Puisi, edisi 360 November 2022
Aku pejalan kaki
Yang memungut huruf-huruf
Dari pagi yang bermain kabut
pergi meninggalkan embun
pada rumput yang mulai mengering
dan daun gugur yang ingin segera disemayamkan
sebelum proses kremasi
Aku pejalan kaki
sebelum gelap melarikan diri
meninggalkan fajar
yang kuinjak-injak sambil membawa gerobak
berisi berita-berita
tentang kemiskinan di kota,
gelandangan merajalela,
atau kematian seorang janda tua
yang jasadnya sedang kubawa
Aku pejalan kaki
Di jalan yang basah
Karena tangis orang-orang
Yang tergusur dari tanahnya sendiri
Tanah tempat mereka lahir
Dan terusir
Aku pejalan kaki
Yang sedang mengukur
Panjang garis kemiskinan
Dan membandingkannya
Dengan usiaku, moyangku, keturunanku
Dan kudapati di keturunan ke tujuh
Garis itu masih belum berujung
Maka kuputuskan untuk berhenti
***
Bandar Lampung, Oktober 2022
Pasar Malam
“Bagaimana cuaca sore ini?”
Masih cerah, tapi
mendung mungkin berpindah
dari ufuk yang tenang
ke nasib kita yang muram
di koran tak ada ramalan cuaca
“Malam ini kita pergi ke pasar malam”
Kita tak punya cukup rasa sedih
Untuk bisa naik bianglala
Kita tak bisa menukar baju kusutmu
Dengan dua lembar karcis
“Tak ada karcis bagi yang datang terlambat
Bianglala sudah berhenti berputar”
Lalu untuk apa kita menziarahi lampu redup
mengukur keheningan di separuh akhir malam
pasar malam tak menjual sepi
“Kita akan merayakan rezeki di sana
Banyak hal yang butuh diselesaikan
Oleh orang-orang seperti kita”
Pasar malam berakhir pukul duabelas
Waktu yang begitu cukup
untuk angin membawa mendung
Ke atas kepalamu
***
Bandar Lampung, Oktober 2022
Imam Khoironi. Lahir di desa Cintamulya tahun 2000. Masih mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris di UIN Raden Intan Lampung. Tidak terlalu suka seafood dan durian. Penggemar mi ayam dan bakso garis keras ini suka nulis puisi, cerpen kadang-kadang juga esai. Buku puisinya berjudul ‘Denting Jam Dinding ‘(ada di tokopedia). Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai online seperti Simalaba.com, marewai.com, cerano.id, kawaca.com, dan lainnya serta media cetak seperti Malang Post, Riau Pos, Radar Mojokerto, Banjarmasin Pos, dan sejumlah lainnya. Puisinya masuk dalam buku ‘Negeri Rantau; Dari Negeri Poci 10 ‘dan banyak antologi puisi lainnya. Ia bisa diikuti di Facebook: Imam Imron Khoironi, Youtube: Imron Aksa, IG : @ronny.imam07 atau www.duniakataimronaka.blogspot.com