Puisi, edisi 363 Februari 2023

Mata lampu jalanan
sudah dirampas kantuk,
lalu akhirnya terpejam

Tapi ujung kota
masih ingin bercerita
dengan beberapa warna

I/
Seorang bapak kaya,
badan agak sempoyongan
ditopang oleh dua wanita

di belakang bapak itu,
seorang anak cukup bandel
mendapat duit dengan sihir
tanpa diketahui aksinya

II/
Seorang nenek lansia
mengumpulkan kaleng-kaleng
dalam karung lusuhnya

Sebenarnya ia ingin pulang
ke halaman rumah masa lalu
sebelum tangan jahat waktu
merenggut suami dan anaknya

Tapi rumah tak lagi sama
hanya sebagai tujuan terakhir
dari harapan dan panggilan

III/
Seorang anak perempuan
menyanyi dengan sengau
sambil menggoyang badan

“Aku tak ingin duduk,
aku ingin berdiri untuk uang,”
katanya dengan lantang

Ibu tak begitu tua
duduk dengan malang
membawa wadah mineral

“Aku hanya ingin duduk,
untuk terus dikasihani uang,”
katanya dengan wajah lesu.
***
29 November 2022

Perjalanan Seperti Teka-teki

I/
perjalanan ini bukan tentang mengunjungi
spa mewah, atau singgah di hotel megah
perjalanan ini seperti teka-teki
dengan jawaban tak pasti

II/
kau lebih dulu dimandikan
dengan siraman paling sejuk
mengalahkan salju musim dingin

dikenakan satu stel pakaian putih
meski dosamu berwarna hitam legam

kereta tak bernama
indah berkalung bunga-bunga
siap mengantar perjalananmu

III/
di pekarangan paling sunyi
hanya pohon kamboja menyapamu
seperti ucapan selamat datang

akhir tujuan, lorong kegelapan
menarik tubuhmu untuk datang
dan kau memberontak ingin pulang

tapi nyatanya,
kau tak bisa untuk kembali
dan tubuhmu perlahan jadi tanah
***
Desember 2022

Agus Sanjaya lahir di Jombang, 27 Agustus. Buku pertamanya berjudul ‘Akar Kuning
Nenek’ dan kedua berjudul ‘Lima Sekawan’ terbit di Guepedia tahun 2020. Untuk buku ketiga
adalah antologi puisi ‘Sebelum Air Itu Berubah Wangi’ (Kertasentuh, 2022). Karyanya banyak
dimuat di media online, beberapa antologi bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *