Berr .. berrr, desember
Banjir mulai mengepung
Di bangku panjang, Wak Lihun duduk bersilang kaki
Sandal jepit tipis, botol susu bayi, sepasang
Kaus kaki hitam, dompet laki-laki, cakram padat Wak
Haji Rhoma, berenang di air yang cokelat
Berr … berrr, desember
Seperti digerakkan tenaga gaib
pandangan Wak Lihun tiba-tiba tergiring ke suatu sudut
Sebuah album keluarga timbul-tenggelam
menahan berat album, tangan Wak Lihun bergetar keras
Berr … berrr, desember
Ia terpesona menatap foto seorang anak balita
Matanya besar bagai anak menjangan,
bangga dengan baju dokter, stetoskop mini di lehernya
Namun harapan dan realita dua hal berbeda
“Seperti para tetanggaku yang bermimpi jadi tentara,
cita-cita cukup menjadi hiasan hidup, tak perlu menjadi kenyataan.”
Berr …. berrrr, desember
Wak Lihun tak kurang bersyukur
Hatinya mekar menjadi sopir seorang dokter di dekat rumah
Tapi dunianya tak banyak berubah,
Dulu ia menyetir oplet, lalu mikrolet jurusan Pasar Minggu – Mester
Berr … berrrr, desember
Wak Lihun, sebelas pemilihan umum telah dilalui
dari pemerintahan Bung Karno yang gegap-gempita,
Soeharto yang selalu membenci demokrasi yang “berisik”,
kemudian Habibie, Gus Dur, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono,
hingga yang terakhir Djoko Widodo,
Dunianya tetap sama: ia menghabiskan usianya di depan setir
Berr … berrrr, desember
Wak Lihun tidak percaya pemilu akan mengubah nasib
Namun lima tahun sekali, mengenakan baju koko dan kopiah terbaik,
ia melangkah mantap ke kotak suara
Tiada yang tahu, di malam-malam sunyi ia selalu berdoa
agar nasib anak-anak keturunannya lebih baik daripada nasibnya
Ia tak percaya lagi pada janji-janji manusia.
***
Idrus F Shahab, wartawan-penulis-penyair yang tinggal di Jakarta. Beberapa tahun terakhir banyak menulis puisi. Sejumlah karyanya bisa dibaca di akun Idrus Shahab di Facebook.