Nin Michaelides

Mata betina, lekuk teluk, rumpun leli meriapi tepi,
genangan rasa rawan, beriak karena angin ringan
Sauh nelayanku bergetar, alunmu menggeliatkan sunyi,
gelembung air bersembulan dari dalam cangkang kerang

Sunyi dalam jiwaku dentang lonceng puncak menara batu,
gaung kelepak keluang dan malam mengendus getah eukaliptus

Kudengar denyar, samar, saat di tebing ombak pun rebah,
datang jauh dari wilayah dalam diriku yang entah,
mungkin gairah atau pembuluh darah yang pecah

Aku terdampar bagai sepotong dahan damar
Rumput laut, lumut, lumpur, serpih kain layar
Amis-asin kelenjar, aku hasratkan segar air tawar

Oh gelambir lunak ubur-ubur, kelopak-kelopak kelamin!
Oh tubuh yang ngelindur, kecipak riak dan dengus angin!

Mata betinaku, aku perlahan karam ke kelung palungmu
di atas tebing-tebing batu kulupakan jalan keras berliku
Arusmu mengalir tenang, aku terenggut hanyut
di dunia ambang kurengkuh maut, demi hidup berdenyut
***
2002

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *