setengah malam menyerahkan padaku mimpi paling kelam
sebelum bintang-bintang gugur memandangiku sendirian 
sebelum seluruh penglihatan padam 
di ujung kabut yang turun perlahan 
sebelum lampu terakhir surup di ujung jalan

ranjang yang membeku, dan bersamaku
kematian berwarna jingga 
menjelang petang berikutnya 
ketika kereta berderit menuju kota 

dan sisa malam itu, sayang 
mendekam pada jam 
yang jarumnya patah di dasar tubuhku

***
2020

Dilemparnya Warna Itu

dilemparnya warna itu 
pada bukit-bukit 
pada laut 

burung-burung berbondong terbang 
seekor kijang yang terluka 
berlari menjauhi kuda 

waktu belantara 
sepasang kaki mungil 
mengungsi ke dalam gua 

dilemparnya warna itu 
ke kota, hiduplah langit 
bintang-bintang sakit
***

2020

Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya berupa puisi dan cerpen tersiar di beberapa media massa baik daring maupun cetak, seperti: Detik.com, Maghrib.id, Koran Tempo, Beritabaru.co, Ceritanet.com, Kompas.id, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Radar Banyuwangi, Radar Banyumas, dll, serta terikut dalam berbagai buku antologi bersama seperti: Antologi Komunitas Dari Negeri Poci: Negeri Bahari (2018) dan Pesisiran (2019), Antologi Tembi Rumah Budaya: Kepada Hujan Di Bulan Purnama (2018) dan Hujan Pertama Di Bulan Purnama (2021), Alumni Munsi Menulis (2020), dll. Penulis berkhidmat di Forum Penulis Solitude (FPS). Sehari-harinya bekerja sebagai editor lepas dan penjual buku lawas. Buku kumpulan puisi pertamanya bertajuk Akar Hening Di Kota Kering (SIP Publishing & FPS: 2021). Sekarang bolak-balik Purwokerto-Yogyakarta sembari merampungkan novelnya dan sebuah buku kumpulan cerpen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *