Dentum suara musik bergema di daun telinga, mengendap-endap menuju kepala Budi. Namun seperti ada tembok besar menghalangi, musik itu berhenti di telinganya, dan kata-kata Jofran terus berdenging bak kaset rusak di kepalanya. Bahkan ketika sedang bersenang-senang dengan putri semata wayangnya, Budi masih tidak bisa berhenti memikirkan yang dikatakan Jofran tiga hari lalu.  

“Aduh. Tangan Nayla sakit, Pah.”
“Ah, astaga maaf sayang.” Budi segera melepas genggaman pada tangan Nayla. Tanpa sadar ia meremas-remas tangan putrinya saat teringat obrolan dengan Jofran, tiga hari yang lalu itu.

“Lebih tiga tahun tidak menyentuh wanita, wah kamu seperti Budha.”
Budi hanya tersenyum menanggapi. 

“Tapi ini serius, memangnya kamu tidak butuh itu?”
“Hah!?”
“Jangan pura-pura tidak mengerti Budi Baik.” 

Wajah Budi berubah kesal. Ia gerah mendengar panggilan bernada mengejek dari teman kuliah yang kini jadi bawahannya. “Aku terlalu sibuk kerja dan mengurus Nayla. Bukan kayak kamu yang hidup seenaknya!” 

Jofran tertawa, “Ayolah kita sama-sama pria, aku bisa jaga rahasia. Sudahlah cerita saja. Aku tahu kamu pasti sering kan…”
Giliran dia tersenyum kecil tapi tetap bermain pura-pura tak mengerti. ”Apa maksudmu?”

Jofran berbisik. Wajah Budi berubah merah. 

“Nayla mau es krim, Pah.” Suara putrinya membawa Budi kembali ke dunia nyata. Agak gelagapan Budi menanggapinya. 

Nayla, setelah ayahnya mengiyakan, langsung berlari girang menuju restoran cepat saji dan Budi mengikuti di belakang. Mendadak ada panggilan masuk dari Jofran. 

“Sudah kubilang jangan telepon aku hari Minggu!” bentak Budi. Jofran minta deadline kerjaan diperpanjang dengan alasan bertele-tele yang tak didengarnya, terganti dengan bisikan Jofran tiga hari lalu yang membuat wajahnya memerah.

“Baik,” diputusnya telepon dan terlempar lagi ke dunia nyata dan panik tak ada Nayla dalam jangkau-pandangnya. Ramai orang berlalu-lalang di sekitarnya, tapi tidak dilihatnya anak perempuan berbaju merah muda. Ia berlari masuk restoran cepat saji, ada banyak anak-anak perempuan tapi tidak ada Nayla. 

“Mbak… Mbak… apa lihat anak perempuan pakai baju merah muda?” tanya Budi kepada pelayan wanita yang sedang membereskan meja. Tanpa merasa perlu berpikir dulu, wanita itu menggeleng dan kembali memunguti piring-piring sisa makan pelanggan. 

Budi bergegas ke luar dan bertanya, dengan setengah membentak, pada setiap orang: “Anak perempuan baju merah muda… Ya baju merah muda,” sambil tangan kanan menunjukkan tinggi Nayla sepahanya. Nihil. Budi berlari berkeliling, juga ke tempat bermain tadi dan Mbak yang masih ingat mereka berdua menggeleng. “Cepat lapor ke Satpam Pak,” saran perempuan itu ikut gusar, membuat Budi makin panik.

Dia berlari menuju pos satpam ketika ponselnya berdering. Diacuhkannya tapi terus berdering keras. Pada dering ketujuh, dia angkat kesal. “Ada apa?”

“Maaf ini dengan Bapak Budi?” tanya suara lembut di seberang, “Ini ada yang mau bicara.” Begitu ponsel berpindah tangan, Budi mendengar suara yang melegakan hati -tangis Nayla.  Seluruh darahnya turun, kepalanya mendingin, otot-ototnya melemas. Untuk pertama kali dia justru lega mendengar tangis Nayla, bukan malah panik mencari sebab tangisan. Didengarnya kembali suara perempuan tadi, kali ini dengan sabar dan saksama “Oke, saya segera ke sana.”

Tiba di depan toko sepatu yang disebut suara lembut tadi, Budi menghembus lega melihat Nayla sedang duduk di sebuah kursi panjang, menjilati es krim dengan wajah riang. Di sebelahnya, seorang wanita muda duduk menyilangkan kaki jenjangnya. 

Ternyata Nayla menunggu di depan toko sepatu melihat-lihat pajangan beragam sepatu hak tinggi, tapi Budi tidak datang-datang karena sibuk mendengar alasan Jofran, atau sebenarnya bisikan Jofran tiga hari lalu. Merasa sendiri, Nayla pun menangis hingga seorang wanita menyapanya. Memang, Budi selalu menaruh kartu namanya pada tas selempang kecil yang selalu dibawa Nayla ke mana pun. 

Puas berpelukan dengan Nayla, dia mengucapkan terimakasih dan berkenalan dengan Melisa, yang berwajah putih bersih dengan bentuk sedikit oval. Matanya tajam, hidungnya mancung, pipinya tirus, dan rambutnya panjang dan lurus diikat ekor kuda. Melisa terlihat segar dengan baju kaos lengan pendek berwarna kuning dan celana jins putih yang menutupi kedua kaki yang ramping. Budi Baik -mendadak dia ingat ejekan Jofran- terpana sendiri mengamati, sekaligus pula menikmati, rincian perempuan di depannya dan terkenanglah kembali bisikan Jofran, tiga hari lalu, yang kali ini membuatnya tersenyum kecil. 

Senyum kecil yang dibalas Melisa dengan tarikan bibir yang bukan hanya tersenyum, juga membentuk lesung di pipi kanannya, membuat senyum itu semakin terlihat manis. Mendadak dada Budi berdebar tak karuan. Debaran yang sudah lama tidak dirasakannya. 

“Sudah, ya Nayla. Kakak pergi dulu,” kata Melisa berjongkok dan memeluk Nayla, yang bersemangat membalas pelukan. Ketika wanita itu berdiri dan membalik badan, keberanian Budi muncul mendadak. “Kalau tidak keberatan, ini sudah waktunya makan siang, bagaimana kalau kamu ikut kami,” ajak Budi dengan suara bergetar. Saat itu ia rasakan pipinya mengeras dan ada kekesalan karena bisikan jahat Jofran datang lagi mengganggu. 

Melisa mengangguk, poni yang menutupi dahinya bergoyang-goyang halus.

Sepanjang di kafe, Nayla tidak pernah jauh-jauh dari Melisa. Obrolan kosong di siang itu berkembang ke pelbagai cerita. Meski masih muda, Melisa mampu menanggapi banyak hal dan enak diajak bicara. Dia senang mendengar cerita tentang skripsi yang Melisa sendiri tak yakin seperti apa kelak isinya tapi harus dikerjakan sebagai tugas akhir universitas, juga kagum mendengar Melisa bekerja sambilan sebagai SPG di sebuah perusahaan motor asal Jepang. “Ya apa saja yang halal kan Mas,” tutur Melisa dengan suara sama lembutnya ketika pertama kali didengarnya lewat telepon tadi.  

Bahkan dengan suara yang lebih lembut lagi ketika bertanya tentang Ibu Nayla, yang tak pernah nyaman buatnya dan malah dijawab Nayla langsung dengan datar, “Mama Nayla sudah di surga.” Ada hening, yang terasa amat panjang. Maka segera diputusnya. “Ayo cerita lagi tentang kamu,” katanya dengan suara riang. 

Melisa tersenyum lepas dan lesung pipitnya kembali menghantam Budi. “Udah semua kan Mas. Ayo mau tanya apa lagi…”

Keduanya bertatapan dan Budi Baik -dia sekarang merasa suka dengan panggilan Jofran itu- salah tingkah menghindar dan melihat ke Nayla yang duduk lengket di samping Melisa. Dunia nyata yang aneh, pikirnya. 

Ketika berpisah, Budi merasa ada bagian dirinya yang tadi terisi entah, kini kembali hampa.
***

Lima hari berlalu, pikiran Budi selalu dihantui Melisa. Berkali-kali tergoda untuk menghubungi tapi diurungkannya niat itu. Beberapa kali ia  menulis pesan namun dihapusnya lagi. Berulang kali pula dia ingin mencari tahu kantor Melisa kerja, juga beberapa kali dicegahnya untuk menekan Enter ketika nama perusahaan sudah tertulis di kolom pencarian Google. 

