Cerpen, edisi 396 November 2025

Tak pernah ada yang benar-benar mudah bila menyangkut dirinya. Hal yang remeh-temeh bisa menjelma perkara besar bila tak sesuai di hatinya. Namun, begitulah konon dia diciptakan sebagai penguji, terutama bagi pasangannya. 

Ingin Diyakinkan, Tapi… 
(Satu Minggu Sebelum ke Bioskop)
Tak ada yang lebih mendebarkan daripada ketika dia sedang bersiap-siap. Terlebih bila menyangkut dirinya sendiri —yang harus tampil sesempurna mungkin. Dan dalam setiap persiapannya, kesabaran seolah diuji hingga tetes terakhir. 

“Sayang, menurutmu bagaimana penampilanku?”

“Perfect!”

Keningnya mengernyit. Seolah-olah kata yang baru saja aku ucapkan berasal dari bahasa planet lain hingga dia pun tidak paham dan buru-buru memuntahkan kembali kata tersebut ke hamparan wajahku. 

“Perfect?” katanya pelan tapi tajam, mengulangi kataku sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Bola matanya membesar dan sepertinya segera ingin melompat keluar.  Dengus nafasnya menerobos masuk ke dalam hidungku menjadi bagian dari nafasku. “Jangan asal komentar! Rambutku saja masih berantakan, dan kamu bilang perfect?” Dia memalingkan wajah, lalu melemparkannya kembali ke haribaan cermin yang setia menanti di belakangnya.

Aku diam. Namun di dalam hati mencoba meramu jawaban yang pas —atau lebih tepatnya, sebuah jawaban yang ingin dia dengar. 

“Ya itu perfect… tinggal rambut kamu saja yang dirapikan, sayang.”

“Tinggal rambut, katamu? Lipstikku? Bulu mataku? Antingku? Ah, bisa tidak kamu sekali saja berkata jujur?” Wajahnya kembali disorongkan mendekat. “Aku bertanya karena tak ingin kamu malu jalan denganku. Apa kamu mau orang-orang berbisik-bisik tentangku? Atau jangan-jangan kamu justru menikmati hal itu?”

“Sayang… aku…”

“Cukup! Aku tak butuh penjelasan!”

Begitulah. Ketika aku memujinya, terbit ketidakpercayaannya. Namun bila aku mencoba memberanikan diri sedikit saja mengoreksi salah satu bagian kecil yang dia tampilkan, dia pun meledak serupa bom atom. Wajahnya pun berubah cemberut seraya memuntahkan repet yang pasti akan memekakkan telinga. 

Sebenarnya dia hanya ingin diyakinkan, tapi meskipun keyakinan itu sudah aku ucapkan setulus hati, dia tetap saja menolaknya. Karena yang sesungguhnya dia cari hanyalah kembali pada perasaannya sendiri —perasaan yang begitu teramat dalam dan gelap, seperti palung tak berpijak. 

Tiba-tiba aku ingat sesuatu.

“Tapi, sayang, ke bioskopnya kan masih minggu depan. Kenapa kamu sudah persiapan dari sekarang?”

“Bodo amat!!!” jawabnya seraya merubuhkan tubuhnya ke samudra kasur, lalu menenggelamkan kepala ke balik bantal. 

Bagiku Semuanya Tampak Sama 
(Sehari Sebelum ke Bioskop)
Dia —istriku— sebenarnya hanya ingin selalu menjadi poros semesta, tapi tak pernah mau melihat semestanya sendiri secara utuh. Oleh sebab itu dia menjadi lebih suka mempersoalkan hal-hal kecil, rumit, dan berliku. Seperti ketertarikannya pada setiap gradasi warna lipstik, acap kali melahirkan diskusi (untuk tidak menyebutnya debat) yang sangat pelik dan panjang. Mungkin simposium ekonomi dunia, pun bisa kalah rumitnya. Dan celakanya, di mataku seluruh koleksi warna lipstiknya yang berjibun —tampak berwarna merah. 

“Sayang, menurutmu cocoknya yang mana buat baju ini? Lover, pioneer, heroine, founder, atau yang ambitiotus ini?” tanyanya sambil menyodorkan beberapa lipstik, yang bila aku perhatikan dengan saksama, sungguh semuanya tampak berwarna merah. 

“Yang ini!” jawabku menunjuk satu warna yang aku yakini merah.

“Kamu tahu ini warna apa?”

“Warna apa? Sayang, kamu ingin tahu nama warnanya atau ingin pendapatku soal mana yang cocok?” aku menghindar niat penguji menilai pemahamanku atas warna-warna lipstiknya.

“Loh kok ngegas? Aku kan cuma nanya?”

“Ya, Tuhan. Bukan ngegas, tapi memastikan lo, sayang.”

“Kalau memastikan bukan begitu caranya! Sudahlah… kamu memang sudah nggak sayang. Kamu memang ingin orang berbisik-bisik tentangku dan kamu menikmati itu, kan?”

Ada Saja yang Salah 
(Lima Jam Sebelum ke Bioskop)
Apabila mood-nya sedang tidak baik dan sebuah rencana tengah mengantung kepastiannya, maka selalu ada saja yang salah. Kali ini, soal pakaian yang sedang dia coba. Padahal kalau aku lihat dengan cermat, sungguh pakaian itu masih tampak bagus dan masih baru beberapa kali pula dia pakai. Bukan hanya dari citra luarnya saja, tapi modelnya juga masih relevan, masih menyatu dengan musim tren yang sedang bergulir. Alias masih kekinian.

“Kalau aku perhatikan, model ini tampaknya sudah usang kan, sayang? Cobalah lihat baik-baik. Benar kan, sayangku?”

Itu sudah pakaian kelima yang dia coba. Sebagian baru beli enam bulan lalu. Bahkan ada yang dua bulan usianya —aku ingat, karena aku sendiri yang membelikannya setelah ia merengek-rengek manja. Maka tak ada pilihan yang paling bijak selain mengiyakan ucapannya.

“Ya. Model pakaian memang cepat sekali berganti.”

“Nah, itu kamu paham. Lagi pula, kemarin aku lihat Mba Ratna pakai baju yang sama persis dengan yang kamu belikan. Masa aku harus memakainya lagi.”

“Tapi waktu itu kamu yang minta, sayang. Kamu bilang itu model yang sedang hit.”

“Oh, jadi kamu mau aku seragam sama tetangga? Kamu suka aku kelihatan norak?”

“Bukan begitu, sayang…”

“Sudahlah! Kamu pasti menikmati kalau orang berbisik-bisik soal bajuku yang itu-itu saja.”

Aku pikir hanya ada satu jalan keluar.

“Oke. Kita ke mal sekarang. Pilihlah satu stel pakaian yang paling terbaru, yang menurut kamu belum ada satu pun ibu-ibu tetangga yang memakainya.”

Dia tersenyum. Dan senyum itu jauh lebih ringan daripada cemberutnya sepanjang hari.

Sekali Celah Terbuka… 
(Empat Setengah Jam Sebelum ke Bioskop)
Tiba di mal, dia bukannya langsung menuju toko pakaian, tapi diajaknya aku berkeliling dulu: ke toko sepatu, bando, anting, lipstik, pakaian dalam, dan tentu saja tas. Baju yang dari rumah sudah dia impikan, justru diabaikan sejenak. Dia pun kemudian membuka pembicaraan tentang tas: dari merek, ukuran, hingga warna yang cocok untuk siang atau malam. Dan itu pastilah  menurut kaidah-kaidah yang dia tetapkan sendiri, yang mana selalu saja berubah seperti cuaca (sesuai kebutuhan dan keinginannya). Sungguh, dia telah pula menjadikan persoalan tas menjadi tak kalah rumitnya dari persoalan pakaian. Dia yang menentukan A atau B saat itu juga, bukan apa rencana awal tujuan  kami ke toko pakaian. Kalau dipikir-pikir, dialah sebenarnya siang dan malam itu dan bukan lagi persoalan pergantian matahari dengan bulan. 

Oh, mungkin itulah kenapa lelaki sering pula menyanjung perempuannya dengan kalimat, “Kaulah matahariku! Kaulah rembulanku yang bersinar!” Dia -istriku- sekaligus matahari dan rembulan.

“Sayang aku sudah tahu baju mana yang mau aku beli. Tadi sempat aku lirik. Tapi setelah melihat tas ini, aku rasa akan lebih istimewa kalau aku bawa bersamaan. Bagaimana menurutmu, sayang?”

Aku diam. Namun di balik diam itu, aku sedang berhitung dengan cepat perihal kemampuan finansialku. Dan saat aku mulai berhitung, di kepalaku ada kalimat yang terus menggema: “Kamu pasti menikmati orang-orang berbisik-bisik tentangku…”

Sumpah, aku sudah lelah dengan repetisi itu. Sudah terlampau bosan mendengar kalimat itu. 

Maka… 

“Ya, aku juga berpikir sama. Kayaknya tas itu memang cocok buat kamu, sayang.” Dan dia pun tersenyum. Seperti tidak pernah ada sebelumnya tampang cemberut terbit dari wajahnya. 

Detik-detik Persiapan 
(Sembilan Puluh Detik Sebelum ke Bioskop)
Akhirnya rencana menonton tak batal, sekaligus juga tak lancar. Semua yang dia inginkan sudah makbul menjadi nyata. Namun dugaanku keliru. Selepas magrib, saat semua telah terpasang dengan rapi —baju, rambut yang sudah dibuat bergelombang seperti ombak, dan tas baru yang mengantung anggun di bahunya— aku sudah siap di pintu. Tiba-tiba dia berteriak.

“Sayaaang…. parfumnya habis. Kaos kaki juga entah ke mana. kamu lihat bandoku? Duh, kenapa tadi kita nggak beli bando juga?!”

Aku diam. Sungguh diam. Tak tahu harus melakukan apa lagi. Sementara dari dalam kamar, suaranya terus menggema.

“Sayaaang….sayaaang….sayangkuuuu…”

Belum Selesai dan Memang Tidak Akan Pernah Selesai 
(Dua Jam Setelah Pulang dari Bioskop)
Malam hari saat berbaring di sebelahnya setelah pertarungan panjang sebelum pergi ke bioskop; pertarungan yang sudah bertahun-tahun acap aku alami, melalui berbagai level yang tentu saja selalu terjadi di detik-detik sebelum keberangkatan, akhirnya aku menyadari satu hal: bahwa aku benar-benar sedang berhadapan dengan makhluk yang bernama perempuan. Dia senyata berbeda dari cara berpikirku. Dia memang makhluk dengan takdirnya sendiri. Yaitu takdir yang justru sangat aku rindukan bila dia jauh dariku. 

Maka, sungguh benarlah bait sebuah lagu yang pernah aku dengar, “Cause girl, you are amazing, just the way you are.“
***
Circle K, 2025

* Just The Way You Are: lagu Bruno Mars (https://open.spotify.com/track/47Slg6LuqLaX0VodpSCvPt?si=896516e5444d4e3f)
** Cerpen ini menggunakan teknik fraksionasi, memecah kesatuan utuh menjadi fragmen-fragmen yang tetap terhubung.

Ilham Wahyudi, lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang juru antar makanan di DapurIBU, seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur, dan anggota baru di Kede Sastra, sebuah komunitas yang bergerak di bidang sastra yang didirikan oleh lima sastrawan dengan semangat untuk mengembangkan dan membentuk identitas sastra Indonesia. 

2 Responses

  1. Suka sih sm cerpennya
    Bahkan aku yg masih remaja rasanya relate gituu

    Cerpennya santai buat diliterasikan dibuku tugas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *