Cerpen, edisi 386 Januari 2025
Aku sudah mengenal banyak perempuan. Tapi sungguh tak mengerti apa yang benar-benar mereka pikirkan atau apa yang benar-benar mereka inginkan. Orang-orang selalu bilang perempuan hanya ingin dimengerti tapi seringkali mereka sengaja berdiri sebagai misteri: menjadi sebuah teka-teki yang tak pernah selesai, menjadi sebuah kasus kejahatan yang tak terungkap, atau memang seperti sengaja untuk sukar dimengerti.
Bahkan dedengkot psikoanalisis, Sigmund Freud -yang mampu memecahkan misteri mimpi- akhirnya menyerah dalam urusan memahami perempuan. Menurutnya ‘perempuan adalah benua yang gelap’ dan dia mengaku tidak bisa menjawab pertanyaan ‘Apa yang diinginkan perempuan?’ walau meneliti jiwa perempuan selama 30 tahun.
Apalagi aku, yang cuma sekedar mengenal banyak perempuan.
Tapi ada satu perempuan yang bisa membuatku jatuh cinta berkali-kali. Seorang perempuan dengan pendirian teguh, seorang perempuan yang begitu kokoh memesonakan hati, seorang perempuan yang penuh kelembutan serta kasih sayang. Dan perempuan cantik itu pulalah yang gemar meminta maaf. Setidaknya meminta maaf kepadaku, pada momen-momen tertentu dalam hubungan kami. Ada tiga permintaan maafnya, yang amat sering diulang-ulangnya sehingga tak terhitung lagi berapa kali dia sampaikan.
Maaf kamu terlalu baik.
Itu adalah permintaan maaf pertamanya. Saat itu kami sedang berada di sebuah warung sambil menikmati mie ekstra pedas level setan dan es teh tarik kesukaannya. Ia terus saja menyantap mie ekstra pedas tanpa menoleh kepadaku sekalipun, sampai aku mengutarakan perasaanku kepadanya.
“Aku cinta kamu,” ujarku lembut. Dia pun segera menoleh kepadaku sebentar, dengan helai-helai mie yang masih menggantung di mulutnya. Setelah menyantap mie, ia menjawab pelan namun jelas terdengar, “Maaf kamu terlalu baik.”
Kemudian dia menenggak es teh tarik kesukaannya sebelum memandang kembali ke arah mangkuk mie ekstra pedas level setan dan menyeruput kuah mie dengan suara yang lebih keras dibanding permintaan maafnya.
Permintaan maaf itu diulangnya beberapa kali, dengan nada yang sama dan kejelasan yang sama pula, setiap aku mengungkap persaanku dengan berbagai cara -“Aku suka kamu” atau “Aku tak bisa berpisah lagi denganmu” maupun “Aku sungguh tergila-gila padamu.” Bagiku permintaan maafnya mengandung paradoks sekaligus ironi. Perempuan cantikku itu meminta maaf karena kebaikan-kebaikan yang ada di dalam diriku yang mungkin terlalu mencolok baginya. Sebuah kebaikan yang berlebihan, yang di atas rata-rata, yang ora umum. Oleh karena itu maka dia menyampaikan permintaan maaf dengan, “Maaf kamu terlalu baik.”
Aku benar-benar tidak tahu kenapa dan sejak kapan pula kebaikan-kebaikan perlu dimaafkan? Sejak kapan dan kenapa pula seorang lelaki yang terlalu baik sampai justru membuat seorang perempuan mesti meminta maaf? Bukannya kebaikan mestinya memicu kebahagiaan? Atau apakah seorang laki-laki harus menjadi jahat dulu agar cintanya diterima oleh seorang perempuan? Permintaan maaf jenis ini benar-benar tidak berada pada tempat yang semestinya.
Tapi memang begitulah, kata-kata kemudian berkembang sebagaimana bahasa berkembang. Bahasa dan kata-kata yang awalnya tak disepakati oleh banyak orang kemudian muncul menjadi kata-kata yang dipercayai dan menjadi bagian dari hidup manusia atau bahkan menjadi hidup itu sendiri. Tak terkecuali kata-kata: “Maaf kamu terlalu baik?”
Maaf ada hati yang sedang kujaga.
Jenis permintaan maaf kedua dari perempuan cantik yang kucinta itu aku dapatkan setelah aku gagal dengan ungkapan perasaan cinta lewat kata-kata. Aku sudah mengolah berbagai kata-kata untuk mengungkapkan isi hatiku namun selalu dibalas dengan maaf yang lembut dan jelas, “Maaf kamu terlalu baik.” Aku pun menyerah dengan permainan kata-kata semata.
Maka aku tingkatkan ungkapan perasaan hatiku dengan kata-kata dan perbuatan. Saat itu kami sedang naik komedi putar di Pasar Malam dekat lapangan kecamatan. Aku sampaikan perasaan cintaku dengan kata-kata yang lembut dan -kuyakin- menyentuh hati, “Aku mencintaimu” sambil menyodorkan setangkai bunga mawar merah -yang kata banyak orang merupakan lambang cinta abadi. Dia meminta maaf, dengan kata-kata yang berbeda, “Maaf ada hati yang sedang kujaga.”
Permintaan maaf kedua ini, menurutku, membuktikan apa yang disebut Sigmun Freud bahwa ‘perempuan adalah benua yang gelap.’ Dalam kegelapan, tak ada yang bisa terlihat sehingga menimbulkan kebingungan dan sekaligus juga kecemasan. Dan memang permintaan maafnya atas kata-kata dan perbuatanku menyangkut cintaku kepadanya benar-benar di luar dugaan. Hati siapa yang sedang dijaga perempuan cantikku? Hatinya sendiri, hati orang lain -perempuan atau laki-laki?- hati ibunya atau mungkin hati ayahnya. Bisa jadi mungkin justru hatiku yang sedang ia jaga. Dan seperti apa pula penjagaan hati yang harus dilakukannya sehingga sampai perlu meminta maaf kepada pria yang mencintainya.
Maka permintaan maaf jenis kedua ini lagi-lagi semacam paradoks, sekaligus pula -menurutku- terdengar aneh dibanding yang pertama, “Maaf kamu terlalu baik’. Sama dengan permintaan maaf yang pertama, maka yang kedua ini juga diulang-ulang setiap kali aku mengungkapkan perasaanku lewat kata-kata yang bervariasi dan ragam perbuatan. Setelah memberi setangkai mawar merah, misalnya, aku membawa sekeranjang kecil jeruk segar dengan hiasan pita merah jambu, maupun membelikannya cangkir teh keramik berukir namanya. Namun semuanya bermuara pada “Maaf ada hati yang sedang kujaga.”
Tapi aku tidak menyerah, dengan permintaan maaf jenis pertama dan jenis kedua yang terus diulang-ulangnya. “Tidak semudah itu Ferguso,” kata seri telenovela yang pernah populer. Sudah kutegaskan dari awal bahwa dia adalah seorang perempuan yang bisa membuatku jatuh cinta berkali-kali kepadanya. Cilakanya, perempuan cantikku itu melontarkan jenis yang ketiga.
Maaf aku hanya menganggapmu sebagai teman.
Permintaan maaf ketiga yang sama anehnya dengan dua yang sebelumnya. Apakah menjadi teman merupakan kesalahan besar sehingga seseorang harus meminta maaf. Bukankah berteman -di jaman ketika orang-orang lebih sibuk dengan dirinya sendiri- merupakan sebuah kebaikan yang harus dipuja-puji oleh semua orang, temasuk aku dan perempuan cantikku.
Permintaan maaf jenis ketiga yang aneh ini disampaikan oleh perempuan cintaku ketika beragam kata-kata dan perbuatan sebagai ungkapan cintaku ditanggapi dengan “Maaf ada hati yang sedang kujaga.” Maka aku pun meningkatkan lagi ungkapan cintaku hingga ke tingkat perilaku yang nyata.
Saat itu kami sedang di bazar buku dan kubelikan dia novel-novel karya penulis pujaannya: Pramoedya Ananta Toer, Haruki Murakami, Gabriel Garcia Marquez, dan Ahmad Tohari. Dipilihnya novel-novel karya mereka yang belum dimilikinya dan sebelum dia mengambil dompetnya, aku yang lebih cepat menyodorkan kartu kreditku sambil berbisik kepadanya lembut dan romantis, “Kucinta kau setelah seratus tahun kesendirianku“ dengan mengutip One Hundred Years of Solitude-nya Gabriel Garcia Marquez.
Lantas aku ggenggam tangannya sambil mengulang, “Aku jatuh cinta padamu setelah seratus tahun kesendirianku…” Di menyunggingkan senyum yang manis sekali, menarik pelan tangannya dan, “Maaf aku hanya menganggapmu sebagai teman.” Lantas dia mundur perlahan-lahan untuk segera menjaga jarak antara kami berdua dan menatapku dengan senyum yang tetap amat manis sekali. Wajahku mendadak cemas dan khawatir jika perempuan cantik yang bersenyum manis itu marah. Dia tampak terhenyak dan segera mendekat kembali, memelukku dan mengulang jenis permintaan maaf yang ketiga, “Maaf aku hanya menganggapmu sebagai teman.”
Hati dan benakku gentayangan di dalam kegelapan, ‘jika memang memungkinkan bisa berteman maka tentu kelak memungkinkan pula menjadi kekasih.’ Kondisi berteman adalah sebuah peluang yang baik untuk dikembangkan menjadi hubungan pada tingkat selanjutnya, bukan sebagai kesalahan atau keburukan maupun kejahatan yang harus disesalkan sehingga membutuhkan permintaan maaf. Maka aku pun terdampar kembali ke benua gelap yang ditemukan oleh Sigmund Freud seratus tahun lalu!
Aku sudah mengenal banyak perempuan. Tapi sungguh tak mengerti apa yang benar-benar mereka pikirkan atau yang apa benar-benar mereka inginkan. Orang-orang selalu bilang perempuan hanya ingin dimengerti, dan aku -sungguh- ingin mengerti perempuan cantikku saja, bukan berambisi untuk mengerti seluruh perempuan di bumi. Maka ketika kami berjalan berdua di taman kota, setelah dia meminta maaf lagi ketika melepas tangannya dari genggaman tanganku, “Maaf aku hanya menganggapmu sebagai teman,” aku pun bertanya.
“Apa yang sebenarnya perempuan inginkan dan pikirkan?”
“Kau benar-benar tidak tahu?” katanya sambil bergeser sedikit ke samping untuk memberi ruang kosong antara kami berdua.
“Tidak” jawabku serius.
“Sama” jawabnya santai tanpa beban apapun.
“Maksudmu?” tanyaku menegaskan
“Kau pikir aku tahu apa yang sesungguhnya aku inginkan?” ia malah bertanya balik
“Bukankah seharusnya memang begitu?” gerutuku.
“Jangankan dirimu… aku sendiri yang perempuan ini tidak tahu apa yang sebenarnya kami perempuan inginkan. Aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan”
Aku terhenyak diam tapi langsung batinku berkomentar amat keras, “Perempuan memang mahluk gila yang kasat mata, tapi terlalu indah untuk dilewatkan.” Detik itu juga kusadari bahwa cintaku pada perempuan cantikku semakin dalam, tapi tak kuungkapkan. Aku tak mau bakal ada jenis permintaan maaf yang keempat.
***
Purwokerto, Mei 2024
Juli Prasetya adalah seorang penulis muda asal Banyumas. Sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung.