Sejak pertemuan kali pertama kami, aku sangat ingin membuat dua atau tiga lubang di kepala kecil perempuan itu—Agni. Namun, aku tidak tega untuk mengusik ketenangan pria bermata redup di sudut sana dengan pekikan Revolver. Pria semacam itu biasanya tengah melarikan diri dari gaduhnya rumah dan mulut wanitanya.

Beberapa kawanku doyan seperti itu. Menyendiri di kafe adalah jurus paling manjur, karena, jika beruntung Anda akan bertemu gadis-gadis muda yang bisa dipakai sejam dua jam —sekadar untuk mengopongkan lutut. Atau bahkan dipelihara satu  dua bulan dengan budget sedikit miring. Murah dan tentunya tidak bermulut gaduh.

Tidak diragukan bahwa Agni memang memancarkan aura mahadahsyat. Matanya cerlang dan setajam ujung tombak. Satu kedipannya setara dengan mantra jaran goyang. Sebentar saja bersemuka dengannya kamu  akan merasa inferior. Tapi dia gila!

Aku lebih suka mengatainya sakit —sakit sekaligus gila. 

Ya, perpaduan dua hal itu teramat sempurna dia perankan. Bagaimana tidak? Meniduri seratus empat pria tanpa memungut sesen pun itu lebih dari cukup untuk disebut gila, dan sakit tentu saja.  Dia membanting harga wanita sedemikian rendahnya,  meskipun sebenarnya aku suka, sedikit.

Ketika itu, di pertemuan kami yang pertama, di satu sore yang sedikit murung dan dingin, dia begitu bangga berkisah perihal perburuannya.  Seketika aku membayangkan dia berjalan di tengah-tengah lautan pria kemudian mencomot salah satu yang disukai, lantas mereka menggila di  tumpukan jerami.

Katanya, hanya pelacur yang dibayar. Dan kamu tahu? Justru pria-pria itulah yang kubayar—dengan kesenangan dan  keabadian. Aku hanya sedang menggenapi apa yang di atas sana tuliskan. Anggap saja aku Pancali, perempuan  berlaki lima yang  juga ditindih bergantian oleh para Kurawa. Tapi, di kehidupan ini akulah sang antitesis. Aku pelaku, pemburu!

Selepas mulutnya meletupkan kata demi kata bak mocong senapan mesin, dia menyulut sebatang Ardath. Sungguh pilihan merk rokok yang sangat menggambarkan dirinya; ringan tapi penyampai pesan terselubung paling cerdas. Hanya pria naif saja yang tidak tahu kode itu.

Namun, hari ini Agni sedikit berbeda. Dia masih berdaya pikat dan cerlang matanya pun tetap memuntahkan jampi-jampi pengasihan. Tapi aku menangkap gelagat aneh darinya. Segala gerak-geriknya seolah-olah berkata: akan kuterkam kau!

“Aku mau kamu,” katanya lembut, dan terdengar teramat menggoda, dan dia menggigit bibir bawahnya.

  “Maksudmu?”

  “Aduh, Sayang, kamu jangan berlagak bego, deh. Aku pasti membayarmu.”

Begitu kalimatnya tuntas  kami bersitatap. Aku seperti melihat sepasang mata angora, bulat; menebarkan permohonan paling kudus. Hampir saja kuanggukan kepala tapi … tidak! Pria sejati tidak pernah tunduk, apalagi pada perempuan semacam dia. 

“Kamu perlu diobati.”

“Aku tidak sakit, Sayang. Aku hanya  perlu sedikit bantuanmu, itu saja.”

Demi segala macam setan yang gentayangan, aku tidak akan sudi dibayar seorang perempuan. Aku bukan gigolo! Aku pemburu bukan buruan. Aku lebih memilih menghabiskan seluruh harta demi membayar perempuan, atau menembak  kepalaku, atau dirajam, atau dicambuk di alun-alun ketimbang menjadi yang keseratus lima.

“Mungkin satu atau dua lubang di kepala kecilmu cukup membantu. Aku bersedia mengotori tanganku untuk itu.”

“Kamu terlalu manis untuk hal-hal sekejam itu, Hooney.”

“Aku punya Revolver.”

Agni mendelik, menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Aku menduga nyalinya menciut, dan itu pertanda bagus. Setidaknya perempuan gila pun takut mati. Namun, beberapa detik berselang dia justru bertepuk tangan lantas bangkit dari duduk sambil terpingkal-pingkal. Mungkin di matanya aku serupa badut atau menurutnya tingkahku sekonyol aktor opera sabun.

“Aku tidak suka penolakan, semua perempuan begitu.”

Nada bicara Agni santai tapi aku dapat merasakan semacam ancaman. Matanya menikam mataku. Tidak ada lagi mata angora bulat penuh bujuk. Katanya, “By the way, apa kabarnya Marissa? Gadis itu terlalu perasa menurutku, padahal aku hanya memakai tunangannya sekali.”

Bajingan! Berani dia menyebut nama itu di depan hidungku. Aku jadi berpikir berapa banyak Tuhan menciptakan perempuan semacam ini. Atau,  dia sebenarnya seekor iblis dari kerak neraka? 

Di luar hujan mulai turun dan tempiasannya mengetuk-ngetuk kaca jendela. Dingin. Dan beberapa detik setelah Agni kembali duduk, seorang pria berkacamata masuk lantas menancapkan bokongnya di salah satu kursi. Gerak-geriknya seperti wartawan, dan DSLR yang dicangklongnya semakin menguatkan dugaanku.. 

“Kenapa tidak dia saja yang kamu jadikan keseratus lima.” Aku berkata sambil memberi isyarat agar Agni melihat  pria itu.

“Aku maunya kamu. Atau Marissa  ….”

Tidak! Marissa—permata paling berhargaku—tidak boleh lagi menderita. Namun, aku juga tidak sudi jika harus disantap oleh iblis betina gila di depanku. Masih lekat di benakku bagaimana Marissa harus dikurung di ruang isolasi RSJ, dan setiap malam  diberi suntikan penenang agar tak  histeris.

“Tidak akan kubiarkan kamu menyentuhnya.”

“Apa yang tidak bisa Agni sentuh?”

Dia benar, dan  satu-satunya cara agar Marissa tidak tersentuh adalah dengan melenyapkan Agni. Tujuan terbesar hidupku  adalah memusnahkan iblis betina gila itu dan melemparkannya kembali ke neraka.  Dan puji Tuhan,  deep web menyediakan segalanya, termasuk Revolver kaliber 44 dengan delapan pelor yang kini terselip di pinggangku.

“Bagaimana, Hooney?” Agni berkata demikian sambil mengetuk-ngetuk meja, memainkan nada “We will rock you” punya Queen. “Kamu membantuku. Marissa aman, atau ….”

“Atau kubuat dua lubang di kepalamu terlebih dulu.”

“Huuh! Kenapa semua pria suka gertak sambal, sih?!” Dia mencibir.

Kuambil Revolver dan kuletakkan di meja. 

“Kaliber 44, kan? Aduuh, mainan yang bagus, tapi aku lebih suka Glock 17. Kalau kamu bersedia akan kuberi sepucuk sebagai bonus. Aku tahu pemasok terpercaya.”

Sialan! Betina satu ini memang benar-benar sialan.

Hujan telah  sepenuhnya reda,  meninggalkan jejak-jejaknya di setiap kaca jendela. Di luar sana terlihat beberapa orang dengan payung di tangan mulai berseliweran. Si pria berkacamata sedang membaca koran, si barista  tengah masyuk dengan coffe maker.

Agni bangkit lantas menaruh secarik kertas di atas Revolver. Katanya, aku tunggu kabar baik darimu, oke. Setelahnya dia berbalik dan berlalu. Harus kuakui gerakan pinggulnya sangat menawan, belum lagi betisnya, benar-benar bagus. Pasti dia akan jadi santapan yang lezat.

Paramount Hotel-113. Itu yang tertera di kertas dengan tinta biru. Aku tahu tempatnya, beberapa  blok ke Barat dan bila berjalan kaki hanya memerlukan waktu tak lebih dari lima belas menit. Aku perlu bergegas!

***

Moncong Revolverku menyalak nyaring, dua kali. Gemanya dipantulkan oleh gedung-gedung tinggi di kedua sisi jalan. Aku merasakan gema itu bak bisikan selamat tidur dari Ibu ketika kanak-kanak—menentramkan. Beberapa jenak berselang teriakan panik dan histeris mencabik-cabik udara. Agni tengkurap di trotoar,  dua lubang di kepalanya menganga serupa mulut gua, dan dia nyaris tenggelam oleh kubangan darahnya sendiri. 

Kudekati bangkai perempuan sialan itu lantas kutendang bokongnya beberapa kali. Sekadar memastikan dia benar-benar mampus karena biasanya iblis tidak mudah dibuat mampus. Setelah itu, aku menembak ke udara:  satu, dua, tiga, empat, lima, enam kali. Dan seperti yang si pria perlente itu katakan, “Setelah kau habisi dia, teruslah bertingkah seperti orang gila, dan agar lebih meyakinkan, kau perlu telanjang bulat. Karena  di negeri ini, orang-orang gila biasanya tidak tersentuh.”

Maka, di sinilah aku. Kira-kira seratus meter dari pintu masuk Paramount Hotel, bugil dan mengacung-acungkan Revolver, bersorak bersama Lucifer di negeri tempat orang-orang gila, licik, dan jahat bersekutu.


***

Rayi El Fatih, Sopir truk penyuka biru dan Manchester United. Cerpen-cerpennya pernah dimuat oleh beberapa media daring dan luring. Akun Facebook: Rayi El Fatih, akun IG: @rayi.ef

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *