Puisi, edisi 368 Juli 2023
ini dermaga yang asing. bukan tanjung perak atau bakauheni
tak ada lambai tangan, tak satupun pengantar. tak ada kecupan
tak juga feri kembali hanya angin menampar-nampar buritan
hanya lokan-lokan tertinggal di pasir. tak satu pun nelayan menarik jala
langit serba merah meyimpan bilik-bilik rahasia. tempat sembunyi matahari
hanya ngeri tak berkata apa-apa. bau keringat dan sisa air mata yang bergetah
di tengah pasang gelombang yang kian renta di bawah kangkang langit yang gemuruh
namun, tak satupun terjaga. juga saat pasir digerus gelombang pasang.
***
AsmaMu
99 asmaMu bergantung di bintang-bintang
membiaskan bilah-bilah cahaya purnama
raung ombak bergelegak
menebar manik-manik kristal
bertatahkan 99 asmaMu
di atas rakit selepas senja
musafir ini membentang layar
memburu 99 cahaya
“ya, Allah, musafir hina ini
memburu cintaMu di luas tak bermuara
menyelam ke kedalaman alif lam mim Mu
meraup 99 asmaMu di segenap mata angin”
***
Aku Tak Ingin
aku tak ingin jadi mawar
tak ingin jadi melati
apalagi jadi anggrek
biarkan aku jadi kamboja
menjadi pengingat liang lahatku
***
Tjahjono Widarmanto, penyair yang tinggal di Ngawi. Buku puisinya yang telah terbit di antaranya
Percakapan Tan dan Riwayat Kuldi Para Pemuja Sajak (2016), Perbincangan Terakhir dengan Tuan Guru (2018) dan Bersepeda dari Barat ke Utara sampai Tulang Rusukku Tumbuh Bulu (2021).