Cerpen, edisi 396 November 2025
1.
Di atas meja tampak kelongsong peluru yang berbau mesiu terbakar, tulang kambing, peta daerah, laporan berita, tali kekang berbau keringat kuda, dan sepotong roti. Semuanya di atas meja sedangkan di bangku kayu, Nikolka Koshevoi, komandan pasukan berkuda duduk dengan bersandar rapat pada ambang jendela. Di celah jarinya yang kaku kedinginan, dia memegang pensil. Di sisinya ada poster lama yang terlantar di meja, juga formulir yang sudah separuh diisi. Selembar kertas mengungkapkan secara ringkas: Koshevoi Nikolai. Komandan pasukan. Berasal dari keluarga tani. Anggota organisasi Pemuda Partai Komunis.
Dalam kolom ‘usia’, pensilnya dengan lambat menulis: 18 tahun.
Nikolka berbahu bidang dan tampak lebih tua daripada usia sebenarnya. Yang menuakan dia adalah matanya yang berkerut dan punggung yang bongkok seperti orang tua. Dia masih pemuda -jagung muda, kata orang dalam pasukan- tetapi cobalah cari orang lain yang berhasil menghancurkan dua kumpulan musuh hampir tanpa mengorbankan jiwa pasukan sendiri. Selama setengah tahun memimpin pasukan ke medan tempur dan pertarungan, dia tak kalah dibanding komandan yang lebih tua!
Nikolka kesal bahwa usianya hanya delapan belas tahun. Apabila berhadapan kolom ‘usia’ maka pensilnya melambatkan gerakan, dan pipi Nikolka menjadi merah karena perasaan kesal itu. Ayahnya, kazak dan karena itu dari sisi ayahnya, dia juga adalah kazak. Ingatannya seperti dalam mimpi bagaimana dalam usia lima-enam tahun dia sudah didudukkan ayahnya di atas kuda tunggangan.
“Pegang bulu tengkuk!” teriak ibu, yang dengan wajah pucatnya tersenyum dari pintu dapur kepada Nikolka dan memandang dengan mata yang luas terbuka pada kaki kecil anaknya yang terkangkang di belakang kuda. Dia juga memandang pada ayah Nikolka yang memegang tali kekang.
Dulu dalam waktu yang lama, ayah Nikolka menghilang tak tentu rimba semasa perang dengan Jerman. Tidak ada berita apa pun tentangnya. Ibu meninggal. Dari ayahnya, Nikolka mewarisi kesukaan terhadap kuda, keberanian yang luar biasa dan tanda lahir sebesar telur burung dara yang sama seperti pada ayahnya: berada agak sedikit ke atas di pergelangan kaki kiri.
Hingga usia lima belas tahun Nikolka mengembara mencari kerja kasar. Kemudian berhasil mendapat mantel tentara, lalu ikut resimen Laskar Merah yang melintasi desa-desa untuk berperang dengan pasukan Laskar Putih yang dikepalai oleh Vrangel. Pada musim panas yang baru berlalu, Nikolka pernah mandi di sungai Don bersama dengan komandan tentara. Komandan itu dengan gagap, sambil mengerotkan kepalanya yang pernah kena luka parah, berkata dengan menepuk punggung Nikolka yang bongkok dan hitam dibakar panas matahari:
“Kamu apa ni… apa ni… Kamu berba… berbahagia! Ya, berbahagia! Tanda lahir, kata orang, adalah tanda kebahagiaan.”
Nikolka tersengih menunjukkan giginya yang putih, menyelam ke dalam air dan berteriak:
“Segalanya karut belaka! Aku sejak kecil hidup sebatang kara, bekerja sekuat tenaga sebagai buruh kasar, mana kebahagiaannya?”
Dan dia berenang ke benteng pasir yang memanjang di sungai Don.
***
2.
Rumah tumpangan Nikolka terletak di tepi curam Sungai Don. Pada malam hari ketika badai ombak sungai mengempas di bawah tebing, maka daun jendela seperti diketuk-ketuk dan Nikolka merasa seakan-akan ada air yang meresap melalui lubang di lantai dan menggoncangkan rumah.
Dia hendak pindah ke rumah lain tetapi tidak jadi, lalu tinggallah dia di situ hingga musim gugur tiba. Pada pagi yang dingin, Nikolka keluar ke beranda rumah dan bunyi derapan sepatu lars berladamnya memecah kesunyian yang rapuh. Dia turun ke kebun ceri, membaringkan diri ke rumput basah dan beruban karena terkena embun pagi. Terdengar seorang ibu menjinakkan lembu dan anaknya, dengan nada suara yang rendah namun menuntut. Dan susu perah pun mengalir menyentuh dinding ember.
Di halaman terdengar pintu pagar menciut, anjing menyalak dan suara ketua regu:
“Komandan ada di rumah.”
Nikolka bersandar pada sikunya.
“Aku di sini. Apa pasal?”
“Seorang pesuruh datang dari stanitsa. Katanya ada gerombolan menyusup dari daerah Salsky, menduduki ladang negara Grushinsky…”
”Bawa dia ke mari.”
Pesuruh berupaya menyeret kudanya yang berkeringat panas itu ke kandang. Kuda itu merebah dengan kaki depan di tengah halaman rumah, sesudah itu miring, mendengus tak henti-henti, memandang dengan mata kaku pada anjing yang menyalak ganas terus-menerus dan jatuh mati. Kuda itu mati karena pesuruh memecutnya tanpa henti-hentinya.
Nikolka membaca surat. Tuan tanah memintanya agar segera datang bersama pasukan untuk membantu. Nikolka kembali ke rumah, mengenakan pedang dan berpikir: “Sepatutnya aku pergi ke kota untuk belajar… Tetapi gerombolan datang lagi… Komandan tentara selalu menegur: masa sepatah kata pun kau tidak bisa tulis dengan benar. Malu kan, kau komandan pasukan! Tetapi aku bisa buat apa? Bahkan sekolah dasar pun tak sempat aku tamat… Lucu. Dan sekarang gerombolan datang lagi. Pertumpahan darah lagi. Aku sudah bosan hidup semacam ini…”
Dia keluar ke beranda sambil mengisi senapan, tetapi pikirannya terus berkejar-kejaran seperti kuda-kuda di jalan raya: perlu pergi ke kota… Belajar.
Berjalan ke dalam kandang, dia melihat kuda yang mampus tadi dengan aliran darah hitam keluar dari hidungnya dan dia memalingkan muka…
***
3.
Di jalan desa, di lubang-lubangnya, semak pridorozhnik, lebeda dan pisyatki tumbuh dengan subur. Jalan itu hanya digunakan di musim panas untuk membawa rumput kering ke timbunan rumput yang menjulang, sementara di tepi jalan raya rumput memanjang setinggi tiang kabel telegram. Melalui jalan raya desa itulah ketua gerombolan membawa orang-orangnya: lima puluh kazak yang anti kekuasaan Soviet. Tiga hari habis-habisan, seperti kawanan serigala, gerombolan itu melewati jalan dan tanah perawan karena dikejar pasukan Nikolka Koshenoy.
Gerombolan itu beranggotakan orang-orang yang nekad, berani, ulet, dan berpengalaman. Akan tetapi pimpinannya merenung jauh: kadang-kadang berdiri pada sanggurdi di pelana kuda, mengamati padang, menghitung berapa jauh jaraknya sampai ke pinggir hutan yang memanjang di seberang Sungai Don.
Begitulah, mereka mundur seperti gerombolan serigala yang diburu pasukan tentara dan Nikolka Koshenoy yang mengikuti jejak-jejak langkah gerombolan itu.
Pada siang hari musim panas, cuaca cerah di ladang di bawah langit yang biru dan bulir-bulir gandum yang penuh yang bergoyang-goyang dengan bunyi desiran angin. Masa itu adalah sebelum panen ketika sulur gandum menghitam seperti kumis pria berusia tujuh belas tahun yang tumbuh cepat seakan mau menjadi lebih tinggi daripada manusia.
Lelaki berjanggut yang tinggal di desa menanam gandum hitam di tanah liat, di lereng bukit pasir dekat kandang kuda. Hasil panen biasanya selalu kurang. Satu desyatina menghasilkan kurang-lebih tiga puluh mera tetapi gandum hitam tetap ditanam untuk membuat arak. Dan arak dari gandum hitam akan lebih bening daripada beningnya air mata seorang gadis. Begitulah hidup yang lumrah sejak dulu kala: nenek moyang selalu minum arak.
Bahkan pada lambang tentara kazak Don, ada lukisan seorang kazak yang mabuk dan telanjang di atas tong arak. Pada musim gugur, semua desa dan stanitsa akan beraroma arak yang kental. Topi kazak dengan bagian atas berwarna merah tampak bergoyang-goyang mabuk di atas pagar kayu. Dan pimpinan gerombolan juga selalu mabuk dengan semua pasukannya -dari kusir sampai penembak senapan mesin- terduduk miring di kereta kuda.
Sudah tujuh tahun pimpinan gerombolan tidak pernah datang ke kawasan kampung halamannya. Mula-mula dia jadi tawanan Jerman, kemudian jadi tentara Vrangel, dan ke Konstantinopel di bawah panas terik matahari dan kamp kawat berduri serta kapal Turki.
Begitulah hidup masa silam pimpinan gerombolan. Hatinya menjadi keras seperti telapak kerbau pada musim panas. Rasa perih yang aneh merongrong dari dalam dengan rasa mual yang ingin muntah. Dan pimpinan gerombolan merasa bahwa rasa perih itu tak bisa dilupakan atau dikurangi dengan minum arak. Tetapi dia tetap saja senantiasa minum arak hingga mabuk karena gandum hitam harus berbunga di ladang Don, yang daratan tanah hitamnya terbuka pada sinar matahari. Juga karena perempuan berpipi hitam manis di desa yang menyuling arak yang beningnya seperti air bersih dari mata air.
***
4.
Ketika fajar pertama menyingsing, terasalah dingin yang sebenar-benarnya. Bunga lili air berdaun lebar terpercik embun es keperak-perakan dan dari roda kincir air milik Lukich terlihat kepingan es berwarna-warni yang tipis.
Sejak pagi, Lukich kurang sehat: pinggangnya sakit dan karena sakit yang menusuk-nusuk itu maka kakinya menjadi berat seperti besi yang melekat pada tanah. Sambil menyeret kakinya, dia bergerak di sekitar kincir air dengan susah payah membawa tubuhnya yang sepertinya ingin terlepas dari tulangnya. Beberapa ekor tikus keluar dan lari dari penampi jawawut. Lukich memandang ke atas dengan mata berair. Seekor burung dara hinggap di atas palang dan menaburkan bunyi yang berderai-derai. Dengan hidung yang seperti dipahat dari tanah liat, lelaki tua itu menghirup bau kental jamur dan gandum hitam yang digiling. Terdengar juga bunyi air yang memercik di tiang-tiang kincir air. Dia kemudian meremas-remas janggutnya dan termenung.
Di ladang peternakan lebah, Lukich membaringkan badan beristirahat. Dia tidur di atas mantel berbulu domba, berbaring miring dengan mulut terbuka dan janggutnya di pinggir mulut terkena air liur yang belum kering. Senja menyapu rumahnya dan ketika terbangun, dia melihat dua penunggang kuda yang keluar dari hutan. Salah seorang dari mereka memekik kepada orang tua yang sedang berjalan di ladang peternakan lebah:
“Pak, mari sini!”
Lukich memandang dengan curiga. Pada masa-masa, dia melihat banyak orang bersenjata yang merampas makanan dan tepung. Karena itu, dia membenci mereka semua tanpa memilih bulu.
“Cepat, cepat, bangkai tua!”
Lukich melintasi ladang peternakan lebah sambil kumat-kamit sesuatu di mulutnya yang lusuh dan berhenti agak jauh dari tamu-tamu itu sambil melirik dengan ekor matanya.
“Kami dari tentara, pak… Jangan takut,” kata pimpinan gerombolan dengan suara parau. “Kami memburu gerombolan yang tertinggal dari pasukan utama kami. Mungkin kemarin ada terlihat satu pasukan lewat di sini?”
“Ya, ada entah siapa.”
“Ke arah mana mereka menuju itu, pak?”
“Entah, tak tahu.”
“Tak ada dari mereka yang tinggal di kincir air.”
