Catatan, edisi 360 November 2022

Di Inggris Hari Pahlawan jatuh pada 11 November dan hening cipta secara nasional berlangsung pada pukul 11.00 tepat selama dua menit. Hening cipta dilakukan saat upacara resmi versi pemerintah di jalanan di depan kediaman resmi Perdana Menteri bersama Raja Charles III dan veteran perang, maupun oleh para karyawan di kantor-kantor, pejalan kaki di trotoar, orang di stasiun kereta api, serta di pusat pertokoan atau cafe dan restoran.

Raja Charles III pada peringatan Hari Pahlawan, Jumat 11 November 2022. (Foto: BBC)

Di kantor-kantor, seperti saya dulu ketika belum dipensiunkan dini- orang tak perlu berdiri tegak seperti berupacara tapi cukup diam saja di meja masing-masing ketika pengeras suara mengingatkan. Begitu juga di jalanan, orang cukup berhenti ketika memasuki jam 11 karena tak ada pengeras suara di sekitar. 

Bagi yang tak mau ikut hening cipta, dipersilahkan berkegiatan seperti biasa. Tak bakalan diejek atau dipandang dengan sorot mata menuduh ‘tidak nasionalis’. Pada akhirnya pilihan individu dan masing-masing dihargai serta dihormati dengan pilihan bebasnya.

Saya suka ikut tradisi itu: untuk mengenang berakhirnya Perang Dunia I pada Pukul 11.00 tanggal 11 November  1918. Salah satu tradisi adalah memakai lambang bunga poppy di dada selama sepekan sebagai tanda penghormatan kepada para korban perang. Seorang teman Indonesia yang dulu bersekolah S2 di London berpendapat, “Ngapain merayakan Hari Pahlawan Inggris, kan mereka membunuhi orang Indonesia.”

Saya tak sependapat karena peringatan 11 November sebenarnya untuk memperingati korban perang di seluruh dunia. Korban perang apapun, yang tidak terbatas pada satu bangsa. Siapa bilang anak-anak muda Rusia tidak bermatian ketika Presiden Putin memutuskan untuk menyerbu Ukraina? Terus apakah kita mensyukuri kematian tentara-tentara Rusia itu? 

Gereja All Saints di New Eltham. (Foto: londonchurchbuildings.com)

Peringatan Hari Pahlawan juga diperingati oleh gereja-gereja Inggris pada Minggu pertama setelah 11 November yang tahun ini jatuh pada 13 November. Di gereja kampung kami, New Eltham -sekitar 45 menit perjalanan kereta api dari pusat kota London- kebaktian Hari Pahlawan yang disebut Remembrance Sunday sempat terhenti selama masa pandemi dan berlangsung sederhana tahun lalu. Tahun ini rencananya akan lebih meriah karena salah satu gugus depan pramuka akan ikut meramaikan. Berhubung di halaman gereja kami, All Saints Church, ada tugu peringatan perang, maka jemaat Gereja Metodis tetangga juga akan hadir.  

Saya biasanya ikut-ikut sibuk, walau bukan berarti sebagai seorang penganut Kristen yang saleh tapi terus terang yang lebih mengemuka adalah semangat komunitas. Tugas saya di All Saints Church, selain ikut upacara bernyanyi, berdoa, dan mendengar kotbah pendeta, lebih pada urusan duniawi-nya: mengurus situs (allsaintsnewetham.org.uk) dan Instagram serta Twitter, masuk daftar giliran memotong rumput halaman gereja, mengorganisir Asian Festival pada musim panas, dan angkat-angkat meja kursi saat minum teh/kopi bareng seusai kebaktian di aula gereja atau pada acara-acara khusus.

Minggu 13 November itu, tugas pertama adalah mengangkat beberapa kursi ke dekat tugu peringatan perang untuk para lanjut usia yang tak kuat berdiri selama sekitar 30 menitan. Setelah itu saya mendekati pemimpin pramuka yang sedang bersiap-siap untuk meminta izin apakah boleh mengambil foto para pramuka yang kelak akan dipajang di situs gereja. Si pemimpin tampak bingung dan membahas dengan pemimpin lain karena urusan memfoto anak di bawah 18 tahun di tempat pribadi harus minta izin lebih dulu. Halaman gereja memang sudah tidak termasuk tempat umum -bahkan di tempat umum pun orang tua anak boleh mengatakan, “Hapus foto anak saya.”

Saya menduga kedua pemimpin itu sebenarnya cukup semangat jika foto mereka masuk di situs tapi sudah tak mungkin untuk menanyai para orang tua anak pramuka satu per satu. Cukup terasa kebingungan mereka, maka saya tegaskan, “Saya akan ambil dari belakang atau dari jauh sehingga wajah anak-anak itu tidak kelihatan.” Mereka senang dengan skenario itu. Jika perlu bukti kegiatan maka ada foto tapi tidak sampai mengungkap individu anak satu per satu ke khalayak umum.

Peringatan Hari Pahlawan di Gereja All Saints, Minggu 13 November 2022. (Foto: Liston P Siregar)

Acara cukup meriah untuk ukuran kampung New Eltham -yang kalau Anda sebut nama itu di London sekalipun maka tak akan ada yang tahu, jadi berbeda dengan kampung Kensington atau Chelsea, misalnya. Suasana aula gereja ramai dengan jemaat dua gereja, para orang tua, dan anak-anak. Ada sumbangan kue mangkuk yang enak, juga biskuit coklat, serta beberapa kue kering lainnya plus jus jeruk, yang khusus disediakan untuk anak-anak pramuka. Semua tampak senang dengan suasana yang berbeda saat kebaktian yang khusuk maupun hening cipta selama dua menit. Setelah semua pulang, kelompok petugas duniawi gereja pun beres-beres: mengangkat kursi dan meja, mengumpulkan dan mencuci piring-piring, maupun membersihkan lantai aula gereja.   

Hari itu pun selesai namun masih ada malam yang ditunggu. 

Teman lama kami, Val dan Chris, sudah memesan tiket untuk nonton konser jazz di kampung tetangga, Woolwich. Bukan konser jazz yang bergengsi tapi pemusik jazz muda yang pernah meraih penghargaan lokal dan nasional walau tetap masih harus perlu kerja keras untuk memapankan karir: Fergus McCreadie. Aula konser, Woolwich Works, juga bukan yang besar tapi berkapasitas seribuan orang namun indah karena dulunya adalah bekas pabrik petasan yang dijadikan museum sebelum berubah sebagai aula konser. Rangka-rangka besi berukir tetap dipertahankan ketika dipugar dan di setiap barisan kursi ada meja dengan lampu kecil untuk menaruh minuman. Indah dan juga nyaman. 

Aula konser Woolwich Works. (Foto: Woolwich Works)

Belakangan saya dan Chris yang sempat ragu dengan akustik ruangan juga puas dengan kualitas suara piano, bass, dan drum dari trio Fergus McCreadie. Sayang saya sekarang sudah tidak tertarik merekam atau memfoto konser-konser musik karena merusak perhatian dan menyela kenikmatan. Kalau perlu gambar, musik, atau video, pastilah ada di internet, Spotify, dan YouTube walau memang sifatnya tidak personal lagi. 

Konser jazz dimulai jam 07.30 tapi kami janjian sejaman lebih awal untuk ngobrol ngalor ngidul sambil minum bir dan minuman ringan di cafe samping aula konser. Kami berempat terakhir bertemu pada musim panas tiga empat bulanan lalu, jadi banyak juga urusan yang harus diperbarui walau tetap saja ada gosip-gosip lama yang diulang lagi, masih dengan ketawa-ketawa yang riang. Termasuk yang diperbarui adalah perjalanan liburan Val dan Chris ke Israel dan Palestina, yang jauh lebih menarik dari perjalanan kami pulang kampung ke Indonesia. 

Salah satu cerita adalah semangat Val dan Chris untuk tidak membeli cendera mata dan tidak jajan di wilayah Israel tapi semuanya dibeli di kawasan Palestina. Jadi uang mereka tidak akan dipakai untuk menindas rakyat Palestina. Val dan Chris memang berupaya hidup dengan ‘benar’ walau Chris mengakui, “Tentu tidak mungkin semuanya di wilayah Palestina karena hotel kami di Tel Aviv, terus bus hanya ada di wilayah Israel.” Karena cerita seru Israel dan Palestina itu, kami pun tak sempat bercerita panjang tentang liburan ke Indonesia, yang sebenarnya juga ada dramanya berhubung saya terdampar ketika transit di Bandara Internasional King Aziz di Jeddah selama sekitar 20 jaman. 

Cafe di samping Woolwich Works. (Foto: Ben Hill)

Konser musiknya memuaskan. Saya penggemar jazz yang rajin nonton pemusik jazz dunia -mendiang Chick Corea, Herbie Hancock, Marcus Miller, Bob James, dan beberapa pemusik jazz era fusian 1980-an dulu. Sementara Chris pemusik amatiran yang suka tampil di acara-acara sosial terbatas. Sedang Val dan Lisa -istri saya- adalah penggemar musik umum. Sepanjang enak di kuping, maka jenis musik apa saja tetap bisa mereka nikmati. Jadi kami berempat menikmati komposisi-komposisi Fergus McCreadie -anak asal Skotlandia- yang bisalah disebut semacam paduan gaya folk dan jazz. Di beberapa nomor, kami bersama banyak penonton lain ikut bergoyang-goyang asyik.

Puas rasanya ketika konser usai. Setelah pelukan hangat sambil janjian bertemu lagi, kami berpisah. Val dan Chris jalan ke arah kanan ke tempat parkir sementara Lisa dan saya berjalan ke arah kiri. Kami parkir agak jauh demi tempat parkir gratis, jadi harus berjalan sekitar 10 menit menyusuri Sungai Thames di kawasan Woolwich. Malam itu, sekitar 9.30-an kabut sudah turun dan karena kami cuma jalan tak terlalu lama, malah terasa keindahan malam berkabut itu. Patung orang-orang berwarna hitam -berjudul ‘Assembly’ karya Peter Burkedi- di lingkaran dekat terminal transportasi kapal menuju London jadi terasa hidup dan sekaligus misterius. Kami berjalan santai: kelak akan menyelesaikan malam itu setelah nanti menyetir 20-an menit di jalan raya pada Minggu malam yang pastilah relatif sepi. 

Kabut melapisi kumpulan patung orang yang terbuat dari baja berjudul ‘Assembly’ karya Peter Burkedi di Woolwich Royal Arsenal. (Foto: Liston P Siregar)

Sambil jalan menyusuri sungai, terlihat kami seorang perempuan di kursi roda listrik yang mengebut. Saya sudah sering melihat kursi roda dan biasanya para orang tua maupun orang berkebutuhan khusus mengunakannya perlahan-lahan di kaki lima, walau jelas kecepatan maksimalnya juga tak berarti amat kencang seperti para pesepeda berbaju bahan lycra yang beraneka warna di jalan raya. Tapi jelas terkesan perempuan itu terburu-buru, entah untuk menghindari dingin malam yang berkabut karena di atas kursi roda dia praktis tidak bergerak. Sementara kami, walau berjalan pelan namun tetap saja bergerak yang membuat badan terasa tak terlalu dingin.

Tapi saya lihat dia bergegas menuju ke koridor dari besi yang mengantarkan ke pelabuhan kapal Woolwich Royal Arsenal. Permukaan Sungai Thames yang pasang surut membuat dermaga pelabuhan kapal harus menjorok sekitar 40-an meter dari daratan ke bagian sungai yang airnya cukup dalam untuk bisa menampung kapal. Dia masih mengebut menyusuri koridor besi menuju dermaga yang membuat saya curiga tapi istri saya menenangkan, “Dia mau mengejar kapal kali.” Saya berkeras, “Mana ada lagi kapal jam segini, Minggu malam pula.” Istri menenangkan lagi, “Mungkin mau lihat-lihat saja.”

Koridor yang menghubungkan daratan dengan dermaga kapal Woolwich Royal Arsenal. (Foto: Wikimedia)

Saya tak terima penjelasan itu maka kami berdua berjalan agak tergesa ke koridor, bukan lagi jalan santai sambil menikmati kabut malam yang dingin dan sepi namun segar. Tiba-tiba terdengar suara gedebrak yang cukup keras dan kami berdua pun berlari secepatnya. Di ujung koridor terlihat perempuan di kursi roda itu sudah berhasil membuka gerbang kecil untuk jalan masuk penumpang ke kapal yang merapat di dermaga -entah bagaimana caranya dia bisa membuka gerbang kecil itu. Tapi tak ada kapal, jadi dia tinggal memencet tombol untuk jalan -yang pelan seperti biasa sekalipun- dan masuklah dia ke dalam air Sungai Thames yang pada pukul 10-an malam pastilah membeku!

Sambil lari secepatnya menuju ujung dermaga tempatnya, saya langsung berteriak, “Are you all right?” dan dia menjawab datar tanpa emosi, “I am going to jump into the river.” 

“Tidak, mohon jangan lakukan!,” teriak saya lagi sambil mendekat dan kemudian berdiri di sampingnya terpisah oleh pagar besi setinggi pinggang. Jarak kami mungkin paling cuma selengan. Saya tidak mau lebih mendekat supaya dia tidak terprovokasi. Perempuan muda itu, yang saya kira berusia 30 hingga 40-an tahun, tampak sedang mengirim pesan di telepon genggamnya. Rambutnya diikat di belakang sehingga wajahnya cukup jelas terlihat dari samping dengan kesan seorang perempuan langsing.

Saya menyatakan dengan nada tegas, “Kalau kamu melompat ke sungai maka saya akan juga melompat. Tidak akan saya biarkan kamu melompat.”
“Kamu tidak harus,” katanya sambil terus menulis pesan.
“Saya akan berupaya menarik kamu dari sungai,” tegas saya lagi.

Dia diam tak memperdulikan. Lisa kemudian sampai dan berdiri di samping saya. Perempuan itu tak melirik ke Lisa yang baru datang.

“Kamu tinggal dekat sini?” tanya Lisa, yang tak ditanggapinya.

Agaknya kami berdua, seperti kebanyakan orang, mendapat sedikit gambaran bahwa orang yang mau bunuh diri biasanya butuh waktu lagi sebelum akhirnya memutuskan untuk bertindak bunuh diri atau balik arah. Tapi perempuan itu sudah tidak menanggapi keberadaan kami lagi dan terus menulis di telepon genggamnya.

Saya mereka-reka sendiri, kalau dia terjun maka saya mungkin akan terjun juga ke sungai yang dingin, karena dorongan secara naluriah semata berhubung saya seorang perenang yang cukup baik, walau belakangan saya yakin aksi naluriah itu bisa membunuh kami berdua akibat hyphotermia. Saya juga yakin ada banyak kemungkinan dari situasi malam itu, jadi mereka-reka pula kalau dia kelak menjalankan kursi rodanya untuk menceburkan diri bersama kursi rodanya, yang akan lebih cepat membuatnya tenggelam. Dalam situasi itu maka segera akan saya tarik dari belakang kursi rodanya dan rasanya cukup waktu karena pagar yang memisahkan kami tidak panjang. Saya cukup lari ke kiri tak sampai setengah meter dan sudah akan berada persis di belakangnya untuk menahan kursi roda. 

Saya kemudian berbisik ke Lisa dalam Bahasa Indonesia supaya perempuan yang sedang putus asa itu tidak mengerti dan tidak terprovokasi. “Menjauh kau pelan-pelan dari sini dan telepon nomor darurat.” Lisa paham sepenuhnya dan berbalik dengan lembut untuk menjauh ke koridor, seolah-olah bukan mau mengambil tindakan tapi semacam, “Ya sudah saya pergi saja karena kamu diamkan.”

Tinggallah kami berdua dan saya merasa sok-sok jadi penyelamat. 

“Apakah ada yang bisa saya bantu?”
“Tidak,” jawabnya dan menatap ke sungai karena sudah selesai mengirim pesan. Saya yakin, itulah saatnya dia memasuki tahap-tahap akhir yang penting karena, mungkin, sudah selesai menulis pesan terakhir sehingga tinggal melaksanakan niatnya bunuh diri. 

Benak saya mereka-reka lagi. Di kegelapan malam, ketika tiga perempat bulan terhalang kabut tebal, saya masih bisa melihat antara ujung roda depan kursinya dengan permukaan sungai masih berjarak kira-kira lebih panjang sedikit dari penggaris berukuran 30 cm, jadi bukan langsung berada di ujung dermaga.  Dia jelas punya masalah di bagian kaki sehingga perlu kursi roda dan kalau dia melompat dari kursinya, maka butuh waktu juga untuk tercebur ke dalam air yang membeku dan saya optimis masih bisa cepat menarik tangannya berhubung kedua kakinya -setelah saya lihat dengan seksama- ternyata tak ada.

Setelah sempat diam beberapa waktu, saya mencoba menarik simpati dia.

“Maaf Bahasa Inggris saya tidak fasih karena Inggris bukan bahasa Ibu saya. Boleh tahu apa yang membuat kamu bosan dengan hidup ini?”

Dia diam tak menjawab dan menatap lurus ke air Sungai Thames. 

Lokasi dermaga Woolwich Royal Arsenal dan aula konser Woolwich Works. (Foto: Google)

Saya pun diam sambil memikir-mikir pertanyaan atau obrolan apa lagi yang akan mengundang tanggapan dia walau jangan sampai memprovokasi pula. Tak ada yang muncul, jadi saya ikut diam namun bersiaga penuh. Gerakan apapun yang dia lakukan akan saya tanggapi dengan bergegas secepatnya menahan kursi roda atau segera menyelinap di samping kursi roda untuk menarik tangannya. 

Sambil mereka-reka semua skenario, saya mulai merasa kedinginan. Malam itu saya memang mengenakan jumper cukup tebal tapi bukan yang untuk berdiam di udara terbuka pada malam yang mulai membeku saat memasuki masa akhir musim gugur menuju musim dingin. Jumper yang cukuplah melindungi tubuh untuk jalan sekitar 10 menitan dari tempat parkir karena begitu di dalam cafe atau aula konser maka jumper akan dilepas. 

Saya tak tahu sudah berapa lama berdiam bersama perempuan yang mau bunuh diri itu di tepi Sungai Thames pada Minggu 13 November sekitar pukul 10-an, ketika malam berkabut embun menyebar dingin. Saya gerak-gerakan kaki supaya agak hangat sambil tetap awas memandang dia, yang tampak merenung dengan sorot mata ke arah Sungai Thames. Sudah saya putuskan tak usah lagi tanya-tanya tapi bersiaga 100%, sambil menahan dingin yang pelan-pelan mulai menusuk permukaan kulit di balik jumper.

Di tengah hening kami berdua, tibalah dua orang yang berlari kecil dengan seragam hitam dan kartu identitas yang dikalungkan di leher. Tak terbaca tapi saya yakin keduanya petugas berwenang. Salah seorang adalah perempuan, yang langsung mendekat ke kerempuan itu dan saya pun mundur selangkah.

“Are you all right?”  tanya perempuan berseragam dengan nada mendesak.
“Who are you?” tanya perempuan yang ingin bunuh diri dengan suara menantang.
“Petugas keamanan…” jawab petugas perempuan yang kemudian meminta saya lebih menjauh lagi.

Sayapun berbalik dan bersama Lisa, yang menunggu di koridor dermaga, kembali ke daratan. Lisa rupanya tadi memutuskan untuk berlari ke tempat konser dan menjelaskan kepada staf tentang orang yang mau bunuh diri. Staf langsung menghubungi satuan pengamanan, yang segera bergegas ke ujung dermaga. Walau situasi sudah diambil alih satuan pengamanan Woolwich Works, kami berdua tetap menunggu di daratan sambil melihat samar-sama dari jauh tapi tak tampak karena ujung dermaga agak berbelok ke sebelah kiri sehingga tertutup koridor.

Tak lama seorang petugas keamanan yang berbadan kokoh datang lagi bergegas dan bertanya, “Dimana dia?” dan segera saya beri tahu, “Lurus dan di ujung ke kiri.” Dia berlari. Kami yakin perempuan yang akan bunuh diri itu sudah aman, namun masih penasaran. Tak jauh dari tempat kami berdiri, ada pasangan lain yang sedang mengamati malam berkabut di atas Sungai Thames dan saya yakin mereka tidak tahu tentang drama yang sedang terjadi di dermaga kapal, sekitar 40 meteran dari tempat mereka berdiri. 

Ketika pasangan itu pergi, kami masih tetap menunggu walau tak tahu apa yang sebenarnya ditunggu. Tiba-tiba terdengar teriakan keras: “Tolong… tolong…” dan kami bergerak mengarah ke koridor untuk turun lagi ke dermaga namun segera terlihat samar-samar ada kursi roda dan tiga orang bergerak menjauh dari dermaga walau tak langsung menelusuri koridor besi untuk kembali ke daratan.

Kami menduga petugas keamanan yang berbadan kokoh tadi langsung saja menarik kursi roda tanpa banyak cincong. Dan mungkin si perempuan yang mau bunuh diri berteriak “Tolong…tolong… ” dengan harapan bakal ada yang mendengar dan menduga dia sedang mengalami kekerasan oleh orang lain. Tapi kami berdua yang mendengar malah melihat dia sudah berhasil dibawa menjauh dari ujung demaga, yang berarti justru dia dalam keadaan aman.

Kami pun meneruskan jalan ke tempat parkir. Lisa bertanya, “Bisa kau nyetir Pak?” dan saya masih bisa menyetir walau ada sisa-sisa teror tapi juga sekaligus lega karena jelas si perempuan yang mau bunuh diri sudah menjauh dari ujung dermaga. Amanlah dia. Saya lihat jam, sudah menjelang pukul 11 malam.

Jalanan memang sudah sepi dan ada mobil ambulans mengebut dengan sirene mengaung-ngaung, yang kami yakin menuju ke tempat drama malam itu. Setibanya di rumah, kami ceritakan kepada kedua anak yang belum tidur. Reaksi putra sulung saya, “Kalau kau masuk ke sungai mau membantu dia Pak, kau ikut mati! Malah dua orang mati.” Istri saya juga langsung mengiyakan, “Betul Pak, kau juga mati!” Saya kira mereka benar.

Sedang putri saya mengelus kepala saya sambil berkata lembut, “Kau baru menyelamatkan nyawa satu orang Pak.”

Hari itu masih berbau Hari Pahlawan dan saya merasa bersyukur tidak menjadi ‘pahlawan kesiangan’ yang tolol yang bisa jadi akan membuat dua orang mati di Sungai Thames di kawasan Woolwich pada Remembrance Sunday. 

Tapi sampai sekarang saya masih terkenang perempuan itu dan tertanya-tanya sendiri berapa banyak orang di London yang seperti dia? Tak jelas apa yang menyebabkan dia ingin bunuh diri tapi semua orang tahu bahwa menjelang akhir tahun 2022, biaya hidup di London -dan Inggris pada umummya- meningkat pesat secara drastis ketika hubungan antara manusia semakin dingin dan kompleks. 

Pengalaman yang saya dan istri alami pada Minggu 13 November itu bisalah dikatakan berakhir senang karena perempuan itu tak jadi terjun ke Sungai Thames. Tapi juga menyedihkan karena upaya bunuh diri yang dekat sekali dengan saya. Nyata!
***

Liston P Siregar, editor www.ceritanet.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *