Setahuku, tidak banyak perempuan yang suka kucing. Ada seorang teman sekolah di SMU dulu, juga tetangga depan rumah, dan Tante Mira, adik Papa, yang malah memelihara beberapa kucing. “Kucing itu menggemaskan,” kata Tante Mira sedang kawan SMU ku dulu suka dibangunkan oleh gosokan kepala kucing di lehernya setiap pagi dan tetangga di depan rumah menjelaskan, “Bagus buat ngusir tikus.”
Pastilah ada beberapa perempuan lagi tapi rasanya jauh lebih banyak yang membenci kucing, entah karena bulunya yang bisa buat alergi, misainya yang menyeramkan, atau ngeongannya yang tajam menikam telinga.
Aku bukan penyuka dan juga bukan pembenci kucing. Buatku, kucing adalah satu dari banyak kenyataan dalam hidup keseharian: tak bisa ditolak tapi jelas tak harus disukai. Di jalanan kampung, beberapa ekor kucing liar selalu berkeliaran, yang sesekali berhasil menerobos masuk ke dalam dapur dan mengeong minta makan. Biasanya kaum perempuan yang berurusan dengan dapur -nenek, ibu, tante, atau kedua kakakku- akan melempar remahan ikan ke luar dapur untuk mengusir kucing-kucing kelaparan itu. Urusan pun selesai.
Begitulah, aku tak bisa menghindar dari kucing sejak kecil dulu, kemudian sekolah, kuliah, bekerja, dan menjadi perawan tua -seperti kata banyak orang di belakangku- hingga akhirnya bertemu seorang lelaki: Bian.
Pelan-pelan kami berdua saling suka. Aku suka Bian yang penuh perhatian sedang Bian, katanya, suka aku yang penyabar. Kami pun menikah setelah aku sempat ragu menyadari dia seorang duda dengan dua putri dan berubah pikiran setelah mendengar istrinya pergi dengan lelaki lain. Namun Bian selalu mengecup bibirku lembut setiap aku bertanya lebih banyak tentang mantan istrinya.
Amat beda jika menyangkut kucingnya, Jenny. Bian selalu riang menceritakan Jenny, yang berbulu lebat, bermata indah, dan berperilaku manis. Sejuta pujian, sekaligus pula sejuta kekhawatiran.
“Kita harus segera pulang sayang, Jenny belum makan,” bisiknya cemas sekali waktu ketika kami sedang arisan keluarga. Kali yang lain dia mendadak berbalik arah memutar mobil usai belanja karena lupa membeli vitamin untuk Jenny. Pernah pula dia panik menelepon di satu Sabtu siang dari lapangan golf, “Mohon tolong bawa Jenny ke klinik hewan, jadwalnya divaksin. Udah janjian tapi aku lupa sayang.”
Sejak kami pacaran, Jenny yang kerap menganggu obrolan mesra kami, bukan kedua putrinya berusia 9 dan 11 tahun, yang menurutku jauh lebih manis dan jauh lebih cantik pula. Setelah kami menikah, aku pun harus semakin dekat lagi dengan Jenny.
Syukurlah aku bukan penyuka kucing dan bukan pembenci kucing. Takdir, sejak dulu, memang sudah menetapkan kucing sebagai bagian dari hidup sehari-hariku. Maka aku telusuri jalan takdir itu dengan sabar.
Termasuk pada satu Minggu pagi yang cerah, ketika aku sedang santai menyiram bunga, menutup sepekan yang penat di kantor.
“Jenny di mana?” Bian menghampiriku yang tengah menyiram bunga.
“Tidak tahu. Mungkin di dalam,” sahutku.
“Tidak ada.”
“Entahlah…”
“Benar… kau tak lihat dia?” desak Bian.
Aku mendesah. “Ko nggak percaya sih…”
Kubalikkan tubuh menghadapnya. Tampak kekhawatiran di matanya. Lalu ia menegaskan kucing kesayangannya itu tak mau makan semenjak semalam.
