Cerpen, edisi 381 Agustus 2024
Perempuan serupa akar yang menancapkan kuku tajamnya ke tanah untuk memberi kehidupan pada ranting dan daun yang menumbuhi batangnya. Pun ibarat cahaya yang selalu muncul kala langit berubah gelap. Aku memanggilnya Mak.
Sejak dua puluh tahun lalu, aku melihat Mak sebagai perempuan paling kuat. Kala itu tubuh Abah terbaring kaku di teras. Kaos putih Abah yang biasanya kekuningan menjadi berwarna merah darah. Wak Rus -teman Abah- berdiri dengan tangan terangkat tinggi, masih menggenggam celurit. Mak membatu, tidak berteriak, pun tidak menangis.
Dengan tenang, Mak mengambil celurit dari tangan Wak Rus, lalu melemparnya ke dalam rumah sebelum mengunci pintu: memisahkan celurit yang masih basah berdarah dan aku dari luar dan dari Wak Rus. Kemudian Mak memanggil Wak Haji, tetangga sebelah yang biasa mengobati orang sakit.
Aku masih berumur delapan tahun dan hanya bisa melihat dengan nanar dari jendela berdebu saat Wak Haji membacakan doa ke ubun-ubun Abah, menekan-nekan dadanya sebelum menggeleng dan melipat kedua tangan Abah ke bagian tengah perut.
Aku juga melihat Mak mengusap sudut matanya sebelum membuka kembali pintu rumah. Entah ke mana Wak Rus pergi. Celuritnya masih tergeletak di depan kamar Mak. Dengan cepat, Mak menyepak celurit itu masuk ke dalam kamar, menyisakan jejak-jejak darah di lantai, sebelum jenazah Abah diangkat beramai-ramai.
Sejak hari itu, Wak Rus menghilang. Belakangan kudengar ada yang bilang dia masuk penjara tapi ada juga yang yakin dia bersembunyi ke kampung di seberang sungai. Kupikir itu bukan urusanku.
Urusanku adalah Mak yang terus menjadi akar pemberi hidup bagiku. Juga bagi Malina, yang lahir beberapa bulan setelah tubuh beku Abah yang bersimbah darah diangkat beramai-ramai keluar dari rumah, yang lahir beberapa bulan setelah Wak Rus dan celurit merahnya musnah menghilang.
Aku melihat langsung Mak tetap menjadi perempuan paling kuat. Mak menjadi tukang cuci orang kaya di luar kampung. Tiap hari Mak berangkat kerja naik sepeda Abah, yang sudah berkarat karena sempat dibiarkan terpapar hujan dan panas. Mak menggendong Malina dengan kain jarik dan mengayuh sepeda karatan. Mak mendudukkan aku di boncengan untuk menikmati jalan menelusuri gang kampung ke jalan besar menuju sekolah dan kelak datang lagi menjemputku, dengan Malina digendong di kain jarik.
Selain jadi tukang cuci, Mak juga bekerja di kebun atau sawah setiap akhir pekan. Malina masuk ke kain jarik dan aku duduk di goncengan. Kelak, aku main-main di sawah atau memanjat pohon jambu di kebun sedang Malina dibaringkan di atas rumput lebat yang empuk.
Pernah kami ribut waktu berpapasan dengan istri Wak Rus, dalam perjalanan pulang dari sawah. Perempuan itu meludahi wajah Mak sambil mengucapkan sumpah serapah. Mak berhenti, tak melakukan apapun selain menatap tajam mata istri Wak Rus. Aku turun dari goncengan, memekik anjing, mengambil batu besar untuk melempar kepalanya. Namun, Mak menarik bahuku dan menggeleng.
“Biar Tuhan yang balas,” ucapnya.
“Tapi dia jahat, Mak.” Aku menggeram.
Mak menggeleng.
***
Umur 17 tahun, aku merantau ke kota. Hidup harus diperjuangkan, begitu pikirku. Malina tak boleh putus sekolah dan Mak tidak mungkin bekerja hingga usia senja. Aku sebagai pengganti Abah akan menjadi tulang punggung keluarga.
“Jangan sampai lupa dengan Mak, Wan,” kata Mak lembut saat melepas kepergianku ke kota dengan mata basah.
Dia memelukku lama, hingga Cak Alih -yang menjanjikan pekerjaan untukku di seberang pulau- menekan klakson mobil baknya tiga kali.
“Kau sudah catat nomor telepon Wak Haji, kan, Wan? Nanti kau telepon Mak, ya?”
Aku mengangguk agar Mak tak semakin banyak bicara. Setelah mencium tangan Mak dengan takzim, aku melompat ke bak belakang mobil Cak Alih.
Kulihat air mata Mak bercucuran sementara Malina berteriak mengejar mobil Cak Alih. Tenggorokanku tercekat menahan sesak yang memenuhi dada. Pemandangan menyedihkan itu menghilang saat mobil berbelok di pertigaan.
Aku bekerja keras seperti Mak untuk mencari hidup di pulau seberang. Aku bekerja keras menahan banyak keinginan agar membagi rezeki untuk Mak dan Malina. Sekali sebulan aku menelepon rumah Wak Haji untuk saling berkabar dengan Mak. Aku merasakan suara Mak memelan tapi yakin Mak tetap perempuan yang paling kuat. Sesekali Malina ikut bertelepon dengan suara yang makin keras dan jelas, “Mas aku kangen…
Malina sudah dewasa, kata Mak setiap kali kami bertelepon. Malina juga sudah bekerja di minimarket di pinggir jalan raya menuju kampung kami, kata Mak sebulan lalu.
“Kamu pulanglah Lebaran nanti. Mak juga kangen….
Dua tahun aku tak menabung apapun. Semua untuk menyambung hidup di rantau hari demi hari di rantau dan sisanya dikirim ke Mak dan Malina. Tapi Malina sudah bekerja, dan aku pun siap untuk mulai menabung. Kelak aku akan pulang, melepas kangen ke Mak dan ke Malina.
***
Suara panggilan masuk di ponselku mengganggu lamunanku. Nomor yang muncul di layar tak kukenal. Ragu sekejap, kujawab panggilan itu.
“Wan ini Mak…” suara Mak tergesa dan aku bergetar tapi terbisukan: tak pernah Mak yang meneleponku.
“Wan, adikmu hamil… Malina hamil.”
Kuangkat kepalaku memandang langit-langit gudang tempat kerjaku. Aku terdiam, tak berdaya untuk mengutuk, tapi juga bersamaan terlintas rasa syukur setelah sempat membayangkan berita terburuk. Sempat muncul gambar tubuh Abah yang beku dengan kaus berwarna merah di benakku, namun segera terganti bayangan Malina sedang mengelus-elus perutnya.
“Wan, kau dengar…” desak Mak semakin tergesa.
“Ya Mak, aku pulang.”
***
Tidak ada yang meriah di rumah Mak. Tidak ada tenda, meja prasmanan, hiburan, atau dekorasi yang mencolok khas acara pernikahan. Rumah tua kami yang kecil tidak berhias selayaknya jika ada anak gadis yang hendak menikah. Hari ini kami akan menikahkan Malina, demi kehormatan keluarga.
Calon suami Malina duduk di meja ijab kabul, sendiri.
Mak tak mengizinkanku untuk menikahkan Malina. Dia juga terlalu gelisah untuk mendengar pertanyaanku, “Mengapa tak boleh, Mak? Aku abangnya Malina. Kalau bukan Mawan, siapa lagi yang bisa menikahkan Lina.”
Mak menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tak henti kuajukan. Dia bergegas ke dapur, ke halaman belakang, setengah berlari masuk ke dalam kamarnya, dan berkumpul dengan para tetangga yang datang. Aku pun menyerah pada perempuan yang paling kuat itu, duduk diam entah menunggu apa atau siapa.
Mendadak bunyi langkah kaki membogkar keheningan ruang tamu yang berbau lembap. Wak Rus muncul tergopoh-gopoh. Aku ingat wajah yang tak akan pernah terlupakan itu dan tak berdaya menanggapi kejutan besar menyerangku langsung di depan mataku. Aku semakin terhenyak melihat Mak langsung berdiri menyambutnya dan membisikkan sesuatu.
Lelaki tua itu segera duduk di hadapan calon suami Malina. Dua orang saksi tampak mengembuskan napas lega, serupa Mak. Kepalaku otomatis gelagapan mencari celurit berlapis darah merah tapi tak tampak.
“Sah!” kedua saksi berteriak lantang.
Celurit berlumuran darah kembali berkelebat ketika kulihat Wak Rus memeluk Malina, lalu mengecup keningnya. Mak tersenyum riang menyaksikannya.
Kepalaku panas membara dan aku bangkit menuju kamar Mak, berharap menemukan celurit yang dulu disepak Mak dan melepas bercak-bercak darah di lantai. Celurit yang membunuh Abah untuk merebut Mak.
***
Padang, 16 Juni 2023
Rinanda Tesniana, perempuan yang mencintai hujan dan malam. Baginya menulis adalah salah satu cara untuk mendamaikan harapan dan kenyataan.