Tidak ada lagi drakula
Yang ada cuma darah kuli
Menggenangi tanah
Tumbal harakiri
***
Sumbang
Suntuk di ujung pena
Tumpah pada kertas berjelaga
Kuremas lalu kubuang ke tong sampah
Karena salah mengeja kata-kata
Dilema Gila
Dengarlah,
Wahai ruang-ruang yang menganga
Mereka sesukanya menyumpal apa saja
Sampah, noda, limbah
Dendam, fitnah, serapah
Tapi,
Kau diam, terlena
Mereka menyeretmu dalam pusaran ambigu
Lalu menyandera hingga layu
Asa pun diaduk dalam belenggu
Tapi,
Kau malah gigil membisu
Saat mereka melesat jauh
Memburu mustika biru
Mereka pun abaikan petuahmu
Tengik peluhmu
Bahkan laguna dukamu
Tapi, kau tetap betah di situ
Huh!
***
Sajak Gila!
Titik, koma, seru, tanya
Tanda baca menari di kepala
Dipetiknya dengan kutipan
Dikurungnya dalam kurawal
Begitulah si Gila merawat kewarasannya
***
Gila Sendiri
Di antara marka
Di perempatan jalan
Orang gila haru tersedu
Di bawah temaram lampu,
Didekapnya tiang kusam abu-abu
“Waras, waraslah engkau, wahai rambu!”
Orang gila berseru
***
Aries Munandar, seorang penikmat puisi dan juga jurnalis di Pontianak, Kalimantan Barat. Dia beberapa kali meraih penghargaan jurnalistik nasional maupun internasional. Sejumlah karya jurmalistiknya bisa dibaca di Peladangkata.com.