Kawan kerja semasa tinggal di kota kelahiran dulu mengirim surat elektronik, tentang PSBB di kotanya serta karantina wilayah selama tiga bulan belakangan. Imbasnya ia dirumahkan dengan gaji dipotong 50 persen. Saya manggut-manggut saja, cerita yang sudah jamak terdengar sambil tertanya-tanya, kenapa pakai surat elektronik, bukan WA. 

Berikutnya yang membuat saya terperanjat, tentang  peraturan jaga jarak di kotanya yang amat berbeda dari kota-kota lain —sampai menyerempet urusan ranjang.

“Pemerintah kota kami memasang satu sampai tiga CCTV di setiap rumah agar setiap aktivitas dapat dikontrol. Hanya kamar mandi yang tidak dipasang CCTV. Kamar tidur juga dipasang CCTV sehingga suami istri tidak dapat melakukan aktivitas ranjang. Bahkan sekadar hanya berpelukan. Dan bagi siapa yang melanggar akan mendapatkan hukuman. Hukumannya juga aneh; menjadi relawan di rumah sakit yang penuh pasien Covid-19 selama 2 minggu.”

Aneh! Maka saya teruskan ke bagian selanjutnya, yang kali ini membuat saya bersimpati.

“Sebenarnya aku bukanlah warga yang suka membangkang peraturan, tapi masalahnya, aku baru saja menikah tepat sehari sebelum peraturan itu berlaku. Kontan tak sekalipun aku pernah menyentuh istriku. Otomatis sampai hari ini istriku masih bersih total. Mungkin kau akan bertanya, mengapa tidak setelah ijab kabul? Nah, meskipun saat itu himbauan untuk tidak membuat keramaian sudah berlaku, keluarga kami tetap nekat menggelar nikah. Akibatnya aku dan istriku kelelahan. Dan ketika bangun pagi aku kaget, ada petugas berseragam memasang CCTV di kamar kami! Barulah sadar hari itu adalah hari pertama diberlakukannya peraturan super aneh. Kau bisa bayangkan kawan, tiga bulan menikah tapi tidak pernah menyentuh istri sendiri. Aduh! Betapa sakit kepala ini rasanya.”

Sekarang saya mulai paham kenapa harus pakai surat elektronik. Terlalu rumit jika lewat WA, pikir saya. Urusan hasrat ini, dahulu kala, memang pernah kami tangani dengan baik dan mulus -ya sempat ada kerikil tapi berhasil dimuluskan.

Dahulu kala itu, kami pergi ke Spa Xtra, tempat pijat plus pelayanan ekstra sesuai tip. Begitulah, ada tambahan yang membuat mata merem-melek, jantung berdebar-debur, darah naik-turun. Awalnya coba-coba. Belakangan keseringan. Akhirnya kecanduan. 

Kecanduan apapun tak pernah baik untuk siapapun, jadi kami bersumpah menjadi partner setia. Sebagai partner, kami saling mendukung, membantu, juga mengingatkan -utamanya mematikan ponsel bila sedang di Spa Xtra – dan, terpentingnya, menyimpan rahasia. Ponsel yang aktif di Spa Xtra adalah sumber bencana.

Dan saya nyaris jadi korban bencana, ketika saya, yang sudah kecanduan, harus main tunggal. Pada satu sore yang naas, partner setia sedang bokek namun menolak pinjaman lunak saya, dan tetap menolak ketika diubah jadi traktir. Artinya, tak ada yang mengingatkan untuk mematikan ponsel. Maka ketika panggilan pacar saya (sekarang istri) tampil di layar, saya pun mati kutu. Tak mungkin tak mengangkat. Saya pun bergegas ke luar dari kamar, tapi persis saat itu seorang pemijat Spa Xtra dari barisan kamar-kamar tertawa genit yang amat keras. Mampus!

Bohong saya “Ini sedang di restoran, meja sebelah ribut” tak diterima pacar namun untunglah campur tangan partner setia menyelamatkan rencana pernikahan saya. Tak tahu apa yang dia lakukan dulu, tapi kini giliran saya membalas budinya, yang saya sangat yakin benar-benar sedang stres. 

Maka saya teruskan membaca surat elektroniknya yang panjang demi memahami keluh kesahnya. 

“Sungguh sakit dan berat kepalaku. Untuk itulah aku menulis surat elektronik ini. Selain ingin berbagi cerita agar kewarasanku tetap terjaga, aku juga bermaksud ingin meminjam sesuatu kepadamu. Tenang saja, bukan uang. Di masa seperti ini pastilah sangat berat bila ada orang yang bersedia meminjamkan uang. Jadi begini kawan, untuk tidak memperpanjang cerita aku katakan saja langsung niatku.”

Alis saya terangkat otomatis. Partner setia yang dulu itu sudah suka bertele-tele, tidak seperti masa spa: efektif dan efisien. Saya teruskan membaca, dengan alis yang masih terangkat.

“Sejujurnya aku ingin meminjam sex toys koleksimu yang dulu pernah aku lihat di indekos. Aku berjanji selepas wabah berakhir segera aku kembalikan. Mungkin kau akan bertanya mengapa aku tidak membeli saja? Aku bukan tidak mau membelinya kawan. Seperti yang sudah kutuliskan di awal, gajiku dipotong  50 persen. Jika aku harus membeli mainan itu, tentu saja akan mengganggu amunisi ekonomi dalam menghadapi wabah ini. Lagi pula kau kan punya beberapa koleksi. Tentu tak masalah jika aku pinjam salah satunya. Sumpah, aku berjanji setelah wabah berakhir, langsung aku kirim kembali kepadamu. Aku memohon sudilah kiranya kau membantuku kali ini kawan,” tulisnya memelas.

“Sekian dulu surat elektronik ini aku tulis. Semoga wabah ini segera berakhir dan kehidupan kembali normal. Sekali lagi aku tunggu kabar baikmu kawan. Salam,” begitu ia mengakhiri surat elektroniknya.

Saya sangat berempati dengan masalahnya. Demi efektifitas dan efisensi solusi atas masalahnya, saya ambil ponsel, Jangan dibikin repot. Persis mau menelepon, saya mendadak punya pikiran lain.
***

Dear Mahli.

Mahli kawanku yang baik, sudah lama kita tidak berkomunikasi, ya? Sepertinya sudah satu tahun lebih kita tidak berkirim kabar. Untung kita masih bisa berkomunikasi saat ini. Saat kita tidak hanya membutuhkan makanan, multivitamin, dan jaga jarak saja. Tapi juga kewarasan pikiran serta kawan cerita. 

Kawanku yang baik. Membaca suratmu membuatku kembali terkenang masa-masa dulu. Kadang aku tertawa sendiri kalau mengingatnya. Apalagi terkait hobi spa dan cerita yang menyertainya, hahahaha… Aku sesekali masih pergi ke spa. Aku rasa suatu saat kita perlu juga mengulanginya lagi, hehehe…

Oh, ya Mahli, aku turut bahagia mendengar kabar kau sudah menikah sekaligus prihatin dengan situasi yang kau alami. Wabah ini memang benar-benar telah banyak mengubah hal-hal normal dalam hidup kita. Sebagai manusia kita hanya bisa pasrah dan berdoa semoga semua ini segera berlalu. Amin. Terkait keinginanmu meminjam koleksiku, dengan berat hati aku ingin meminta maaf kawan. Sebab sejak wabah ini merebak dan diberlakukannya PSBB, aku pun telah pula di PHK. Hal itu tentu saja membuat ekonomiku terguncang, sehingga semua koleksiku terpaksa kujual. Sepertinya seorang pecandu spa yang tak bisa ke spa di masa pandemi yang membeli koleksiku itu. Bedanya, dia punya uang berlimpah.  

Mahli kawanku yang asik. Kalau boleh aku jujur padamu, saat ini aku pun mengalami hal serupa. Hanya saja penyebabnya bukan larangan pemerintah kota, melainkan karena istriku kabur dari rumah. Dan sialnya lagi, istriku kabur bukan lantaran aku di PHK, tetapi akibat menemukan koleksiku itu. Ia benar-benar kecewa dan merasa dikhianati. Seandainya saja dia membuka laci rahasiaku setelah koleksi itu terjual sama si pecandu spa sialan yang kaya tadi, mungkin nasibku berbeda. Kini aku benar-benar merana karena tinggal sebatang kara. Tak ada istri, tak ada sex toys, tak bisa ke spa, juga tak punya uang untuk ke spa kelak jika buka lagi.  

Sungguh membuat aku hampir gila. Aku bersyukur sekali kau mengirimi aku surat. Sehingga kewarasan masih bisa aku jaga. Kurasa nasibmu masih lebih baik dariku kawan, sebab kau masih bisa melihat wajah istrimu. Sedangkan aku? Jadi perbanyaklah bersyukur dan manfaatkan rasa syukur itu sebaik mungkin.

Sekian dulu surat dariku, kawan. Maaf kalau balasan ini tak sesuai harapanmu. Doaku, semoga kita tetap waras dan bisa melewati badai Covid-19. Amin.

Teman baikmu, Wahyudi.

Saya baca ulang email itu dan pencet ‘Kirim’. Segera setelah itu saya ambil ponsel dan mengirim WA ke istri, “Cintaku, nanti kujemput jam seperti biasa kan… Myuah” plus tiga gambar hati merah. 

Dalam hati saya nyelutuk. Mau minjam sex toys saja, kok repot. 
***

Ilham Wahyudi lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang juru bicara bagi teman-temannya yang malas bicara. Beberapa cerpennya ada yang dimuat dan ada pula yang ditolak. Buku kumpulan cerpennya ‘Kalimance Ingin Jadi Penyair’ sepertinya masih lama untuk diterbitkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *