Puisi, edisi 371 Oktober 2023
guru, di api mana aku bisa mencuci diri?
jalan ini tak pernah susut sedang tubuhku kian kusut terlunta
menerka peta sambil memegang kitab sajak-sajak rahasia
segala otak kubedah, segenap warung dan rumah jalang kutandang
selalu saja cuma jadi penyair yang keliru menafsir semiotika
sampai ujung lidah kelu mengeja aksara dan menerka bilangan
guru, sungguh ajaranmu mengutukku!
segala simpang telah menuju ke tempat yang sama
surga yang sama, neraka yang sama: seperti teka-teki
mana yang suci mana yang hina
seperti cemas melindap di sela ajal dan cinta
jalan ini menuju bahaya ataukah harapan?
atau menuju perkampungan orang-orang bisu
pemukiman mulut-mulut menganga meramal makna
guru, di mana masa silam, di arah mana masa depan?
sepanjang jalan telah kutulis puisi-puisi
namun selalu saja khilaf mencuri dan sembuyikan makna
menjadi mimpi kosong tanpa tanda baca
sepanjang jalan kewarasan telah coba kupingit
dari segala aroma sangit ceruk birahi
namun tak semua bisa kutampik
juga kuldi yang kucuri
guru, kitab pengetahuanmu tanpa kamus!
: aku tahu, kau diam-diam menyepakku, maka kutendang pula pintu bilikmu!
***
Suluk Sidhayatra (2)
perjalanan ini pun dimulai, guru……
/*/
inikah kota-kota yang harus kusinggahi itu, guru
kota-kota yang disebut-sebut kitabmu
yang dilukiskan dalam secarik peta kumal
bermula hikayat kuno tempat segala pengetahuan disabdakan
inilah kota-kota itu, guru
memang bukan perbatasan akhir
namun sepanjang lorongnya mengintai keluh kesah petualang
di tiap tikungannya setiap pelancong menerka sarang angin
kusinggahi semua kota itu, guru
di relief gapuranya dituliskan
: tiap sejarah adalah tuba!
maka aku pun melihat kenangan menjadi brutus yang sempurna
di kota-kota itu pula, aku melihat wajahku sendiri
terpahat di antara berhala dan totem batu
juga pilar-pilar seperti phalus
tegak berdiri
kaku
beku
memandang phalus itu, aku ingat senyummu, guru
/**/
kota-kota ini milik para mempelai, guru
menyimpan rahasia api yang dulu ditiup-tiup adam
hingga menyala membara di urat leher eva
menyimpan rahasia gerah di pusat pusar
kota-kota ini, adalah sejarah yang bangun diam-diam
seperti hantu yang mencuri api adam
yang kelak nyalanya dipinjam para penyair
untuk menuliskan rindu sia-sia di bait puisinya
/***/
guru, perjalananku sampai di akhir kota-kota itu
para lelakinya bersedekap tangan di dermaga
pasrah menunggu sabda yang tak kunjung tiba
para perempuannya dendam pada masa lalu
yang membuatnya terusir saat seekor ular belitkan tubuhnya
mengguncang pohon-pohon hayat
perempuan-perempuan itu, guru,
nenek-nenek yang bernyanyi dengan seribu bahasa ganjil
di kota terakhir itu, guru
aku hanya duduk termangu
memilin rambut yang memanjang bersama resah
ada suara-suara jauh di arah matahari yang tinggi
tapi bukan fatwamu, guru
hanya igauan-igauan mengingat kenangan
riwayat yang perlahan ditinggalkan
seperti usia beringsut lambat menuju rapuh
menjadi belulang renta kopong dan keropos
jendela-jendela terbuka dan tertutup sendiri
guru, aku berada di seberang mana?
/****/
semua kota itu memiliki taman
tempat masa silam susut
masa depan meloncat mendahului musim
: tapi, aku tak sanggup menerka apa-apa guru
jari-jariku rapuh melihat segenap pohon terbakar
tak bisa kuterka riwayat-riwayat kota itu, guru
segala pengetahuan darimu menguap seperti garam
/*****/
inikah persinggahanku terakhir, guru
apakah ini perjalanan paling ujung
namun, tak juga kutemu rahasiamu
: lihat aku berdiri di sini tanpa lampu nihil cahaya!
***
Tjahjono Widarmanto, penyair yang tinggal di Ngawi. Buku puisinya yang telah terbit di antaranya Percakapan Tan dan Riwayat Kuldi Para Pemuja Sajak (2016), Perbincangan Terakhir dengan Tuan Guru (2018) dan Bersepeda dari Barat ke Utara sampai Tulang Rusukku Tumbuh Bulu (2021). Selain menulis juga pernah bekerja sebagai Pembantu Ketua I dan Dosen di STKIP PGRI Ngawi, serta menjadi guru di SMA 2 Ngawi.