Kekhawatiran akan Jenny terbawa ke meja makan saat makan siang. Gulai ayam yang kumasak khusus untuk kami berempat cuma disentuh basa-basi oleh Bian, ketika kedua putrinya dan aku lahap menyantapnya. Bian tak bisa menutupi hatinya yang gundah gulana.
Aku paham dan memang giliranku yang mengalah. Sejak kami menikah dua bulan lalu, Bian sudah mengalah dengan rela mengusir Jennny dari kamar tidurnya ke kamar kosong di sebelah dapur. Awalnya kucing berwarna kelabu itu mencakar-cakar pintu kamar yang tertutup rapat dan aku bisa merasakan Bian gelisah di atas tempat tidur mendengar cakaran yang berulang-ulang. Sekarang cakaran berkurang walau tidak terhenti sama sekali, dan Jenny sepertinya bersiap menunggu kami masuk kamar untuk berlari cepat mencoba menerobos masuk sebelum pintu tertutup total.
Jika kucing itu berhasil masuk kamar, Bian cuma mengangkat bahu, “Jenny biasa tidur samaku ,” ucapnya resah, “Sudah bertahun-tahun.”
“Lalu kau masih membiarkan dia tidur denganmu setelah ada aku di rumah ini?” kutahan dadaku yang tiba-tiba meletup-letup.
“Bukan begitu, sayang. Aku hanya cerita. Tentu saja, kau yang harus ada di sampingku setiap malam,” ucapnya lalu mengangkat Jenny yang mengeong keras ke luar kamar.
Selalu saja ada beberapa menit mereka berduaan sebelum Bian masuk kembali ke kamar, naik ke tempat tidur, dan merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Namun aku tahu dia masih terusik dengan suara mengeong di luar kamar. Bian melepaskan rengkuhannya, terdiam menghadap langit-langit, merasa serba salah: tetap di kamar bersamaku atau ke luar kamar untuk Jenny.
Kulanjutkan tidurku, dengan atau tanpa pelukan Bian. Hidupku memang sudah ditakdirkan untuk hidup berdampingan secara damai dengan kucing, suka atau tidak suka. Agaknya kedua putri Bian sama seperti aku, bahwa kucing adalah kenyataan hidup. Kedua anak yang manis itu tak pernah menyusahkan aku dan Bian: pergi dan pulang sekolah tak diantar dan tak dijemput, juga tak mengeluh jika Jenny mengeong bertubi-tubi di kaki mereka ketika makan, nonton TV, atau mengerjakan PR.
“Biar anak-anak tumbuh menjadi sosok mandiri,” begitu acapkali yang diucapkan Bian. Tak ada kekhawatiran sedikit pun meski tengah marak kasus penculikan anak. Namun jika Jenny berlari mengejarnya untuk ikut masuk ke dalam mobil, mata Bian pun tampak khawatir: tak tega meninggalkannya.
“Apa mau kau bawa ke kantormu?” kutanya, menyindir.
“Kalau saja teman-teman di kantor tak keberatan…” tanggapnya serius.
Aku pun bungkam tak mau memperpanjang obrolan itu sedang dia diam justru untuk memperpanjang pikirannya yang menerawang tentang Jenny,.
Suatu malam kucing kelabu itu menyelinap masuk ke kamar karena Bian sepertinya sengaja membiarkan pintu terkuak sedikit. Aku tersentak bangun akibat gerakan halus di tempat tidur dan dalam temaramnya lampu kamar, kuperhatikan Bian tampak bahagia dengan mata tertutup dan mulut yang tersenyum kecil bersama Jenny, yang memandang tajam ke arahku dengan kedua matanya yang bersinar terang. Seolah Jenny sedang menantangku, “Mau apa lu???”
Aku tak mau teprovokasi dan membalikkan badan membelakangi keduanya, meneruskan tidur sambil bertekad akan membahasnya dengan serius besok pagi.
Paginya aku tersentak dengan jilatan lidah di keningku. Bian malah tertawa riang melihatnya tapi menyadari aku marah, segera dia tarik Jenny dan membiarkan Jenny melanjutkan jilatan ke kening, pipi, dan dagunya. Kutahan dadaku yang bergolak menyaksikan tontonan kemesraan keduanya yang memuakkan dan segera bangkit dari tempat tidur, menjauh dari keduanya. Kemarahanku pagi itu tak menyisakan kata-kata yang mau kuungkapkan kepada Bian.
Cilakanya Bian menganggap bungkamku sebagai persetujuan untuk kembalinya Jenny ke tempat tidur. Maka malam demi malam kami lalui bertiga bersama Jenny sebagai rutinitas. Aku membelakangi mereka berdua, yang saling berpelukan dan setiap ke kamar mandi aku pun menyaksikan Bian tertidur lelap sementara Jenny menatap tajam kepadaku dengan dua bola mata bulatnya yang bersinar tajam. Sorot yang bukan lagi menantang namun penuh kebencian.
Pada malam Minggu kedua di bulan ketujuh pernikahan kami, aku janjian bertemu Rika, adik misanku yang sudah lama tak bersua karena merantau bekerja ke Jakarta. Kedua putri angkatku santai nonton TV, Bian duduk menemani sambil mengelus-ngelus Jenny. Ketika taksi online tiba, kupeluk kedua putri angkatku dan melangkah ke pintu berharap Bian berdiri mengantar. Tapi dia tetap duduk, “Enjoy ya sayang,” katanya sambil mengelus Jenny, yang menatapku dengan mata jahatnya. Malam itu aku tak langsung membalikkan badan tapi membalas tatapan sorot tajam yang jahat itu.
Di hotel tempat Rika menginap, kami berdua asyik ngobrol mengenang masa kecil, berbagi mimpi, dan tentu bertukar kenyataan hidup. Ia tampak kaget ketika kusebut nama lengkap Bian Kurnia dan profesinya. Sebelumnya Rika hanya mendengar sepintas pernikahanku yang terkesan terburu-buru.
“Ha? Itu mantan suami Diana, teman kerjaku di Jakarta,” ucapnya membuatku melepas Rika bercerita lebih banyak. Benar Diana pergi meninggalkannya cuma bukan karena lelaki lain namun tersebab Diana tak tahan bertahun-tahun terusik oleh kehadiran Jenny yang selalu dinomorsatukan Bian.
Aku diam, menarik nafas panjang.
Saat itu sudah menjelang tengah malam dan teleponku berdering. Panggilan dari Bian. Suaranya terdengar panik, sepertinya dia tersentak bangun dari tidurnya dan tak menemukan Jenny di sampingnya, juga tak ada di dalam kamar, maupun di ruang TV, di dapur, dan di halaman belakang.
Kuhela lagi nafas panjangku, “Sayang, gimana aku tahu dia di mana? Aku sedang di luar rumah” sambil mengenang langkah-langkahku tadi, mulai dari pintu rumah menuju taksi online yang kuminta menunggu menjauh sekitar tiga pintu rumah.
Pada malam Minggu kedua di bulan ketujuh pernikahan kami, kusebar remah-remah ikan rebus sampai ke jalanan di luar gerbang rumah. Beberapa remah sudah kucampur dengan racun tikus dan cairan pembasmi nyamuk.
Aku paham dan menerima takdirku sebagai perempuan yang bukan penyuka kucing dan juga bukan pembenci kucing tapi aku tak mau hidupku terganggu oleh seekor kucing, siapapun namanya.
***
Bandung Barat, 8 Mei 2020
Komala Sutha yang lahir di Bandung, 12 Juli 1974, menulis dalam Bahasa Indonesia, Sunda, dan Jawa. Tulisannya dimuat di berbagai media cetak dan daring di antaranya Jawa Pos, Republika, Kompas id, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Merapi, Minggu Pagi, Harian Rakyat Sultra, dan berbagai ragam media lainnya. Buku tunggalnya “Separuh Sukmaku Tertinggal di Halmahera” (MujahidPress, 2018) dan Cinta yang Terbelah (Mecca Publishing, 2018).