Kerjaan Budi jadi kacau dan dia sering sekali kehilangan fokus. Sikap mudah marahnya -selain ke Nayla- menyala lagi dan semakin menjadi-jadi. Jofran yang paling sering jadi korban, mengajaknya ngopi di suatu siang yang lenggang. “Demi mengembalikan pamor sebagai Budi Baik,” kata Jofran waktu menekannya untuk pergi ngopi bersama. 

“Mungkin kamu sedang berahi,” kata Jofran langsung begitu mereka duduk, bahkan ketika belum memesan kopi
“Jangan ajari aku aliran-aliran sesatmu itu!”
“Tapi aku tahu solusinya. Obat dari sakit karena wanita, ya wanita juga,” kata Jofran setengah berbisik sambil menyorongkan badan.

Budi kesal. Meski begitu, dia sadar Jofran adalah sahabat setianya dari sejak kuliah hingga menjadi bawahan, tapi tetap saja dia tidak ingin membeberkan tentang Melisa kepada Jofran. “Nggak semua urusan orang di dunia berkaitan sama perempuan.”

“Ayolah kawan…,” Jofran memajukan lagi tubuhnya untuk menyeberangi meja yang cukup luas, dan berbisik pelan namun jelas, “Nggak harus tidur kalau nggak mau. Tapi kamu butuh teman wanita. Berduaan, entah cuma ngobrol atau ya lanjut…” saran Jofran lagi. 

Budi mengangkat alis menyampaikan pesan ‘tidak tertarik’ namun Jofran tetap mengirim nomor lewat WA  ke Budi Baik. “Itu Maminya. Dia pengertian banget, mau yang gimana bisa disediakan. Yang pemalu, yang dewasa, yang ramah… Jelaskan saja.”
***

Di kafe di hotel Monalisa, Budi gelisah menunggu wanita teman kencannya. Setelah berkali-kali mau menelepon dan batal, mau menulis pesan dan gagal, Budi akhirnya menghubungi nomor itu di satu malam Sabtu yang dingin, ketika hujan gerimis masih menganggu sedang Nayla sudah lelap tertidur. Benar suara di seberang sana terdengar amat penuh pengertian dan  mengatur rapi semuanya.  “Mas nanti nunggu saja di kafe Hotel Monalisa.” 

Waktu itu, begitu menutup telepon hatinya langsung tenang tapi ketika tiba waktunya, jantung Budi berdebar kencang. Bergelas-gelas lemon tea telah tandas. Tanpa sadar jarinya mengetuk-ngetuk meja. Seperti biasa untuk urusan apapun, dia terlalu cepat datang. 

Ketika menunggu, Budi melihat seseorang yang sangat tidak ingin ditemuinya. “Mas Budi?” sapa orang itu kaget padahal dia sudah menyamarkan namanya dengan Johan saat menelusuri anjuran Jofran menghubungi Mami yang penuh pengertian. 

Budi Baik lebih-lebih kagetnya. Ini bukan waktu yang tepat, pikir Budi dalam hati. Kemudian mata perempuan itu tertuju pada nomor meja tempat Budi duduk, lalu kembali ke ponsel di tangannya dan bergumam pelan, “Pak Johan…”

“Kamu Liana?” balas Budi. Wanita itu tidak langsung menjawab dan memang tak perlu menjawab. 

Tak ada senyum riang dengan lesung di pipi kanan, apalagi suara lembut yang menyejukkan. Di depannya berdiri seorang perempuan yang terpaku menatap lantai. Wajahnya kelihatan pucat. 

Budi yakin seperti itu pula wajahnya terlihat di mata Melisa.
***

Blencong, Mei 2021

Aliurridha Penerjemah dan pengajar Toefl. Ia menulis esai, opini, dan cerpen. Karyanya tersebar di pelbagai media, baik cetak maupun daring. Cerpen-cerpennya telah terbit di Kompas, Tempo, Jawa Pos, Republika, Suara Merdeka, Fajar Makassar, Kompas.id, Lensasastra.id, Magrib.id. Ia bergiat dalam komunitas Akarpohon.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *