dalam diriku yang lain
bermukim setangkai 
bunga merah 
dengan tiga helai daun
juga duri-duri 
yang melekat di tubuhnya

saat dedaunan gugur di musim baru
aku menemukan diriku menjadi haru
meski duri kian tajam memanggil darah
yang keluar dari kedua mataku hari ini. 

tak perlu ada yang paham, siapa di antara kita
yang terluka dan bahagia.
***

Perjalanan Musim di Kepala

sebelum mimpi 
langit malam adalah selimut yang hangat
angin musim serupa rambu-rambu baru
menuntun tanpa menuntut agar 
selalu dimenangkan.

saat mata memejamkan cahaya
di kepala—ada desir dari jauh menyapa
kemungkinan bukanlah stasiun satu-satunya
bagi hitungan jam seseorang yang datang
tapi mengulang pulang.

kita belajar waspada 
setelah mencium hampa di ransel hitam
yang kau kenakan saban hari
kau memeluknya dengan tabah 
di tiap lubang jalan: nasib memaksamu 
mengenal kenyataan masa silam. 

kau terus berjalan
menuju selatan dan kenyataan
hingga sebuah nama di bibir pantai
terhapus ombak kecil yang berlari
riang—mendengar kedatanganmu. 
mimpi masih menepuk-nepuk 
kelopak matamu yang sebentar lagi 
jatuh dan patuh kepada air mata. 
***

Wawan Kurniawan, menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan beberapa karya. Menerbitkan buku puisi pertamanya yang berjudul “Persinggahan Perangai Sepi (2013)” serta diundang sebagai penulis Indonesia Timur di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2015. Buku puisi kedua terbit Januari 2017 dengan judul “Sajak Penghuni Surga” (Basabasi). Buku esainya terbit Februari 2017 dengan judul “Sepi Manusia Topeng” (Nala Cipta Litera) dan kumpulan cerita pendek pertamanya terbit Maret 2021 dengan judul “Aku Mengeong” (Indonesia Tera). Beberapa buku yang diterjemahkan antara lain The Book of Sand karya Jorge Luis Borges, (Metabook 2018), Man Without Country – Kurt Vonnegut (Cantrik 2018). Karya-karyanya pernah dimuat di Kompas, Jawa Pos, Media Indonesia, Riau Pos, Bali Post, dan berbagai media lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *