; buat amir biki
Puisi, edisi 388 Maret 2025
semacam kutukan tuhan yang abadi
aku terkepung dalam sedih dan kecewa
keadilan tak ubahnya perlombaan yang sulit dimenangkan, biki
di sini, di kampung priok yang damai
aku janda yang kesetiaannya terjaga
meski angin sakal dari tenggara mengempas
dan ombak masih menerjang
pada dermaga ini, biki
suaraku masih lantang menyuarakan kebenaran
***
Yogyakarta, 2025
Surat Kesedihan
ada yang perlahan pucat
ketika pelan-pelan kucatat kesedihannya,
pada riuh sungai dan cemara gugur
kehilangan masih menjadi bunyi paling keras
yang menggema di dadanya
barangkali, ia masih ingat
bagaimana cara angin melepas reranting
juga matahari yang berjalan lambat
meraba puncak kesunyian
kerinduan berulang kali
menanggung empedu masa lalu,
kepedihan yang menganga
perjalanan yang terhenti
segalanya serba padam
***
Yogyakarta, 2025
Zakiyyatul Fuadah, lahir di Purworejo. Mahasiswi Sastra Indonesia di Unsoed Purwokerto. Puisi dan beberapa ulasannya tentang sastra dimuat di berbagai media cetak dan online. Kini tinggal di Yogyakarta sambil merampungkan buku kumpulan puisi perdananya. Instagram: @zakiyyafdh_