Yang membacaku
lewat kicau burung yang
menuliskan suaranya
pada sajak ini
hanyalah Ibu
yang seribu tahun
lagi ingin selalu
kusimak kata-kata
yang tak
tersampaikannya itu
— karena terlalu sibuk
dengan kata-kataku.
***
Al Ikhsan, 2022
Secangkir Kosong
Ada secangkir kosong
yang berteduh di bawah air mata
dan bernaung di setiap amin—
yang mampu menghapus segala
cemas dan ingin.
Ada secangkir kosong
yang dipeluk mesra oleh ulah sepi
dan dielus tangan-tangan waktu
supaya cepat tidur nyenyak
bersama mimpi yang sesak berdesak.
Ada secangkir kosong
yang hanya diisi segala omong kosong
dan belum sempat kuaduk
di setiap duduk dan tunduk—
segala kata telah tumpah menjadi sampah.
***
Al-Ikhsan, 2020
Clocktober
Sebenarnya seberapa jauh
aku meninggalkan tubuh,
sehingga tak kunjung sampai
meski urusan di luar
(sepertinya sudah) selesai
— atau (tak’kan pernah) selesai?
Hujan tak berhenti,
terus saja turun
membersamaiku
yang sedang dalam
perjalanan menuju
diri sendiri.
Yang jatuh
tak hanya hujan,
tapi juga usia,
tapi juga waktu,
tapi juga kehidupan,
tapi juga kesempatan,
tapi juga apapun
yang ada di luar cinta.
***
Al Ikhsan, 2022
Jamaludin GmSas adalah nama pena dari Jamaludin. Lahir di Pemalang, 20 Juli. Mahasiswa pascasarjana UIN SAIZU Purwokerto ini sekaligus santri di Pondok Pesantren Al-Ikhsan Beji, Banyumas. Pecinta kopi ini puisi-puisinya pernah disiarkan di laman Koran Tempo, NusaBali, Pos Bali, Medan Pos, Tanjungpinang Pos, Fajar Makasar, Radar Banyumas, Radar Cirebon, dan sejumlah media lain di Indonesia dan Malaysia. Tersebar juga di beberapa antologi bersama. Ia pernah menjadi juara 2 pada Lomba Cipta Puisi Nasional yang diselenggarakan oleh Catatan Pena (2021).