dongeng hujan – Ikun Eska
bahwa hujan itu pernah bercerita padakubahwa bunyi yang datang mengetukgenting rumahmu bersamanyaadalah ia yang pertama kali memandikanmusebelum kau berangkatmenangkap gelap matahari***
Mutiara Pecah – Alkarna
mutiara pecah ini ku hadiahkan kepadamusebagai tanda perceraianku dengan malam jangan bersedih,usah menangis ku tak akan pungkirigemulai tubuhmu malam ituyang memaksaku lari ke dalam pelukmu***
Tentang Hujan – Alkarna
biarkan rembulan termenungkarena aku hanya ingin meminang hujan kan ku setubuhi iamalam inibersama rintiknya mengoyak bebatuan***
Aku Hanyalah Sebuah Bayang – Alkarna
: buat rei biarlah rindu menjemput bayangkumembawa terbang kehadapanmu : aku tak kekal dan pula tak kenaltapi biarlah namaku terukir di dinding hatimutuk sementara, atau selamanya aku hanyalah sebuah bayang: aku tak kekal dan pula tak kenal***
Dimana Tuhan Menyimpan Cinta – Alkarna
: buat rei gerimis turun semalam basahi pembaringan sang perempuan ada sorga ku lihat di bening matanya namun tak kutemukan dalil dalam ayat dimana tuhan menyimpan cinta?***
St James Park – B. Herry Priyono
di taman ini aku sering melihatmu di antara ribuan willowyang menjulur ke danau mungkin itulah mengapaaku suka pulang ke taman inikarena seperti merasa dahulu kala, sebelum dilahirkan kita sama-sama tinggal di sini bersama danau, itik, dan angsa daun, bunga, dan rahasia jauh sebelum diam terjatuh ke dalam kata.***London, 1995
sepi – Lily Glorida Nababan
dimanakah kehangatan…. saat terduduk sendiri menahan dingin, satu-satu suapan bagai mengunyah kenangan kala sepi bukan jawaban malam hari… dimanakah belaian… saat dentang kaiser wilhelm kirsch mendalu-dalu gaungnya menelusup hingga relung hati nan merindu… (mengapa seperti ingin mengintip isinya…?) dimanakah dekapan.. saat menyusuri kurfustendamm perlahan, menyibak guguran maple yang mulai menguning, menekan dalam-dalam kedua tangan dalam saku saat angin dingin mengusap wajah meninggalkan rasa beku.. dimanakah […]
senja di champ d’elysses – Lily Glorida Nababan
suatu senja di champ d’elysses saat meneguk air jeruk sambil menenggelamkan diri di kursi kayu riang dan ria sajalah sekelilingku.. berpasang-pasangan tua dan muda berjalan sepanjang trotoar sambil berpelukan kadang berhenti untuk saling memandang lalu saling mengecup… betapa romantis,sementara aku sendiri saja.. mencoba alihkan tatapan pada arc de triomphe yang berdiri di ujung kanan… sinar mentari sore menguningkan batuan kokohnya.. lalu terasa angin […]
Syair Musafir – Sitok Srengenge
Serapuh manekin, seteguh fountain,kausepuh bara birahi tanpa acuh pada dingin Menara gereja menjulangkan syahwat, St. Pauli lewat Tak ada natal putih, hanya reranting merintih Salju seakan mangkir,tanah penuh bangkai daun Tapi akan hadir seorang musafir, kau menanti di ujung tahun Datang ia dengan kuntum selasih di ranjang menyala kaukenalkan dirimu Kekasih Di balik pintu maut menunggu dengan sepasang kuda waktu Dalam […]
Di Hamburg Sepi Menghembur – Sitok Srengenge
Kecuali kelam cuma angin compang-camping, seusai sepi merajamkan sejuta taring Hawa jekut bersalto di perut gelandangan,bayang-bayang maut dari ghetto masa silam Sepi menjalar, mendesis di lurung-lurung gedung,lidahnya menjilati patung-patung di taman Udara menggelepar, menanggung gaung, menebar bau rawan peraduan Dan di danau yang menyerupai genangan mimpi,sulur-sulur cahaya seakan pendar fosfor akar kuldi Gesau Gestapo telah lama tenggelam di dasar […]