Cerpen, edisi 361 Desember 2022
Sekolah boleh cuti, guru-guru boleh berganti. Tapi tukang sapu, dia tetap abadi
1. Kebaikan Bang Maman
Mardi, anak pemilik toko batik
Aku mengenal Bang Maman sejak hari pengumuman seleksi masuk SMA. Waktu itu SMA Bakti Husada dipadati para siswa dan orang tua yang ingin mendaftar. Ramai sekali orang-orang berkerumun di meja pendaftaran dan di depan papan pengumuman. Sebagai sekolah unggulan, setiap kali pendaftaran dibuka maka Bakti Husada selalu dibanjiri pendaftar yang berlomba-lomba ingin masuk. Para orang tua percaya bahwa anaknya akan berhasil kalau bisa bersekolah di sini sebab di lobi depan sekolah terpajang berbagai profil alumni yang sukses. Salah satu profil lulusan yang fotonya dicetak paling besar adalah presiden, yang sebenarnya hanya sempat setahun di Bakti Husada sebelum pindah ke sekolah negeri.
Waktu itu aku ikut berkumpul di depan papan pengumuman. Aku berusaha mencari namaku dari ratusan nama pendaftar yang masuk dalam daftar seleksi sementara Bakti Husada. Dari atas, ke bawah, lalu ke samping lagi, sampai mencari-cari secara acak dan akhirnya menemukan namaku dalam kelompok 10 terbawah. Ekspresiku langsung kecut.
Aku meninggalkan kerumunan lalu duduk di sisi lapangan sambil menopang dagu. Orang tuaku sangat menantikan ‘kabar baik’. Aku bingung harus bilang apa karena hampir pasti barisan 10 terbawah tidak bakal keterima, kecuali puluhan nama di atasku memutuskan untuk tidak masuk Bakti Husada, yang hampir pasti tidak mungkin.
“Kamu kenapa, Dek?” Seorang paruh baya berkemeja lusuh dan celana panjang yang sedikit menggantung menghampiriku. Di dada bagian kiri atas tertulis ‘Maman’. Kuyakin dia salah seorang petugas sekolah.
“Habis lihat seleksi, Pak. Sepertinya saya ga bakal lolos, nih,” ucapku lesu
“Eh, memang kenapa?” Tanya Pak Maman
Wajah bapak itu sudah dipenuhi keriput. Kulitnya gelap karena terbakar matahari dan sorot matanya sayu. Badannya begitu kurus sampai lengan dan betisnya memiliki ketebalan yang sama dengan kulit yang sudah mengendur. Ia bicara padaku dengan jarak yang dekat sekali dengan wajahku karena suaranya sangat pelan.
Awalnya aku ragu dengan penampilannya tapi seragam dan namanya memastikan dia petugas sekolah. Kujelaskan peringkatku dan ayah ibu yang pasti kecewa karena amat berharap aku masuk Bakti Husada. Ternyata dia pendengar yang baik setelah menegaskan,“Panggil bang saja, jangan pak, ya,” dan meminta aku membawa orang tuaku untuk datang ke sekolah. Bang Maman berjanji akan berupaya membantuku masuk ke SMA Bakti Husada. Saat kutanya bagaimana caranya, dia hanya menjawab, “Sudah, besok orang tuanya suruh bertemu abang saja. Kita coba ya.”
Besoknya aku datang bersama ibu ketika pas istirahat sekolah. Tak susah mencari Bang Maman, yang sepertinya selalu berada di halaman sekolah. Bang Maman menyapa kami berdua dengan sopan dan meminta aku menunggu di kantin. “Dek, Abang akan mengurus administrasi sama ibumu di kantor dulu ya. Kamu tinggal di sini saja dulu, jajan.” Dan Bang Maman bersama ibu berjalan menuju kantor sekolah.
Entah apa yang dilakukan Bang Maman, yang jelas Ibu menjemputku dari kantin sambil tersenyum. Setelah itu aku bisa bersekolah di SMA Bakti Husada, berkat kebaikan Bang Maman.
2. Obyekan dari Bang Maman
Sofran, teman nongkrong Bang Maman
Kalau ingat Bang Maman, gue jadi inget masa-masa SMA dulu sebagai masa yang paling menyenangkan, menurut gue, karena waktu itu gue sering banget nongkrong sama teman-teman di warung selepas sekolah. Gue udah lelah seharian di sekolah jadi perlu medium untuk melepas penat. Kadang, waktu lagi nongkrong di warung kopi, Bang Maman ikut nimbrung bareng kita. Dia sih cuma dengar-dengar sambil senyum-senyum.
Dulu gue sempat berpikiran aneh sama Bang Maman. Waktu itu gue diam-diam pergi ke toilet sekolah saat jam belajar, mau merokok. Saat itu pikiran gue lagi kacau. Di rumah dimarahi terus sama orang tua, di sekolah ditambah lagi karena lupa membawa tugas, eh pacar gue juga tiba-tiba minta putus karena alasan mau ujian. Pusing deh, pokoknya. Makanya gue cabut kelas dan pergi ke toilet.
Sambil jongkok-jongkok, pelan-pelan gue menghisap rokok yang lama-kelamaan keupulan asapnya memenuhi ruangan. Awalnya agak pengap, tetapi seterusnya enak juga. Pikiran gue menjadi lebih rileks saat merokok dan badan juga terasa lebih enteng. Gue tenang aja selama di toilet karena letak toilet ada di ujung koridor sekolah. Mana lagi jam pelajaran, harusnya tidak ada yang bakal memergoki gue yang lagi merokok.
Tiba-tiba gue mendengar langkah kaki masuk ke dalam toilet. Sial, kata gue. Pas banget lagi enak-enaknya malah ada orang masuk! Gue tunggu orang itu keluar lagi dari kamar mandi tetapi malah masih tetap di dalam. Gue masih menutup pintu kamar mandi sementara rokok udah gue matiin. Habis itu, pintu gue dibuka sama orang yang masuk tadi.
Ternyata Bang Maman yang lagi ngepel kamar mandi. Dia mengenakan oblongnya yang sobek-sobek sambil membawa ember dan kain pel. Gue takut banget ketahuan merokok di toilet sama Bang Maman. Dia ya pegawai sekolah… dan bisa saja gue dilaporkan ke kepala sekolah atau diadukan ke orang tua. Pokoknya nanti bakal sulit, deh.
“Sini, minta rokoknya,” ucap Bang Maman meminta rokok yang masih tersisa.
“Eh, gimana bang?” balas gue kaget mendengarnya. Gue tanya lagi, takutnya salah dengar.
“Minta,” ucap Bang Maman singkat.
Akhirnya gue kasih sisa rokok ke Bang Maman. Setelah menerima rokok, dia lanjut mengepel kamar mandi sampai selesai lalu pergi. Besok-besoknya tidak ada laporan kalau gue pernah merokok di kamar mandi,.
Malah setelah itu gue jadi deket sama Bang Maman. Belakangan Bang Maman bahkan sering ngajak gue proyekan seperti kalau lagi bagi rapor gue sering diminta bantu-bantu jaga parkir sekolah. Hasil pungutan parkir nanti dibaginya sama temen-teman yang ikut bantu. Terus kami pakai buat beli rokok…hahaha… tapi kami janji sama Bang Maman nggak merokok di dalam kompleks sekolah. Juga kalau ada pentas seni atau acara-acara di sekolah, Bang Maman sering minta gue datang dan bantu-bantu, enaknya nanti akan dijatah. Seru banget bisa kenal Bang Maman. Kira-kira gimane ye kabar dia sekarang?
3. Dedikasi Pak Maman
Masjuki, Guru Geografi
Kalau ingat Pak Maman, beliau itu orang sabar. Saya sendiri tergolong guru angkatan baru di SMA Bakti Husada. Waktu itu guru-guru angkatan lama sudah banyak yang diganti karena pensiun atau alasan lain. Yang saya tahu, Pak Maman ternyata seangkatan dengan guru-guru yang sudah pada pensiun. Bahkan ada yang bilang kalau Pak Maman dulunya juga sekolah di Bakti Husada. Berarti kurang lebih sudah 30 tahun Pak Maman bekerja di sekolah. Dedikasinya tidak diragukan lagi.
Tugas Pak Maman sebenarnya sebagaimana tercantum di struktur organisasi sekolah, adalah pegawai kebersihan. Terbukti Pak Maman memang sangat rajin. Beliau yang membuka gerbang sekolah di pagi hari dan membersihkan daun-daun yang berguguran di lapangan. Kami juga sering minta bantuan Pak Maman saat sekolah ingin mengadakan berbagai kegiatan seperti seminar atau perlombaan dan syukurnya Pak Maman tidak pernah menolak. Terlebih Pak Maman juga dekat dengan siswa-siswi jadi beliau sangat tahu kondisi peserta didik di lapangan.
Sekali waktu ada arahan dari kementerian untuk mengurangi gaji pegawai tidak tetap sekolah. Ini bukan hal yang mudah. Kepala sekolah juga sudah mati-matian menentang aturan baru tersebut karena menganggap para pegawai sekolah sebagai keluarga. Tetapi, bagaimana lagi, keputusan itu dengan berat hati tetap dijalankan. Waktu itu banyak pegawai sekolah seperti petugas tata usaha, satpam, pegawai dapur, dan tukang kebun yang memutuskan keluar dari SMA Bakti Husada sebab pendapatan mereka makin berkurang. Hal ini bisa dipahami karena banyak yang masuk dalam generasi awal para pegawai yang berharap kesetiaannya dihargai, bukannya malah dianggap remeh.
Namun Pak Maman memutuskan tetap mengabdikan dirinya di Bakti Husada biarpun gajinya dikurangi. Otomatis Pak Maman menjadi orang terakhir dari angkatan awal karena formasi guru dan pegawai kini sudah terdiri dari orang-orang baru. Dalam acara perpisahan kawan-kawannya seangkatan yang hengkang, Pak Maman juga mendapat kesempatan berpidato dan berujar ia sudah menganggap Bakti Husada sebagai rumahnya jadi akan sayang bila memutuskan untuk keluar ‘rumah’. Usai pidato singkatnya, semua guru, termasuk kepala sekolah, serta para pegawai yang hadir berdiri untuk bertepuk tangan
4. Diingat Presiden
Masitoh, pernah sekelas dengan presiden dan Maman
Maman? Oh iya, dia tinggal beberapa pintu di sebelah rumahku, ternyata kami bertetangga. Dulu kami sekolah di Bakti Husada sama-sama sampai lulus. Saya ingat di angkatan kami dulu banyak sekali lulusannya yang jadi ‘orang’. Ada yang ke luar negeri, jadi jenderal, polisi, politikus, teknokrat, bahkan presiden juga angkatan kami lho! Hehe.
Tapi sebenarnya saya tidak begitu ingat soal Maman karena dulu dia jarang ikut main sama kami. Kalau wajahnya sih, samar-samar ingat lah. Saya juga jarang di rumah jadi tidak selalu sempat mengecek kabarnya. Kabar terakhir yang saya dengar dia sudah punya anak, bukan? Katanya anaknya sudah SMA ya? Apa anaknya masuk ke Bakti Husada juga? Kalau iya, selamat deh!
Oh, mengenai reuni? Betul memang angkatan kami beberapa kali mengadakan reuni dan satu kali dihadiri Presiden jadi acaranya tertutup. Maklum, ada Presiden jadi penjagaan harus ketat sekali. Soal Maman, emm… terus terang saya lupa apakah dia datang atau tidak. Sepertinya saya tidak pernah melihat dia hadir di reuni-reuni kami. Nggak tahu apakah diaundang atau tidak. Waktu Presiden datang reuni, kami ya ngobrol-ngobrol tentang kenangan sekolah dulu. Di sela-sela obrolan, ada kawan yang sempat menyinggung Maman dan ditanggapi oleh Presiden, “Kalau Maman, saya tidak khawatir karena dia pasti jadi orang berhasil.” Pastilah Maman bangga namanya diingat oleh Presiden!
5. Pengakuan dari tempat tidur
Maman, tukang sapu sekolah
Hidupku dihabiskan di sekolah Bakti Husada. Bahkan setelah lulus, aku pun bekerja di sana selama 40 tahun lebih. Awalnya aku masuk berkat bantuan saudara yang kenal dekat dengan seorang guru Bakti Husada dan buatku ya sekolah adalah tempat belajar. Titik.
Namun, seiring waktu barulah ketahuan rupa sebenarnya dari Bakti Husada, yaitu sekolah anak-anak orang kaya, orang terpandang, orang berpangkat! Tiap hari omongan para anak-yang beruntung itu cuma duit… duit… duit… dan duit, satu-satunya yang justru tidak kupunya. Akibatnya, aku menjadi terasing dan jarang diajak main. Paling dua tiga yang mau dekat samaku, Hendra si ketua kelas, Nita anak Pak Haji, dan… aduh siapa namanya dia itu… yang terpilih jadi anggota Paskibraka. Ya cuma itulah. Yang lainnya cuma berkawan dengan sesama pemilik duit yang berlimpah ruah.
Makanya jangan heran jika alumnus Bakti Husada memiliki jabatan tinggi dan kaya raya, karena sejak lahir hidup mereka memang sudah begitu! Tapi tengoklah aku yang jadi pegawai di sekolah, ya tidak bisa kemana-mana setelah lulus karena tidak berada dan tidak punya kenalan orang penting. Sebenarnya aku tidak pernah mau bekerja lama-lama jadi tukang sapu, apalagi ketika gaji semua pegawai dikurangi. Aku pun sempat berpikir keluar dari Bakti Husada tapi terus mau kerja apa? Usiaku sudah 60 tahun dan tahunya cuma menyapu, mengepel, dan sekali-kali jaga parkir. Boro-boro pindah kerja, tak dipecat saja sudah bersyukur.
Selama di sekolah aku siap melakukan segala hal buat nambah penghasilan. Bapaknya Si Masjuki itu, dulunya juga guru di Bakti Husada. Dia sering minta aku untuk mencari calon murid untuk ‘dibantu’ masuk sekolah. Sialan! Aku harus mutar-mutar mencari orangnya sementara dia yang cuma duduk-duduk di kantor malah dapatnya jauh lebih banyak. Sudah ikut komplotan korupsi, eh hidupku tetap saja susah. Tapi untunglah aku tidak pernah tertangkap karena sambilanku itu. Atau jangan-jangan semua guru dan pegawai juga main sambilan panas itu.
Memang orang-orang menganggapku sebagai orang yang berdedikasi. Dalam senja usiaku, aku sudah tidak bisa lagi banyak bicara. Gerakku juga tidak selincah dulu, yang cepat mengumpulkan sampah atau gesit mengatur parkir di sana-sini. Sekarang suaraku lebih mirip rintihan dan jalanku selangkah demi selangkah. Namun orang-orang rasanya malah lebih hormat kepadaku! Guru-guru dan pegawai-pegawai yang baru ternyata lebih tahu sopan-santun dibanding angkatan lama dulu, yang mungkin tahunya aku cuma orang miskin yang kebetulan saja bisa masuk Bakti Husada. Tapi yang sekarang lain, tiap kali melewatiku, mereka menyapa sambil menganggukkan kepala. Anak-anak juga begitu, selalu memberi hormat tiap berpapasan denganku.
Tapi tetap saja aku kesulitan untuk makan sehari-hari sekalipun.
Aku pernah dengar kawan-kawanku dulu bikin reuni tapi tak pernah ada yang mengajakku, termasuk Hendra atau Nita atau siapa itu yang aku lupa namanya. Sejak tamat, tak satupun kawan sekelasku yang pernah menghubungi. Kalaulah aku diundang reuni pastilah aku bisa minta bantuan mereka. Gaji jenderal, polisi, politikus, pejabat dan Presiden, ya kami pernah satu kelas selama setahun, pasti bisa menghidupi 10 orang tukang sapu sekalipun! Mungkin mereka masih ingat aku, tapi ya sekedar ingat saja.
Sialan! Perutku sebelah kanan sakit lagi. Sudah seminggu lebih aku tak bisa bangkit dari tempat tidur dan suaraku semakin merintih. Semoga anakku yang kerja di pabrik rokok bisa cepat datang, membawa obat untukku. Itu janjinya tiga hari lalu.
Ah sudahlah. Tuhan… apabila memang waktuku sampai di sini, rasanya aku hanya akan diingat sebagai tukang sapu! Mau apa lagi.
***