Kecuali kelam cuma angin compang-camping,
           seusai sepi merajamkan sejuta taring
  Hawa jekut bersalto di perut gelandangan,
bayang-bayang maut dari ghetto masa silam

Sepi menjalar, mendesis di lurung-lurung gedung,
lidahnya menjilati patung-patung di taman
             Udara menggelepar, menanggung gaung,
                 menebar bau rawan peraduan

  Dan di danau yang menyerupai genangan mimpi,
sulur-sulur cahaya seakan pendar fosfor akar kuldi

Gesau Gestapo telah lama tenggelam di dasar danau itu,
       tapi masih tersisa isyarat yang mengeruhkan kalbu:
di lorong-lorong Metro, ketika rinding riuh kehilangan echo,
             lolong sengau dan kerling menjauh bagi kulit sawo

Sepi meringkuk berselimut kabut tebal
                   di pucuk menara katedral,
dengkur lembut yang ngalir dari alam bawah sadarnya
           melantunkan Talmud dan mimpinya sinagoga

       Riap tunas kembang menyingkap jangat bumi:
ada yang sedang berdandan, barangkali musim semi

                     Busut-busut salju mulai memuai,
bagai lisut seprai. Rambut angin kusut masai
           Yang berlanjut cuma kelam,
merajut kelamin ke kelambu malam

      Nafsu yang menggerakkan waktu,
nafas yang menafikan belenggu beku
Tubuh yang melimbak,
butuh yang meliur
         Ke dalam sajak
sepi menghambur
***
1997

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *