mendesau terus menerus, dan kami dengan segala tekun mengucapkan, “Selamat jalan!” serta mengharapkan segala kebaikan bagi orang yang akan bertolak itu.
Hari sudah lewat sore ketika kami berdiri dari meja. Pada saat semua mengambil topi, Silvio sambil minta diri kepada semua, memegang tanganku pada saat aku mau keluar. “Aku perlu berbicara dengan Tuan,” katanya. Maka aku tinggal.
Para tetamu pergi: kami berdua tinggal bersendirian, duduk berhadapan dan senyap mengisap pipa. Silvio tampak risau, sudah tidak ada bekas-bekas kegembiraan yang terkejang-kejang itu. Kepucatan yang suram, mata berbinar dan asap tebal yang keluar dari mulut membuat penampilannya serupa dengan setan sejati. Beberapa menit berlalu dan Silvio memecahkan kesenyapan.
“Mungkin kita tidak ketemu lagi,” katanya, “sebelum perpisahan aku hendak menjelaskan kelakuanku. Boleh jadi Tuan sudah memperhatikan bahwa aku tidak seberapa menghormati pendapat orang lain, akan tetapi aku suka Tuan dan merasa tidak baiklah sekiranya aku meninggalkan kesan yang tidak betul dalam benak Tuan.
Dia berhenti dan mulai mengisi lagi pipanya yang padam. Aku berdiam dengan menunduk.
“Tuan merasa ganjil,” diteruskannya, “bahwa aku tidak membalas tantangan si sinting R*** yang mabuk itu. Tuan tentu sependapat bahwa jiwanya berada dalam tanganku karena akulah yang berhak memilih senjata padahal jiwaku tidak terancam. Aku bisa mendakwa kesabaranku disebabkan oleh sifat murah hatiku tetapi aku tidak mau menipu Tuan. Sekiranya aku bisa menghukum R*** dengan tidak membahayakan jiwaku maka aku tidak sekalipun memaafkannya.
Aku melihat Silvio dengan keheranan. Pengakuan begini membuat aku sangat bingung. Silvio terus berucap:
“Sungguh, aku tidak berhak membahayakan jiwaku. Enam tahun yang lalu, aku menerima tamparan, dan musuhku masih hidup.”
Rasa ingin tahuku berkobar.
“Tuan tidak bertarung dengan dia?” aku tanya. “Sesuatu agaknya mengganggu?”
“Aku bertarung dengannya,” jawab Silvio, “dan inilah kenang-kenangan pertarungan kami.”
Silvio bangun dan mengambil topi merah berumbai emas berjambul (apa yang disebut oleh orang Perancis sebagai bonnet de police (4) dari sebuah kotak kardus. Dia memakai topi itu: ternyata ada lubang dari peluru satu inci di atas dahi.
“Tahukah Tuan,” Silvio terus berbicara, “bahwa aku berdinas di resimen husar. Perangaiku sudah Tuan ketahui, aku biasa menjadi nomor satu dalam segala-galanya dan pada masa muda itu nyata. Pada masa kami, kenekadan sangat populer: aku menjadi pekelahi yang ulung di tentara. Kita berdegar-degar urusan kemabukan, aku lebih kuat minum arak dari Burtsov yang termasyhur dan yang disanjung tinggi oleh Denis Davidov (5). Pertarungan di resimen kami terjadi dengan tidak henti-hentinya: aku menyertai semuanya, sebagai saksi atau sebagai pelaku. Kawan-kawanku memujaku sedangkan para komandan resimen yang silang berganti terus menerus memandangku sebagai kejahatan yang tidak boleh dielakkan.”
“Aku dengan nyaman, atau tidak nyaman, menikmati kemasyhuran itu ketika seorang pemuda dari keluarga kaya dan bangsawan, aku tidak mau menyebut namanya, masuk resimen kami. Tidak pernah aku berjumpa dengan orang sebegitu beruntung dan cemerlang. Bayangkan saja: muda, cerdik, tampan, riang gembira tanpa batas, berani, nekad, nama termasyhur, uang yang tidak terhitung jumlahnya dan tidak kunjung habis dan bayangkan kesannya terhadap kami semua. Keunggulanku goyang.
Tergoda oleh kemasyhuranku dia mula-mula mencari persahabatan akan tetapi aku menerimanya dengan dingin, dan dia tanpa sebarang kesal hati menjauhiku. Aku membencinya. Keberhasilannya di resimen dan di kalangan perempuan membuatku sangat putus asa. Aku mulai mencari pertengkaran dengannya: puisi sindiranku dibalasnya juga dengan puisi sindirannya yang kuanggap selalu lebih segar dan sengit dari aku punya dan tentu jauh lebih lucu: dia berjenaka sedangkan aku berdengki.”
“Akhirnya pada suatu hari ketika pesta dansa di rumah seorang tuan tanah Polandia, sesudah melihat bahwa dia menjadi pusat perhatian semua perempuan dan terutama ibu rumah tangga yang pernah mempunyai hubungan intim denganku, maka aku membisikkan kata-kata ejekan kasar ke telinganya. Mukanya menjadi merah dan dia menampar mukaku. Kami lekas menghunus pedang masing-masing, para perempuan pingsan, kami dileraikan, tapi malam itu juga kami pergi bertarung.”
“Itu terjadi waktu subuh. Aku berdiri di tempat yang ditentukan bersama tiga pengikut yang menjadi saksiku. Aku menunggu lawan dengan ketidaksabaran yang tidak terperikan. Matahari musim bunga sudah terbit dan keterikannya sudah terasa. Aku melihatnya dari jauh. Dia berjalan kaki dengan jas tentaranya ditaruh di atas pedang diikuti seorang saksi. Kami mendekat satu sama lain. Dia semakin dekat dengan memegang topi yang penuh dengan buah ceri manis. Para saksi mengukur jarak dua belas langkah di antara kami. Aku seharusnya menembak pertama tetapi karena marah, tanganku sangat gemetar sehingga tidak yakin ketepatan menembak. Supaya mendapat waktu untuk tenang aku memberinya peluang agar menembak dulu namun lawanku tidak setuju.”
“Keputusan diambil dengan undian: dia menang, anak manja memang selalu abadi beruntung. Dia membidik dan menembak namun peluru hanya kena topiku. Tiba giliranku. Akhirnya nyawanya ada di tanganku: aku menatap wajahnya dan mencoba menangkap sekurang-kurangnya sedikit bayangan kecemasan… Dia berdiri dalam bidikan pistol namun memilih buah ceri yang matang dari dalam topi dan meludahkan biji-bijinya, yang jatuh persis di depanku. Sikap acuh tak acuhnya membuat aku naik geram. Apa gunanya mencabut nyawanya, begitu pikiranku kalau dia sendiri tidak menghargainya? Pikiran jahat melintas di kepalaku. Aku menurunkan pistol. ‘Tampaknya Tuan tidak bersedia mati sekarang,’ aku berkata kepadanya, ‘Tuan sudi bersarapan, aku tidak mau mengganggu Tuan’ – ‘Tuan sedikit pun tidak mengganggu aku,’ dia membantah, ‘sudilah menembak, namun terserah kepada tuan, tuan yang berutang satu tenbakan. Aku selalu sedia bertarung dengan Tuan.’ Aku merujuk kepada para saksi dengan menyatakan bahwa aku tidak rela menembak pada hari itu dan dengan demikian berakhirlah pertarungan.”
“Aku berhenti dari dinasku dan mengundurkan diri ke kotan kecil ini. Sejak itu tidak sehari pun berlalu tanpa aku memikirkan pembalasan. Sekarang saatnya tiba…”
Silvio menarik dari sakunya surat yang diterima tadi pagi dan memberikan kepadaku untuk dibaca. Seseorang, agaknya advokat, menulis kepadanya dari Moskow bahwa orang tertentu akan segera menikah dengan gadis muda yang cantik.
“Tuan tentu menerka,” kata Silvio, “siapa orang itu. Aku akan pergi ke Moskow. Kita akan melihat apakah dia, menjelang pernikahannya, akan menghadapi ajalnya dengan sikap acuh tak acuh, juga seperti pernah menantikan mautnya dengan makan buah ceri manis!”
Selepas berkata begitu Silvio berdiri, mengempaskan topinya ke lantai dan mulai mondar mandir di dalam kamar seperti harimau di sangkarnya. Aku mendengarnya tanpa bergerak: perasaan aneh dan bertentangan mengacau pikiran aku.
Pelayan masuk dan memberitahu bahwa pasangan kuda sudah siap. Silvio menjabat tanganku erat-erat. Dia naik kereta dengan dua kopor: satu dengan pistol-pistolnya, kedua dengan barang-barangnya. Kami berpamitan sekali lagi, dan pasangan kuda lari cepat dari situ.
***
Beberapa tahun berlalu, dan hal-hal rumah tangga memaksaku menetap di sebuah desa miskin daerah N**. Saat mengurus kerja-kerja ladang aku tidak berhenti merenungkan kehidupanku yang bising dan riang dulu. Yang paling susah adalah membiasakan diri melewati malam musim gugur dan musim dingin seorang diri. Sampai tengah hari aku masih sibuk berbincang dengan ketua desa, berkeliling memeriksa tempat-tempat kerja dan perusahaan baru, akan tetapi begitu hari mulai menjadi gelap maka aku tidak tahu sama sekali apa yang sebenarnya aku aku mesti lakuan. Sedikit buku yang kutemui di bawah lemari dan di gudang sudah dibaca sehingga hampir hafal. Semua cerita rakyat yang sempat diingat kembali oleh pemegang kunci Kirilovna sudah aku dengar sementara lagu-lagu perempuan desa membosankan aku.
Aku coba minum arak bikinan sendiri yang dimaniskan tetapi membuat kepalaku sakit, lagi pula aku takut menjadi pemabuk karena kecewa dengan hidup, yakni jenis pemabuk yang paling buruk yang banyak kulihat contohnya di daerah kami. Bisa dikatakan tidak ada tetangga dekat kecuali dua-tiga pemabuk yang obrolannya terbatas pada sendawa dan keluhan. Dalam keadaan itu, kesepian jadi memuaskan.
Empat kilometer dari kediamanku terletak ladang milik grafin (6), akan tetapi yang duduk di situ cuma seorang pengurus sedangkan grafin mengunjungi ladangnya hanya sekali, pada tahun pertama pernikahannya dan hanya ada di situ tidak lebih dari sebulan. Namun pada musim bunga kedua dari kehidupan kesendirianku, tersebarlah desas-desus bahwa grafin itu bersama suaminya akan datang ke desa untuk menghabiskan musim panas. Dan mereka tiba pada awal bulan Juni.
Kedatangan tetangga yang kaya adalah peristiwa penting bagi penduduk desa. Tuan tanah dan pelayan-pelayan mereka membicarakan peristiwa itu selama dua bulan sebelumnya dan tiga tahun sesudahnya. Adapun untukku, terus terang kuakui, berita kedatangan seorang perempuan tetangga yang muda dan cantik sangat membuatku bersemangat. Aku betul-betul tidak sabar mau melihatnya dan oleh karena itu pada hari Ahad pertama sesudah kedatangannya aku pergi selepas makan siang ke desa untuk memperkenalkan diri kepada Yang Mulia itu, sebagai tetangga terdekat dan hamba mereka yang setia.
Seorang pelayan membawaku ke kamar kerja graf (7) lalu pergi memberitahu kedatanganku. Kamar kerja yang besar itu dilengkapi serba mewah: pada dinding ada beberapa lemari dengan buku dan di atas setiap lemari terletak patung dada dari perunggu, di atas perapian pualam bergantung sebuah cermin yang lebar, lantai berlapik dengan kain sekelat hijau dan ditutupi dengan permadani. Oleh karena tidak biasa lagi dengan kemewahan di tempat miskinku dan sudah lama pula tidak melihat kekayaan orang maka aku merasa segan dan menunggu kedatangan graf dengan bimbang, seperti seorang pemohon dari hulu yang menunggu kedatangan seorang menteri.
Pintu terbuka, dan seorang lelaki tampan berusia sekitar tiga puluh dua tahun masuk. Graf mendekatiku dengan sikap ramah tamah dan bersahabat, aku coba menenangkan pikiran dan memperkenalkan diri tetapi dia mendahuluiku. Kami duduk. Percakapannya nyaman dan ramah tamah segera menghapuskan rasa rikuhku yang disebabkan kurang pergaulan, aku baru mulai kembali pada keadaanku yang dulu biasa bagiku dulu ketika tiba-tiba grafin masuk, dan kekuatiran menguasaiku lebih kuat dari sebelumnya. Memang dia jelita sejati. Graf memperkenalkanku, aku berniat kelihatan tenang tetapi semakin aku berusaha maka semakin menjadi kagok.
Mereka memberi aku waktu untuk bertenang dan membiasakan diri atas perkenalan baru dengan berbicara sesama mereka berdua: memperlakukanku seperti tetangga baik. Sementara itu aku mulai mondar-mandir dengan melihat buku-buku dan lukisan. Aku awam dengan lukisan akan tetapi salah satu menarik perhatianku, yang melukiskan suatu pemandangan di Swiss: akan tetapi bukan seni lukisnya yang mengagumkanku melainkan lukisan itu ditembak dua peluru di tempat yang sama.
“Tembakan jitu,” kataku kepada graf.
“Ya,” jawabnya, “tembakan yang menakjubkan. Apakah Tuan mahir menembak?” diteruskannya.
“Ya, tentu,” aku jawab gembira karena akhirnya percakapan menyentuh perkara yang aku paham. “Dengan mudah aku menembak selembar kartu dari jarak tiga puluh langkah, tentu saja dengan pistol-pistol yang biasa aku gunakan.
“Betulkah?” kata grafin dengan penuh perhatian, “dan kau, sayang, apakah kau sempat berbuat begitu dari jarak tiga puluh langkah?”
“Pada suatu hari kelak kita akan coba,” kata graf. “Dulu aku pernah menembak dengan baik, akan tetapi sudah empat tahun aku tidak memegang pistol.”
“Oh,” kataku, “kalau begitu aku berani bertaruh bahwa Yang Mulia tidak akan mengenai selembar kartu bahkan dari jarak dua puluh langkah, menembak dengan pistol menghendaki latihan setiap hari. Itu kutahu dari pengalaman sendiri. Di resimen kami, aku dianggap kalangan penembak yang terbaik. Begitulah terjadi, pada suatu waktu aku tidak berlatih menembak karena pistol-pistolku dibawa untuk diperbaiki dan apa terjadi Yang Mulia? Pertama kali aku mulai menembak sesudah itu dan empat kali berturut-turut tidak kena botol dari jarak dua puluh lima langkah. Komandan kami, orang jenaka dan suka bergurau, kebetulan hadir dan berkata kepadaku, ‘kau, sahabatku, kiranya tidak sampai hati memecahkan botol’. Betul Yang Mulia, jangan mengabaikan latihan itu kalau mau menembak dengan tepat. Penembak yang terbaik yang aku pernah temui menembak setiap hari, sekurang-kurangnya tiga kali sebelum makan siang. Itu baginya menjadi semacam kebiasaan minum segelas kecil vodka.”
Graf dan grafin bersuka hati karena aku mulai bercakap lebih giat.
“Dan bagaimana dia menembak?” tanya graf.
“Begitulah yang Mulia, kadang-kadang dia melihat lalat yang hinggap pada dinding,” aku melihat Yang Mulia grafin ketawa. “Sumpah, benar. Kadang-kadang dia melihat lalat dan berteriak kepada pelayan: ‘Kuzka, bawa pistol!’ maka Kuzka membawa pistol kepadanya. Das, dan lalat itu terbenam ke dalam dinding!
“Sangat menakjubkan!” kata graf, “Siapa namanya?”
“Silvio, Yang Mulia.”
“Silvio?” graf memekik sambil bergegas bangun dari tempat duduknya,“Tuan kenal Silvio?”
“Bagaimana tidak Yang Mulia, kami dulu berteman baik, dia diterima ramah di resimen kami seperti saudara dan sahabat. Akan tetapi sudah sekitar lima tahun aku tidak mendengar sebarang berita tentang dia. Jadi, Yang Mulia juga kenal dia?”
“Ya, kenal, kenal baik. Tidak pernahkah dia menceritakan kepada Tuan… tetapi tidak, tidak pikirku, tidak pernahkah dia menceritakan kepada Tuan tentang sesuatu kejadian yang sangat aneh?”
“Maksud Yang Mulia sebuah tamparan yang diterimanya dari seorang perwira di pesta dansa?”
“Dia menyebut nama perwira itu?”
“Tidak Yang Mulia, tidak menyebut… Ah! Yang Mulia,” aku teruskan dengan menduga-duda, “maafkan…aku tidak tahu… mungkinkah orang itu adalah Yang Mulia…”
“Aku sendiri,” graf menjawab dengan penampilan yang sangat kecewa, “dan lukisan dengan bekas peluru itu adalah kenang-kenangan dari pertemuan kami terakhir…”
“Ah, sayangku,” kata grafin, “demi Tuhan jangan menceritakan apa terjadi; aku ngeri mendengarnya.”
“Tidak,” graf membantah,” aku akan menceritakan segalanya, dia tahu bagaimana aku menghina sahabatnya, biarlah dia tahu juga bagaimana Silvio membalas dendam kepada aku.”
Graf menarik sebuah kursi malas untukku dan aku mendengar dengan rasa ingin tahu yang tinggi tentang kisah berikut.
“Lima tahun sesudah aku nikah. Bulan madu aku habiskan di sini, di desa ini. Kepada rumah inilah aku berutang budi karena saat yang paling bahagia dalam kehidupanku dan satu dari kenangan yang paling berat”.
“Pada suatu sore kami menunggang kuda, kuda isteriku bertingkah, istri ketakutan dan memberi tali kekang kepadaku dan berjalan kaki: aku pergi di depan naik kuda. Di halaman rumah aku melihat kereta kuda dan diberitahu bahwa di kamar kerjaku ada seorang yang tidak mau menyebut namanya, hanya mengatakan bahwa dia ada hal untuk aku. Aku masuk kamar dan melihat dalam kegelapan seorang yang berlumur debu dan lama tidak bercukur: dia berdiri di dekat perapian. Aku mendekati dan mencoba mengenal raut mukanya.”
“Kau tidak kenal aku, graf?’ katanya dengan suara gemetar. ‘Silvio!’ aku memekik dan terus terang aku merasa bulu romaku berdiri. ‘Benar,’ dia meneruskan, ‘sekarang giliranku untuk menembak, aku datang untuk mengosongkan pistolku. Siapkah engkau?’ Pistolnya terpacak di saku sebelah. Aku mengukur dua belas langkah dan berdiri di sudut dengan memohonnya menembak secepat mungkin, sebelum istri pulang. Dia berlengah-lengah, minta api. Lilin dibawa. Aku mengunci pintu dan memerintahkan seseorang pun jangan masuk dan memintanya menembak. Dia menarik pistol dan membidik… “
“Aku mengira saat aku berpikir tentang istriku. Satu menit yang dahsyat berlalu! Silvio menurunkan tangan. ‘Malang bagimu,’ katanya, ‘pistol diisi bukan dengan biji buah ceri manis… peluru berat. Aku tetap kira bahwa itu bukan pertarungan melainkan pembunuhan, aku tidak biasa membidik seorang tanpa senjata. Mari kita mulai dari awal, mengundi siapa yang pertama yang akan menembak.’ Kepalaku berputar… Akhirnya kita mengisi satu pistol lagi, menggulung dua carik kertas. Dia meletakkannya ke dalam topi yang dulu pernah ditembak: aku lagi mengangkat nomor pertama. ‘Kau, graf, beruntung luar biasa,’ katanya dengan sengihan yang tidak bisa aku lupakan. Aku tidak paham apa terjadi denganku dan bagaimana dia membuatku demikian… tetapi aku melepaskan tembakan dan kena lukisan itu.”
Graf menudingkan jari pada lukisan dengan lubang bekas peluru, mukanya merah seperti api, grafin lebih pucat dari tudungnya. Aku tidak bisa menahan jeritan.
“Aku menembak,” diteruskan oleh graf, dan syukurlah tidak kena pada sasaran kemudian Silvio… pada saat itu dia betul-betul mengerikan. Silvio mulai membidikku. Tiba-tiba pintu terbuka, Masha berlari masuk dan menjerit mendakap leherku. Kehadirannya menenangkan pikiranku. ‘Sayangku,’ aku berkata kepadanya, ‘tidakkah kau melihat bahwa kami bermain-main saja? Jangan takut!’ Pergi minum segelas air dan datang kembali, aku akan memperkenalkan sahabat dan rekan lama kepada kau”.
Masha masih tidak percaya. ‘Katakanlah, suamiku berkata betul?’ katanya dengan merujuk ke Silvio yang geram, ‘betulkah kamu berdua bermain-main saja?’ – ‘Dia selalu bermain-main grafin,’ jawab Silvio. ‘Pada suatu waktu dia secara bermain-main menampar mukaku, kemudian bermain-main menembak topiku, tadi bermain-main tidak kena waktu menembakku. Kini tiba masanya untuk aku bermain-main juga…’ Dengan kata-kata itu dia hendak membidik aku…di hadapan istriku! Masha mengempaskan dirinya di depan kakinya. ‘Masha, berdirilah, itu memalukan!’ aku berteriak kegeraman, ‘dan kau, Tuan cukuplah mencemohkan perempuan yang kasihan itu. Tuan mau menembak atau tidak?’ – ‘Tidak,’ kata Silvio, ‘aku puas melihat Tuan dalam keadaan kacau dan segan, aku memaksa Tuan menembakku, cukuplah bagiku. Kau akan selalu ingat padaku. Aku serahkan kau kepada hati nuranimu.’ Saat itu dia seolah-olah mau pergi tetapi berhenti di ambang pintu, menoleh kepada lukisan yang kena tembakanku, menembaknya dengan hampir tidak membidik dan pergi. Istriku jatuh pingsan, para pelayan tidak berani menghentikan Silvio dan melihatnya dengan ketakutan. Dia keluar, memanggil kusir kereta kuda dan pergi sebelum aku sempat menguasai diri kembali.”
Graf terdiam.
Demikianlah aku mengetahui akhir kisah yang awalnya pernah begitu menarik minatku. Hero dalam kisahku itu tidak pernah kujumpa lagi. Katanya Silvio selama kerusuhan masa Alexander Ipsilanti (8) memimpin pasukan eterist dan terbunuh dalam pertempuran dekat Skulyani.
***
1. Pesta Dansa oleh Eugeny Baratinsky, seorang sahabat Pushkin.
2. Sebuah kisah oleh Bestuzhev-Marlinsky, seorang pengikut pemberontakan bersenjata 16 Disember 1825 di St-Petersburg. Disebabkan penyensoran yang ketat Pushkin terpaksa melupakan nama pengarangnya. Tetapi dengan mengutip karyanya, ‘Malam Hari di Perkemahan’, Pushkin mau menunjukkan simpatinya.
3. Husar adalah penunggang kuda bersenjata ringan abad ke-15-20 yang, dibedakan oleh pakaian khas mereka: shako (topi silinder tinggi dengan pelindung), mantik (jubah bulu), dolman (jas seragam pendek), legging, sepatu lars.
4. Topi polisi.
5. Denis Davidov: seorang husar terkenal, pahlawan Perang Patriotik 1812 (melawan Napoleon).
6. Grafin: gelar bangsawan perempuan.
7. Graf: gelar bangsawan lelaki.
8. Alexander Ipsilanti: seorang jenderal Rusia yang memimpin pasukan pemberontak Yunani (eterist) melawan Turki. Pada 20 Juni 1821 pasukan itu dikalahkan oleh pasukan Turki di desa Skulyani.
Victor Pogadaev: Associate Professor di Lomonosov Moscow State University, Rusia. Kerap menerjemahkan karya sastra Malaysia dan Indonesia ke Bahasa Rusia dan sebaliknya. Aktif di Nusantara Society, organisasi nir-laba yang terdiri dari para akademisi yang mempunyai perhatian pada Nusantara.
Alexander Pushkin, Moskow 26 Mei 1799 – St Petersburg 29 Januari 1837. Penyair, penulis drama, dan novelis yang dianggap oleh banyak orang sebagai sastrawan utama Rusia dan pelopor dari kesusastraan modern Rusia.