“Tidak,” jawab Lukich dan berbalik hingga punggungnya yang menghadap mereka.
“Tunggu dulu, pak,” Ketua gerombolan turun dari pelana, berdiri dengan kakinya yang melengkung, sambil melepaskan napas yang kental dengan bau arak:
”Kami ini pak, mau membasmi orang komunis… Begitulah… Dan siapa kami, itu bukan urusanmu.” Dia kemudian tersentak, dan tali kekang terlepas dari tangannya. “Urusanmu menyediakan biji-bijian untuk tujuh puluh ekor kuda dan diam… Cepat! Mengerti? Di mana biji-bijian milikmu?
“Tidak ada,” kata Lukich dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Tidak ada? Tapi di lumbung itu ada apa?”
“Barang-barang bekas, tak ada gunanya. Biji-bijian tidak ada.”
“Mari kita lihat!”
Dia memegang leher baju orang tua itu dan mendorong tubuhnya dengan lutut ke arah lumbung dan membuka pintu. Di dalamnya ada gandum dan jali.
“Ini apa? Biji-bijian, bukan? Persetan kau!”
“Biji-bijian, Tuan. Sisa dari penggilingan. Aku mengumpulnya biji demi biji. Sedangkan kau mau memberi kepada kuda untuk dimakan.”
“Kamu mau supaya kuda-kuda mati kelaparan? Jadi kau menyokong Tentara Merah? Cari mati?”
“Ampun, Tuan! Mengapa begitu?” Lukich melepas topinya, berlutut, menangkap tangan ketua gerombolan dan menciumnya.
“Katakan, kamu suka Tentara Merah?”
“Maafkan aku, Tuan. Maafkan kebodohanku. Maaf. Jangan bunuh aku,” kata orang tua itu sambil mendekap kaki ketua gerombolan.
“Bersumpahlah bahwa kau tidak menyokong Tentara Merah… Jangan cuma membuat tanda salib saja! Makan tanah!”
Dengan mulut tak bergigi orang tua itu mengunyah pasir dari tangannya dan membasahinya dengan air mata.
“Sekarang aku percaya. Bangun kamu, si tua!”
Dan pimpinan gerombolan tertawa besar melihat orang tua itu tidak bisa berdiri karena kakinya kebas. Sementara anggota gerombolan mengangkat gandum dari lumbung dan menebarkannya ke kaki kuda-kuda serta menaburi halaman dengan biji-bijian berwarna keemasan.
***
5.
Fajar berkabut membasahi tanah.
Lukich melewati seorang pengawal dan menempuh jalan tanah yang hanya dia sendiri yang tahu, untuk menuju ke desa melalui semak belukar dan hutan.
Sesampai di kincir air, dia hendak membelok ke jalan tikus tetapi tiba-tiba di depannya muncul samar-samar beberapa penunggang kuda.
“Siapa itu?” terdengar suara cemas memecah kesunyian.
“Aku….” kumat-kamit Lukich dengan gemetaran.
“Siapa kau? Mana kartu penduduk? Mengapa di sini?”
“Aku tukang giling dari kincir air… Ada masalah.”
“Masalah apa? Mari berjumpa dengan komandan! Pergi ke depan sana,” perintah seorang penunggang kuda dan mendorong tubuhnya dengan kuda.
Lukich merasakan bibir kuda yang panas menyentuh lehernya dan berjalan terpincang-pincang dengan langkah kecil.
Di lapangan di depan sebuah rumah beratap genting, mereka berhenti. Pengawal turun dari pelana, mengikat kuda pada pagar dan naik ke beranda sambil membuat suara dengan pedangnya.
“Ikut aku!”
Dari jendela tampak lampu yang menyala. Mereka masuk ke dalam rumah.
Lukich bersin karena asap tembakau, lalu membuka topi, dan membuat tanda salib.
“Kami menahan orang tua ini. Dia menuju ke desa.”
Nikolka mengangkat kepalanya yang berambut lebat dan bertanya setengah tidur tetapi tegas:
“Kau mau ke mana?”
Lukich melangkah ke depan dan menjawab dengan gembira:
“Sayangku, sekarang aku kenal kau. Orang kita. Tadi aku pikir gerombolan lagi. Tapi aku takut untuk bertanya. Aku tukang giling. Kamu kan yang dulu melintasi hutan Mitroshin dan singgah ke kincir air. Akulah yang menjamumu dengan susu… Ingat nggak?”
“Mau bilang apa kamu sekarang?”
“Begini. Kemarin ada satu gerombolan datang dan seluruh biji-bijian dirampas untuk dijadikan makanan b kuda. Aku disiksa. Ketua gerombolan berkata: Bersumpahlah untuk kami dan memaksaku makan tanah.”
“Sekarang mereka di mana”
“Masih di situ. Mereka membawa arak dan minum-minum di rumahku, persetan mereka. Jadi aku cepat ke sini minta pertolongan.”
“Pasang pelana kuda,” perintah Nikolka, berdiri dari bangku dengan tersenyum kepada orang tua itu.
***
6.
Fajar merekah.
Nikolka dengan wajah yang kehijauan karena tidak tidur beberapa malam, menunggang kuda mendekati kereta kuda yang membawa senapan mesin.
“Waktu menyerang nanti lepaskan tembakan ke lambung kiri. Kita harus mematahkan sayapnya.”
Setelah itu dia pun memecut kudanya ke arah pasukan yang sudah berbaris.
Di belakang barisan pohon eik di jalan raya, tampak penunggang kuda: empat di tiap-tiap barisan dengan kereta kuda yang membawa senapan mesin berada di tengah.
“Mari!” teriak Nikolka dan memecut kudanya dengan cambuk.
Dari balik belukar lebat, seekor serigala dengan duri tumbuhan di bulunya berlari cepat ke atas bukit kecil. Dengan kepala yang menjorok ke depan, serigala itu terpaku memperhatikan yang terjadi sekitarnya. Tidak jauh dari situ terdengar bunyi tembakan dan aneka suara yang bising berkumandang di udara.
“Dor!”terdengar tembakan di semak belukar dan di belakang bukit, “Dor!”
Dan berulang-ulang: “Dor…dor…dor!” Di belakang bukit juga bergema: “Dor…dor…dor.”
Serigala itu berdiri sebentar sebelum berlari tergesa-gesa menghilang ke belakang rumput tinggi yang menguning.
“Jangan mundur! Jangan tinggalkan kereta! Ke pinggir hutan! Ke pinggir hutan, persetan!” ketua gerombolan berteriak sambil berdiri di sanggurdi pelana kuda.
Di dekat kereta kuda, kusir dan penembak senapan mesin sibuk memotong tali; karena tembakan yang terus-menerus maka rantai yang aus pun tergulung serabutan tak henti-hentinya.
Ketua gerombolan memutar kudanya berkeliling tetapi dia dikejar oleh seorang Laskar Merah dengan pedang di tangannya. Melihat seragamnya dan teropongnya yang tergantung di dada, maka dia mengerti bahwa orang itu bukan laskar biasa. Dari jauh, dia bisa melihat muka muda yang belum berkumis yang penuh kebencian dan mata yang menyipit karena hembusan angin. Kuda di yang ditunggangi pimpinan gerombolan menari-nari dengan setengah terduduk pada kaki belakang, sementara ketua gerombolan menarik pistol dari pinggang dan berteriak:
“Jagung muda! Awas, hati-hati!”
Ketua gerombolan menembak ke arah mantel hitam yang semakin mendekat.
Kuda itu terus berlari namun hanya sebentar dan jatuh rebah. Nikolka menanggalkan mantelnya dan berlari sambil menembak untuk semakin mendekati ketua gerombolan.
Di belakang hutan, serigala melolong dan berhenti. Matahari ditutupi awan dan bayangan yang melayang-layang jatuh di atas padang, jalan, dan hutan yang luruh karena angin dan musim gugur.
“Jagung Muda tetapi nekad. Baiklah, karena itu lah dia akan menemui ajalnya,” pikir ketua gerombolan. Dia menunggu sampai lawannya kehabisan peluru.
Dia membungkuk dari pelana dan menghantam dengan pedang sambil merasakan bagaimana tubuh lawannya itu menjadi lemah karena hantamannya hingga jatuh terjerembab lesu ke tanah.
Ketua gerombolan cepat turun, menyentak teropong milik lawan yang terbunuh, melihat kaki yang masih gemetar kecil, menoleh ke belakang dan berlutut hendak menarik sepatu lars dari kaki si mati.
Dengan menyandarkan kakinya pada lutut, dia membuka satu sepatu lars lawannya dengan cepat dan mulus. Di balik sepatu lars, ada kaus kaki. Sambil bersumpah keji, ditariknya kaus kaki bersamaan dengan sepatu lars dan ada tanda lahir sebesar telur burung dara. Dengan perlahan-lahan, seakan-akan takut membangunkannya, dia putar kepala yang mati yang sudah dingin dengan wajah dibuatnya menghadap ke atas, membiarkan tangannya kotor dengan dengan darah yang mengalir dari mulut korban, menatapnya dan baru sesudah itu mendekap bahu korban dengan kaku dan mengerang:
“Anakku!.. Nikolushka!.. Sayang!.. Darahku!..”
Dengan muka yang menghitam dia pun berteriak:
“Katakanlah sepatah kata pun!”
Dia merebahkan tubuhnya dan memandang pada mata yang semakin layu, pada kelopak mata yang tergenang darah, dan diangkat serta digoncangkan badan yang lemah dan tak berdaya itu. Tetapi Nikolka menggigit kuat ujung lidahnya yang membiru seakan takut akan mulutnya akan melepas sesuatu yang besar dan penting.
Pimpinan gerombolan menekan tangannya pada dada anaknya untuk mendinginkan anaknya itu pada d an menciumnya. Setelah itu dia memicu laras pistol dan melepaskan tembakan ke mulut…
Pada malam hari, ketika di belakang hutan tampak penunggang kuda dan terdengar angin yang membawa suara manusia serta bunyi dengusan kuda maupun bunyi sanggurdi, seekor burung rajawali yang tak rela melepaskan ubun-ubun kepala pimpinan gerombolan, terbang dan hilang di langit kelabu pada musim gugur.
***
Mikhail Aleksandrovich Sholokhov (1905 – 1984) meraih Hadiah Nobel Sastra tahun 1965 karena karya-karyanya yang penuh gairah dan berintegritas dan mengungkapkan sebuah babak dalam sejarah kehidupan orang Rusia. Родинка atau The Birthmark (Tanda Lahir) merupakan salah satu karya awalnya yang pertama kali diterbitkan tahun 1924 dengan latar belakang Perang Saudara Di Rusia.
Dr. Victor A. Pogadaev, Assoc. Professor di Lomonosov Moscow State University, Rusia. Dia merupakan sejarawan yang kerap menerjemahkan karya sastra Malaysia dan Indonesia ke Bahasa Rusia dan sebaliknya. Aktif di Nusantara Society, organisasi nir-laba yang terdiri dari para akademisi yang mempunyai perhatian pada Nusantara.
Kosa kata:
1. Kazak (Kosak): tentara pengawal khusus di daerah perbatasan Rusia.
2. Vrangel atau Pyotr Vrangel (1878-1928): salah seorang pemimpin gerakan kontrarevolusioner (Laskar Putih) di Rusia.
3. Tersengih: terbuka sedikit (tentang mulut, bibir, kelopak mata, dan sebagainya) -KBBI
4. Karut: kusut, kacau tidak keruan -KBBI
5. Stanitsa: wilayah administrasi orang Kazak
6. Pridorozhnik, lebeda, dan pisyatki: Jenis-jenis rumput di Rusia
7. Sulur: julai (dari tumbuhan yang menjalar dan sebagainya), pucuk batang muda (dari beberapa tumbuhan) -KBBI
8. Desyatina: ukuran luas tanah di Rusia setara dengan sekitar 11.000 m2
9. Mera: ukuran isi di Rusia sekitar 3.68 liter mengerotkan/meng·e·rot·kan/ v memencongkan (mulut)
10. Jawawut: adalah tanaman serealia (bijian-bijian) berbiji kecil yang kaya nutrisi dan merupakan alternatif pengganti beras -Wikipedia
11. Jali: tanaman seperti pohon jagung, bijinya dapat dimakan (dijadikan bubur atau perhiasan) -KBBI