Munir Said Thalib: Lahir di Batu 8 Desember 1965 – Dibunuh di Penerbangan 974 Garuda Indonesia, Jakarta-Amsterdam, 7 September 2004
Sejumlah tanda-tanya tak terjawab,
sejumlah fakta dan petunjuk diabaikan.
Dua pundak berbintang mengelak,
lalu menyangkal.
Dua pejabat kunci pelaksananya,
satu jauh di sana, satu di ibukota,
keduanya diam seribu bahasa.
Siapa para pembunuhmu?
Di Coffee Bean, Changi, Gate 42,
kau menjadi Big Fish.
Esoknya sebuah hape berdering,
melapor dari lapangan:
“Saya dapet ikan besar, Pak!”
Laporan kongkrit,
salah satu dari empat puluh satu.
The smoking gun,
tapi tak dilacak,
maka tak berjejak.
Ada yang menuding,
dua boss berbintang tadi, dalangnya.
Satu diantaranya diadili… agar dibebaskan.
Dua pelaksana, bebas berkelana,
Dua fasilitator dihukum ringan.
Dua pelaku lapangan,
satu terhukum, satu tewas misterius.
Sejumlah penyelidik diduga terlingkar mafia hukum,
Seorang presiden berjanji cemerlang,
dan presiden berikut menabuh gendang.
Akhirnya, sebuah laporan resmi,
terlengkap dan asli, …sirna.
Tak jelas rimbanya.
Alhasil…
tugas negara dan janji dua kepala negara,
tak terpenuhi.
Sementara sejumlah saksi, pejabat dan awak,
telah tiada.
Seorang jaksa mengungkap fakta,
dan tanda tanya.
Seorang hakim ditekan, dipindah ke daerah.
Jadilah sebuah kisah tak bernyawa
bagai tipu-tipu belaka…
Politik disebut the art of the possible,
tapi bagimu, kupastikan,
itu seni kemustahilan,
yang tak elok dan sia-sia.
Maka misteri kasusmu tujuhbelas tahun silam,
tetap terrekam.
Dan tetap dijejaki ..
Sejumlah arsip dan memori
di sana dan di sini,
masih tertutup dan terserak.
Perlahan, mungkin perlahan sekali,
akan terkuak juga,
saat azas perjuanganmu,
perjuangan istrimu,
perjuangan anak-anakmu,
perjuangan teman-temanmu,
perjuangan banyak orang itu,
berlanjut.
Cak Munir,
Istirahatlah, dalam kedamaian…
***
Amsterdam, 7 September 2021
Aboeprijadi Santoso, pernah bekerja di Radio Hilversum dan kini menjadi jurnalis independen serta pegiat demokrasi. Tinggal di Amsterdam.