Sudah dibilang,
Jangan keras, membatu
Menerjang pusaran kuasaku
Akan ada arus pasti melibasmu
Kurasa kau bukan tak tahu
Betapa digdaya tajiku
Atau mungkin kau sekadar menguji
Mengadu nyali
Ini kali kedua kau berpolah
Terentak lagi tidurku seketika
Deraan lampau tak membuatmu jera
Malah makin pongah
Kau memang bukan lawan sepadan
Namun, penamu teramat menghunjam
Bikinku meriang semalaman
Kali ini tak ada kompromi
Kulumat sudah kebebasanmu,
Berangus!
***
Serdam, 21 Mei 2022, 22.48 WIB
Dongeng Pengantar Tidur
Di suatu ketika pada sebuah masa
Saat negeri manusia tak ubahnya kebun raya
Para buaya turunan godzila berpesta
Menghamburkan upeti dari para cecurut dan lintah
Mereka sungguh sakti mandraguna
Memiliki senjata bersarung rupiah
Sekali libas, musuh terkapar tak berdaya
Paling tidak, hidupnya pasti dirundung susah
Negeri itu memiliki sesembahan berupa gurita
Gurita ajaib, keturunan Empu Cendana
Kesukaannya menyantap cicak pengganggu suasana
Buaya, godzila, dan gurita kini meradang, dan gerah
Keangkuhan mereka mulai goyah
Diserang tuntutan dan sumpah serapah
Namun, mereka tidak akan pernah menyerah
Masih banyak jalan menuju roma, pastinya
Kumpulkan kekuatan para hulubalang setia, atau
Gunakan taktik devide et impera
***
Pontianak, 5 Januari 2010
Aries Munandar, seorang penikmat puisi dan juga jurnalis di Pontianak, Kalimantan Barat. Dia beberapa kali meraih penghargaan jurnalistik nasional maupun internasional. Sejumlah karya jurmalistiknya bisa dibaca di Peladangkata.com.