Stasiun Kota
Amir Ramdhani keringatkeringat berkembangbiakdi sekitar berisik kereta,pagar bangunan tua,rongsokan baja.mobilmobil terus saja berlari di lintasan kakitak percaya pada perhitungan nanti.selalu berdesakselalu, kota oleng oleh ombak masih ada yang tak pernah punah: jalanankerap terperangkap pengap asap menguapbeberapa kali menusuk jantung, merobek oksigenbisakah kita bertahanjakarta, 2004
Tentang Penulis Edisi 111
Amir Ramdhani, lahir di Depok, kuliah di Universitas Nasional dan gemar menulis.
Tengkorak Kematian
orang-orangmenyembahyangi gedung-gedungdi sosok kota yang jorokdi sela-sela isyarat mautadalah ketenangan yang kian sekaratdipecut serbuk sobekan nilai-nilaidi ranting genting yang memicu pilumengerudungi dosa suram berbatu-batuditikam angin yang bekudaun-daun memerah, disepuh musimhari-hari adalah marjinalpenuh segala rasa sialmencabik-cabik kaum kumaldi kegelapan halimunmelebihi tengkorak kematianyang tanpa kain kafanharapan tinggal setipis kapasdalam dengus gerimis mistiskilat-kilat halilintar menyeringaidi rusuk udara yang […]
Hujan Yang Tak Sempat Kita Keringkan
Amir Ramdhani hujan yang tak sempat kita keringkantak jadi menggumpal menjadi racundalam rotasi ban waktu yang menggelindingdengan payah melintasi lorong jantungkarena kita adalah hujan di musim genting2005
Tentang Penulis Edisi 106
Amir Ramdhani, tinggal di Depok, masih kuliah di Universitas Nasional Jakarta, jurusan perhotelan, dan gemar menulis puisi. Ismeyd Babel, tunanetra berusia 25 tahun yang bekerja sebagai redaktur pada situs informasi kecacatan di Indoneisia, www.mitranetra.or.id.
Stasiun Kota
keringatkeringat berkembangbiakdi sekitar berisik kereta,pagar bangunan tua,rongsokan baja.mobilmobil terus saja berlari di lintasan kakitak percaya pada perhitungan nanti.selalu berdesakselalu, kota oleng oleh ombak masih ada yang tak pernah punah: jalanankerap terperangkap pengap asap menguapbeberapa kali menusuk jantung, merobek oksigenbisakah kita bertahan2004
Pemabuk Di Bangku Bar
ada denyar terdengar samardi sela-sela musik yang hingarbingardan kau tersadar bagai hampir tersambar petiryang mana cangkir-cangkir birtak mungkin mangkir; seseorang memanggilmu layang-layang olengseseorang memanggilmu layang-layang oleng2005
Bagaimana Harus Kulukis Sungai
Amir Ramdhani bagaimana harus kulukis sungaisedang hilang sungai ke inti lautlalu direguk oleh lidah mentaridan dimuntahkannya kembalimelalui awan awan karatke tanah tanah tajam menyengat arus berlari deras tak terbayangseperti mengejar hari esok yang terkurung kabutseperti pasir yang khawatir diterjang gelombang pasang di bawah cerlang bintang yang menopang angkasa,selalu berserak dibenakku sematasungai yang tercemar rusuh buih […]
Orang Yang Pelan-pelan Menyetubuhi Malam
orang yang pelan-pelan menyetubuhi malam,pelan-pelan langkah keongnyaterpelanting ke atas kasur lapukruang-ruang yang tak berwaktumenimpuk dunia dengan segenggam dustasedang, purnama telah penyok menjadi sabit kalian telah mengobrak-abrik kamar otaknyakalian telah mengacak-acak isi lemari otaknyabarangkali kalian akan sampai di anak tangga ke 9dengan membawa malam penuh murkatapi koin-koin dendam telah terlanjurdimasukkan ke dalam celengan hatimei, 2004
Skhizoprenia
mau makan lapar makan mau laparorang kaya ada banyak pelit kayauang adalah daun yang rontok ke tanahuang adalah ketombe yang gugur ke jidatlalu tak sengaja kemakan ke mulutmau makan lapar malah makan ketombe butut mengapa suara itu lagi yang datangsuara yang katanya nasehattapi nyatanya cemooh bejat aku telah menggergaji mataharidalam diskriminasi bulanbulan yang mengendap dalam […]