Saya ingat betul kamarnya bernomor 1.7, satu-satunya kamar yang tersisa waktu itu.

Ketika mengajaknya bertemu, ia tidak ingin berdua di perumahan atau tempat apapun, selain di hotel -yang murah sekalipun. Saya merogoh sedikit uang dari saku celana untuk menemani malam minggunya. Malam minggu pertama setelah saya sebulan di kampung halaman memeras keringat dan sekali dua kali mengiriminya duit. Tidak banyak, tetapi cukup untuk makan tiga sampai empat hari. Lagi pula, ia masih numpang makan sama mbaknya. 

Saya sudah lama bersamanya dan masih belum sempat juga berkunjung atau sekadar menunjukkan muka kepada mbaknya. Orang tuanya? Tinggal di tanah yang jauh, tidak boleh ada yang tahu, alasannya. 

Yang terpenting, bahwa sejak umur enam tahun ia sudah bersama mbaknya. Umur mereka hanya terpaut kurang lebih lima tahun, sedikit. Tapi perbedaannya banyak, ia mengakuinya sendiri. Mbaknya cenderung pendiam dan ia sendiri lebih sedikit bawel bahkan cenderung menjengkelkan. Ketika saya tanya apa tidak pernah berantem dengan saudaranya, ia tertawa. Tawa itu sebagai jawaban tentunya. 

Sebelum melancarkan kata-kata dari mulutnya saya sudah mengerti bahwa pertengkaran mereka tidak bisa dihindari. Kadang-kadang ia nangis, lalu menelpon saya hanya karena didiamkan. Ia cerewet tapi sedikit lemah di beberapa kondisi.

Ia melepas kerudungnya setelah setengah tahun menjalani hubungan dengan saya. Dia cerdas dan kadang-kadang membuat geram. Saya lelaki yang besar dan tumbuh di kalangan taat beragama. Perihal mencopot kerudungnya sedikit banyak membuat saya geram. Meski pertengkaran saat itu susah dihindari juga, beruntung saja rambutnya bagus dan lurus.

“Kamu mau masuk neraka dan kedua orang tuamu ikut digantung hanya karena kamu mengumbar aurat?”

Ia diam dibuntuti senyum menjengkelkan, “Siapa yang hendak menghakimi surga dan nerakanya seseorang, yang bahkan di saat surga dan neraka itu dijanjikan kamu sendiri tidak tahu berada di posisi mana?”

Saya ingin menampar pipinya yang sedikit tirus. Tetapi benar-benar saya urungkan, tidak ingin membuat ia risih dan kemudian membenci. Akibatnya, saya dengan berat hati mengiyakan ia mencopot kerudung. Dengan sangat berat hati (catat!). 

Dalam hati terdapat banyak omelan yang kalau disimpulkan kira-kira seperti ini: 1). Saya akan sekuat tenaga membuat ia kembali memakai kerudungnya, memakai cadar bahkan. 2). Saya tidak akan segan-segan menamparnya jika suatu waktu kembali membuat ulah yang baru. 3). Kalau poin kedua belum dilanggar, saya akan senantiasa menjadikan ia pacar, sampai sehari sebelum kiamat sekalipun.

Alasannya, saya hanya tidak senang kepada orang yang berusaha mencopot kerudung, selain itu terserah. Makanya, perihal mengajak bertemu dan berduaan tidak dapat saya hindari. Saya yang mengajak. 

Ini adalah pertama ketika kami memutuskan untuk menginap di suatu tempat yang hanya ada kami. Bahkan, dari saking gilanya, kami ingin mencari pulau atau bahkan apapun yang hanya bisa kami berdua tinggali. Sayang, kami tidak cukup banyak uang. Setelah ajakan untuk berdua di perumahan ditolak, maka kamar hotel nomor 1.7 adalah jalan terakhir. 

Tangannya yang kecil memintal gagang pintu dan pintu terbuka disertai derik yang bikin ngilu. Saya mengambil kunci dengan gantungan berupa nomor satu titik tujuh. Ia merebahkan tubuhnya di kasur putih yang telah dibersihkan. Ruangannya benar-benar terbebas dari amis yang biasa saya nikmati di kamar kost. Ini menyenangkan, pikir saya, apalagi ditemaninya.

Ia bangun lantas membuka baju dan tinggal mengenakan kaos dengan tulisan ‘why?’. Pelan-pelan saya mulai terbiasa melihat ia tanpa kerudung, meski disertai satu sampai tiga pertanyaan lain.

“Apa kamu tidak ingin suatu saat kembali memasang kerudung lagi?”
“Tidak tahu.”
“Kamu pernah empat tahun di pesantren, masa iya seperti ini.”
“Jangan banyak ngatur, mbakku saja tidak secerewet kamu soal kerudung ini.”

Ia kemudian melanjutkan bercerita bahwa mbaknya hanya menampar ketika ia melepas kerudung. Sesudah itu, mbaknya tidak lagi banyak membas soal kerudung. Ia benar-benar dibiarkan, kalau tidak diabaikan. Saya mulai berpikir untuk juga mengabaikan dan tidak mengungkit soal kerudung lagi. Tapi, satu pertanyaan tidak bisa dibendung dan keluar dari lubang tenggorokan.

“Apa orang tuamu sudah tahu soal ini?”
“Tidak, kalau mereka tahu mungkin aku akan berpikir lagi untuk kembali memakai kerudung.”
“Tunggu saja mbakmu melapor.”
“Tidak mungkin, mbakku tidak secerewet kamu punya mulut.”

Ia memang kasar ketika berbicara dengan saya dan saya paham sejak awal. Lima detik kemudian saya melolos rokok dan menawarkan kepadanya. Bukannya menolak, ia juga mengambil sebatang dan mengapit dengan dua bibirnya yang merah. Niat saya hanya bercanda, namun ia benar melolos rokok yang saya sodorkan. 

“Ini pertama kamu merokok?”
“Dari mana kamu tahu?”
“Dari cara kamu mengeluarkan asap dan memegang batang rokok terlihat jelas.”

Ia tertawa dan menampar pipi saya dengan pelan. 

Sepanjang malam kami bercakap tentang hal-hal remeh dan sulit di dunia. Perihal mengapa ia suka kangen tiba-tiba dan kerap menangis saat tidak disapa tiga hari oleh mbaknya. Sekali-kali membahas mengapa dunia sangat teratur padahal setiap elemennya kontradiktif; hujan-panas, sedih-bahagia, siang-malam, mengapa beraturan dan tidak berbenturan. Ia menjawab dengan reflek bahwa itu semua rekayasa Tuhan.

“Kamu yakin ada Tuhan, tapi kamu tidak menutup aurat?”
“Aku percaya Tuhan satu hal, memakai keurudung hal lain, jangan bahas itu lagi.”
***

Ketika bangun tidur dan masih kuamati ia lelap, tidak saya sentuh sedikit pun bagian tubuhnya. Lima menit kemudian ia pelan-pelan membuka mata dan memanggil nama saya. Tidak ada angin tidak ada hujan ia malah mendekatkan kepalanya ke dada saya dan melingkarkan tangannya ke pinggang. Hal semacam itu -ia terlihat lemah dan tidak berdaya-saya pikir hanya bisa didapati saat ia tidak diajak bicara mbaknya dan ketika ngantuk setelah bangun tidur. Selain di dua kondisi tersebut saya tidak akan bisa melihatnya menjadi lemah. 

Ia merengek mirip bayi tujuh bulan ketika saya berusaha melepaskan tangannya yang melingkar ke pinggang. Bahkan, tanpa ada aba-aba ia berani mengecup pipi saya dan tentu membuat saya terkejut bukan main. Tidak biasanya ia seperti itu.

“Apa yang kamu lakukan kepadaku semalam saat aku pulas?”
“Aku menyusul tidur setelah kamu terlelap.”
“Bohong.”
“Kamu mungkin mimpi buruk.”

Ia tidak melanjutkan dan mengangguk sebagai tanda kata ganti dari iya. Tangannya masih melingkar di pinggang dan tubuhnya sungguh tergolek lemas. Saya tidak risih atau marah sebagaimana marahnya ketika ia memutuskan melepas kerudung. Meski lahir dan tumbuh di kalangan agamawan yang taat, saya sungguh sangat abai terhadap banyak hal -termasuk kerudung.

Perihal kerudung, itu tentu alasan yang dibuat-buat mengatasnamakan ajaran agama. Sesungguhnya (kalau boleh jujur dan tidak menutup-nutupi) saya hanya tidak ingin ia dilihat oleh orang selain saya. Maksud saya, tidak ingin lehernya yang kuning langsat dipandang oleh pria lain. Makanya saya membawa ancaman masuk neraka bagi orang membuka auratnya. Itu hanya satu-satunya cara yang mungkin bisa saya lakukan. Memang sejak awal saya berbohong perihal kerudung.

Dan saya cemas bohong urusan kerudung terungkap oleh mbaknya, yang mendadak menelepon ketika saya duduk di restoran, di seberang dua perempuan tanpa kerudung berleher jenjang kuning langsat. Telepon mbaknya membumikan saya.  

“Sudah berapa tahun menjalin hubungan dengan adik saya?”
“Dua tahun setengah kurang tiga hari tujuh jam.”
“Sangat rinci sekali mengingat durasi.”
“Ini persoalan penting, saya tidak main-main.”

Saya berusaha serius ketika mbaknya berbicara dan tidak pernah menduga maksud utamanya. Mbaknya seperti mengirim petir ketika menyatakan bahwa ia menghasilkan dua garis merah di tes pack. Awalnya saya mengira bercanda, sebelum akhirnya ia mengambil alih telpon dan berbicara dengan saya menggunakan suara serak akibat tangisan. Saya percaya dan ini petir di siang bolong yang gila!

“Kembalikan telepon ke mbakmu, aku ingin bicara serius.”

Tiga detik, suara yang menyahuti saya berbeda. Meski ada beberapa kesamaan-kesamaan yang tidak dapat dihindari. Suara mbaknya lebih halus dan berwibawa.

“Saya benar-benar tidak tahu perihal itu.”
“Jangan bohong, apa yang kalian lakukan dua bulan lalu?”
“Saya sungguh tidak tahu.”

Saya ingin menangis ketika ucapan saya tidak bisa dipercayai. Saya hanya melanjutkan;

“Saya tidak tahu apa yang sebetulnya terjadi, tetapi ketika kami tidur berdua di kamar bernomor satu titik tujuh, ada waktu malam itu ketika sebentuk ular yang menyelinap masuk ke balik celananya, barangkali itu yang membuahi rahim dia.”

“Tidak mungkin, tidak mungkin ular membuahi…”

Ia langsung memutus perkataan mbaknya dan suaranya samar-samar terdengar dari balik telepon.

“Sepertinya memang benar, ada seekor ular yang masuk ke balik celanaku dan membuahiku malam itu.”

Hening dan semua bergeming.

Terbayang di kepala saya hanya dengan nomor satu titik tujuh. Juga terbayang ketika dia terlihat lemah dan tidak berdaya dengan tubuh tergolek lemas dan tangan melingkar  pinggang saya. Pula leher-leher kuning langsat bermunculan kembali. Lima detik sesudah itu, terasa ada yang melata kencang di selangkangan saya.

Saya pun semakin cemas bohong urusan pacar, kerudung, dan ular tercium oleh mbaknya. Segera saya tutup telepon.
***
Yogyakarta, 2021

Moh. Rofqil Bazikh, penulis berdomisili di Bantul Yogyakarta. Tulisannya telah tersebaar di berbagai media, anatara lain: Tempo, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Solo Pos, dan lain-lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *