Cinta Luput, Cinta Sepenuh – Sitor Situmorang

Hari sudah sore
siap menemui ajal
depan regu tembak
ia membalas surat
seorang gadis jauh
yang belum dikenalnya.

“Silakan datang, aku menunggu bahagia.
Oleh-olehmu kunanti.”

Ia pun tertidur
hingga lewat matahari terbenam,
menjelang hari naas
sebelum nanti kubangunkan
di pagi buta – kata koran
kata koran pula:
ia menolak berdoa
ia menolak didampingi pendeta
hanya minta sebatang rokok.

Seorang murtad
yang ikhlas?

kata hatiku –
setelah tidak diberi pengampunan
Iia menolak segala pengantaraan dunia
antara dirinya
dan Tuhannya.
Amin.

Penjara di Waktu Subuh

Datanglah
segala rindu
kuhirup di angin pagi
bebas keluar masuk jeruji

datanglah
angin gunung angin pantai
bersama azan untuk orang percaya
menembus tembok hati

yang memisah kenangan
dari kenyataan

yang memisah kebebasan
dari kepasrahan

Allahuakbar!
Allahuakbar!

Sitor Situmorangpenyair kelahiran Samosir, Tapanuli, dan bekerja sebagai wartawan di Medan. Pernah ditahan Belanda di Wirogunan sebelum bekerja di KBRI Paris dan pernah menjadi anggota MPRS sebagai wakil seniman.
*. Diambil dari kumpulan puisi ‘Angin Danau’ (Sinar Harapan, 1982)