Puisi, edisi 384 November 2024

pulau-pulau disepah kabut, hanya angin bergaram tersisa 
dan derak terakhir camar-camar beranjak dari pagar besi kapal. 
laut adalah kuburan terpanjang bagi kenangan 
ramuan bagi luka menganga. aku berharap kau tak memberi tanda 
bagi setiap kesedihan yang datang tiba-tiba. 
sebab, di tanganmu yang retak musim kelewat berkarat.

tak ada kangen awet di sini, semuanya serba membusuk
kesepian yang meniti temali juga termasuk 
mungkin pada bukit-bukit karang masih tersimpan biru kasunyataan 
atau dentang terpendam dari lonceng kesedihan 
ikan-ikan menggeliat dalam debur, 
ombak menderu seperi tabuhan tambur.

kemudian kita menduga. sebuah dermaga 
merupakan penunggu terbaik bagi kepulangan
dan matahari yang macet di selangkangan 
awan mengental adalah pertanda
: waktu dan rindu merupakan sepasang tebing menganga 
yang menyediakan maut untuk kita.
***
Madura, 2024

Lirik Pantai

kecemasan gugur. seperti replika cinta masa muda
sedang ingatan adalah ketam terpendam
ombak mendaratkan romantika kecupan pada mungil batu-batu. 
telanjangi sepasang kaki, 
sejarah menjadi tanggul berkarat yang menantimu. 
keluarlah dari buku puisi, 
angin migrain merupakan bahasa lain kesepianmu.

nun jauh di sana, kesetiaan telah jadi mawar. 
dari balik tanjung kudengar suara memar 
datanglah sebelum menara pasir melupakan dentang loncengnya 
atau roboh pada kesunyian yang sama. 
matahari sempoyongan, lupa cara membakar bangkai kenangan.

:kekasihku laut, kerap mengirimi botol berisi surat. 
aku menunggu pengembara untuk membacakannya. 
sebelum cintaku berkarat. sebelum kesedihan memadat.
***
Kutub/Yogyakarta, 2024

Surat dari Selat

aku maut yang menantimu
di antara peta buta dan kompas yang jarumnya patah
sejumlah jukung pasrah dibakar angin.
kupanggil namamu berkali-kali
lokan-lokan menyimpan suaraku 
sudah berapa musim layar-layar itu terkatup
puing-puing gudang tua, 
telaten mencatat leluhurmu. 
yang sempat menujum sejumlah rasi bintang 
dan langit bersisik. jangkar berkarat 
kelewat lama tak tertancap di dadaku
aku merindukannya sepanjang angin 
menjadi sinden terbaik bagi pantai. 
ollè ollang paraona alajârâ, ollè ollang alajâr mèyak saghârâ *
***
Kutub/Yogyakarta, 2024

* mantra atau nyanyian orang Madura jika hendak berlayar.

Khalil Satta Elman lahir di Sumenep Mei 2003. Mahasiswa Filsafat di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menulis puisi dan prosa. Berkegiatan di Komunitas Kutub Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *