Puisi, edisi 375 Februari 2024

Tirai kabut menutup cakrawala, cahaya telah pulang
Kadar berdiam di antara bukit tertidur
Cangkul dan parang adalah doa yang diasah untuk segala tarung dalam segala medan.

Aku mendapati ketiadaan pada jalan-jalan terjal berbatu menuju rumah
Tempat harap ditangkup diantara tebing dan batu yang beranak pinak sejak dulu kala.
Dimatamu jagung menghijau,
Di ladang tempat kita menyemai debat antara sabar dan lapar,
lestari dan bencana

Ledakan

– Eksplosi
Dirabanya malam dalam sekujur tubuhnya yang gelap
Merayap dingin dari rapat pepohonan
Menebal kabut dalam perjalanan tak pernah tiba
– Implosi
Sertakan doa menyala yang kau hidupkan
Yang kau endapkan,
Yang tak hilang dalam lupa dan lalaimu

Untuk Bapak

Aku membersihkan batukmu yang menggunung di ceruk asbak di ruang tengah
Hari ini, kemarau menghalang jalan pulangmu menuju remang malam panjang pekat berasap.
Dingin menderu membanting gelas-gelas plastik kosong berkerak hitam.

Cukupkah kau bertahan di gelap tak terlihat?
Di deru mesin yang mendengung di telingaku
Cukupkah air kau celupkan demi menghapus jejak merekah?
Bertarung melawan sia-sia yang membayang
Berharap pada pengasihNya yang tak gersang

Perkenankan aku merasakan dingin yang sama
Izinkan aku tuk sekedar menanyakan kabarmu,
Tanpa berharap kau menghapus kecewamu

Dari Atas Jembatan

Debu-debu terhapus dari karat jembatan
Di atas sungai besar mengalir masa kecilmu yang tak hilang
Di alirnya hanyut angka-angka nol yang berdarah di buku matematika
Beserta surat-surat cinta yang selalu tak punya nyali
Dan perih luka jatuhmu

Mawar Mekar Menyembunyikan Duri-Duri
Di gelap taman, mawar mekar
Menyembunyikan duri-duri di kota yang kesepian
Dalam denyut hampa ingatan
Langkah membawa jauh yang berlalu,
yang tergantikan dalam kata tak terbaca
pada monumen tak bersuara,
tiap nyawa yang kehilangan senyumnya,
tiap langkah yang kehilangan tujunya

Laut

Ketika lepas petang
Bentang samudera menanggalkan wajah, padam
Gemuruh laut di dada yang menunggu
Di hari kesepuluh ketika perahu tak juga tiba mencium lembut pasir hitam
Ketika jangkar tak juga meninggalkan kedalaman.

Apakah laut telah menelanmu dalam tenangnya?
Apakah laut membenamkanmu dalam palungnya?
Apakah laut telah mencuci luka-luka disekujur tubuh dan telapak tanganmu?
Ketika tahu bahwa pulang tak juga cukup memberi padamu hidup lebih panjang.

Apakah laut tak pedulu pada tepi yang selalu menunggu?

Menanti memelukmu sebesar apapun rasa takut
Dan sedekat apapun ajal mendatangimu.
***

Anwar Makatengnga, seorang pembaca lambat. Penunggu sebuah perpustakaan kecil yang didirikan di kampung halamannya bernama Puscata. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *