Perempuan itu menyipitkan mata begitu gendang telinganya menangkap suara gemuruh berduyun-duyun. Deru iring-iringan pesawat terbang mendegam-degam tatkala melintas tepat di atas tempatnya berjongkok. Di antara dua tembok berjarak satu setengah meter yang mengapit tubuhnya, ia menggiring kawanan burung besi itu hingga tak terjangkau oleh mata lamurnya.
Ia lemaskan kedua tangannya sebelum menyeka keringat sejenak, lalu menarik napas dalam-dalam. Wajahnya memucat kuyu. Bibirnya memutih kelelahan. Pun telapak tangannya mengelupas dan perih. Namun, ia kembali menggumuli tumpukan pakaian bercampur air dan detergen, yang telah menguras tenaganya sedari subuh.
Sesekali telinganya menangkap suara yang membuyarkan jiwa raganya. Kali ini bukan deru pesawat terbang lagi tapi suara dari bilik-bilik kecil di dalam rumah. Ia menggeleng-geleng kepala sembari melemaskan otot-ototnya untuk mengusir suara-suara bising. Tubuhnya ringkih, punggungnya telah melengkung serupa sabut kelapa.
Perempuan itu terus mengucek pakaian hingga bersih. Ia tidak mungkin menentang takdir dan tahu sebanyak apa pun detergen untuk membersihkan, noda tetaplah noda. Kendati noda pudar, bekasnya tetap ada. Ia sadar sesuatu yang sudah telanjur kotor sulit dibersihkan.
Namanya Mutiah, usianya lima puluh. Orang-orang memanggilnya Nyak Mut. Pagi hari ia mencuci pakaian, siangnya menyiapkan makanan untuk seluruh penghuni rumah, dan malamnya menyiapkan puluhan gelas arak, tuak, serta jamuan untuk tamu-tamu yang datang.
***
“Kemarilah, Nak, ikut saja denganku. Kau tidak diterima lagi oleh mereka, hanya aku yang mau menerimamu,” bujuk Mami Lala puluhan tahun silam.
“Benarkah, Nyonya?” balas Mutiah kecil yang menggigil kedinginan.
Seketika ada keinginan menyeruak di dada Mutiah. Keinginan yang bukan bersumber dari hati kecilnya namun ia tidak punya pilihan. Tidaklah mungkin kembali kepada ayahnya yang pemabuk. Tidak mungkin jugalah ikut pengusaha sawit yang telah berkali-kali menyakitinya. Maka, ketika malam temaram membaur dengan gerimis di pojok halte, Mami Lala menjadi malaikat baik dan penyayang setelah memberinya jaket dan sepotong roti.
Mutiah kecil lekas-lekas mengenggam tangan malaikat itu.
***
Sudah lama Nyak Mut terpasung dalam buaian malam. Ia terperosok jalan suram ketika Mutiah kecil dijual ayahnya pada pengusaha sawit demi menutup utang-utang di balik gelas-gelas bir busuk dan bola-bola judi liar.
Usianya enam belas tahun, kala itu. Senyumnya masih seranum mangga muda. Rambutnya tergerai hingga pinggul. Bola matanya teduh dipadu dengan alis yang melengkung landai.
Belum jua hilang trauma Mutiah kecil setelah direnggut paksa pengusaha sawit, ibunya pergi meninggalkannya, seolah tak kuat menyaksikan putri kecilnya berkubang derita. Mutiah menyaksikan kepala ibu dihantam botol bir setengah penuh dalam satu pertengkaran rutin setiap malam, antara seorang perempuan yang ingin melindungi putrinya dengan seorang pria pemabuk yang ingin melunasi utangnya.
Puluhan tahun gambar dan suara hantaman botol itu terus mengiang-ngiang di pelupuk mata dan telinga Mutiah kecil hingga ke pelupuk mata dan telinga Nyak Mut sepuh.
Ia kembali menekan tuas pompa air. Mengisi bak untuk membilas potongan kain yang hanya dipakai sebentar sebelum tanggal terulur di lantai. Ia peras sedemikian kuatnya, untuk membersihkan dan sekaligus untuk menghapus gambar dan suara jahat puluhan tahun lalu.
Mami Lala, malaikat pengganti ibunya, yang menyelamatkannya dari setan pengusaha kelapa sawit.
Semestinya.
***
Seberkas cahaya temaram membias pada diri yang kusam. Lampu diskotek dan aroma anggur merah membuat mual perut. Menawarkan mimpi sesat dan onggok tubuh mati. Malam demi malam Mutiah terlentang pasrah, hingga para pria tersenyum puas sembari menyerahkan rupiah.
“Besok kamu tunggu aku, jangan terima siapapun,” perintah yang berulang terdengar di telinga Mutiah seolah kesetiaan adalah nafas kehidupan mereka.
Semua pria buas terpuaskan oleh kemolekan tubuh Mutiah. Bagi Mami Lala, Mutiah muda adalah barang pilihan dengan harga khusus. Mutiah muda hanya disajikan Mami Lala untuk para petinggi berkuasa dan pria berkantung tebal, entah berbau tengik atau berharum parfum.
Mutiah cuma tumpukan daging yang bisa dipermainkan sekehendak hati oleh si pembeli. Namun Mutiah muda tetap berhati dan berjiwa, seperti yang diberikan Tuhan dan dalam relung batinnya selalu menyeruak pesan: menikah, memiliki anak, dan berkeluarga bahagia.
Mutiah muda bermimpi kelak putrinya tak akan menderita. Mutiah muda bertekad akan tetap kuat melindungi anak-anaknya.
“Engkau bersedia menikahiku, Tuan?” tanya Mutiah suatu pagi. Tubuhnya masih meringkuk di balik selimut. Tuan berbadan besar dan berbau peluh sedang berdiri di dekat jendela merapikan pakaian.
Lelaki itu mendekat Mutiah. Ia menatap dua bola mata Mutiah, “Kau pelacur, aku wakil rakyat. Sudah tahu ‘kan perbedaannya?” bisiknya lembut. Suara datarnya tidak terlalu mengejutkan Mutiah. Sorot matanya kelabu. Lama mereka bersitatap pandang.
Mutiah harap-harap cemas.
“Sudah aku harus pergi. Besok tunggu aku lagi, jangan terima orang lain” katanya kemudian sambil melepas beberapa lembar rupiah, membuka pintu, dan meninggalkan Mutiah yang masih meringkuk setengah telanjang di balik selimut.
***
Nyak Mut kembali mengangkat-tenggelamkan pakaian yang digumulinya sedari subuh. Lagi, ia membilas seluruh pakaian penghuni bilik-bilik milik Mami Lala. Mutiah muda beranjak tua, tubuh bahenol berubah molor, mata jernih berganti suram. Tapi hanya Mami Lala yang mau menerimanya, sejak kecil dulu, menjadi muda, hingga sepuh sekarang.
Terik di langit merangkak bersama wajah Nyak Mut yang kian memucat.
Perempuan itu kembali menekan tuas sumur pompa, air mengalir, gemericik jatuh ke lantai semen. Ia mencuci wajah, menggosok daki, dan menghirup air, seolah hendak membasuh dosa-dosanya dengan air wudu.
***
Finka Novitasari, perempuan kelahiran Pacitan, Jawa Timur yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Alma Ata, Yogyakarta. Menulis cerpen, opini, dan esai. Beberapa karyanya telah dimuat di media cetak maupun daring. Aktif dalam Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK).