Mulanya aku tak peduli dengan sepasang mata itu. Pemiliknya seorang gadis berwajah pucat kesi, yang menggambarkan kebekuan mendalam. Aku mulai tertarik ketika ia terus memandangku dengan sorot mata tajam. Mata kami beberapa kali saling beradu. Namun beberapa kali pula aku mengedip. Aku kalah. Bahkan terakhir kali, mataku seakan terseret ke dalam sorot matanya yang serupa pusaran hitam, lalu tenggelam ke dalam palung mahagelap.

Aku duduk di luar ruang tunggu, menatap ke jendela kamarnya yang bidang, persis di seberang. Kutatap langit kosong beberapa detik, juga ke samping ke arah taman hijau kecil, tapi selalu saja kembali lagi ke dua mata tajam persis di depanku. Maka kami kembali beradu pandang dan aku kembali pula mengedip, 

Adu pandang kami terputus setelah seorang perempuan paruh baya datang dengan sepiring nasi dan menyuapi gadis bersorot mata tajam. Namun gadis itu hanya bertahan dua suapan, sebelum menepis suapan ketiga dan memuntahkan dua suapan sebelumnya.

Masih dalam kebekuan, gadis itu tetap memandangku dengan sorot mata tajam. Ia tak peduli ketika perempuan paruh baya yang tengah sibuk membersihkan muntahannya sesekali menutupi pandangan kami. Hingga perempuan paruh baya usai membersihkan muntahan dan hilang dari pandangan, gadis itu masih memandangku: tajam menikam.

Kagok selalu kalah beradu tatapan, kuberanikan menyapa dengan lambaian tangan perlahan. Aku berharap ia merespon lambaianku, dengan gerakan bibir ataupun kedipan mata. Namun harapanku hanya menuai kesia-siaan. Ia tetap membeku.

Aku tak lantas putus asa. Kembali kulambaikan tangan, dan berhasil. Ia duduk di tepi ranjang. Namun wajahnya yang semula pucat kesi, seketika memerah seolah menahan amarah. Tak lama berselang, ia berteriak meronta-ronta sembari menunjukku dengan tangan kiri, sementara kanan terkekang ke ranjang besi.

“Itu. Laki-laki itu! Dia…. dia orangnya!” pekiknya, terdengar keras ke luar dari jendela kamarnya.

Seketika kuturunkan tanganku. Ada rasa bersalah. Apalagi melihat perempuan paruh baya tadi amat kewalahan menenangkan gadis itu, yang melompat-lompat histeris sambil menarik tangan kanannya dari ranjang besi. “Dia… Dia… Itu dia,” pekiknya diramaikan oleh bunyi ranjang besi yang berayun-ayun ditariknya.

Tiga perawat datang bergegas. Dua perawat laki-laki mengunci tangan dan kakinya, sedang perempuan paruh baya memegang kepalanya dan perawat perempuan menyuntik lengannya. 

Beberapa detik, gadis itu tenang kembali, berbaring dengan mata tertutup. Aku lega, adu pandang kami usai. 

“Namanya Vero,” seorang pria beruban membuyarkan kelegaanku. Rupanya sejak tadi ia duduk di sampingku, memperhatikan gadis bermata tajam dan mungkin pula memperhatikanku beradu pandang dengan gadis itu.

Aku mengangguk. 

“Kau menunggu seseorang, Nak?”
“Ya, Kek,” kujawab sopan dan hormat. “Kawan saya tengah menjenguk ibunya. Kalau Kakek?”

Dia tersenyum tak menjawab dan membuka koran yang terlipat di atas pahanya. Kutatap lagi jendela di depanku. Gadis bersorot tajam masih terbaring dengan mata tertutup. 

Ada tangan menggayuh pundak kananku.

“Sudah?” tanyaku.

Bram mengangguk. Aku ingin pamit kepada ibunya setelah membiarkan mereka berdua ngobrol santai tapi Bram mencegah, “Ibu siap-siap istirahat.”

Kami pun meninggalkan rumah sakit.

Dalam perjalanan pulang, aku terus terbayang gadis bermata tajam. Sorot matanya terasa tak asing bagiku. Apalagi ia berteriak-teriak ketika melihatku. Seolah kami pernah bertemu. Kucoba membuka lembaran-lembaran ingatan. Barangkali kami memang pernah bertemu. Namun aku tak mengingat apapun tentangnya.

“Kapan kau jenguk lagi?” tanyaku pada Bram yang sedang serius menyetir. 
“Besok. Memangnya kenapa?”
“Aku mau ikut lagi, boleh?”
“Kenapa tidak?” Apa ada sesuatu?”
“Ah, tidak. Sekedar mendukungmu dan Ibumu.”

Aku tak berbohong karena memang ingin mendampingi sahabatku yang cukup terpukul dengan ibunya yang divonis kanker. Itu jelas. Memang jelas pula kalau aku tidak mengungkap seluruh alasanku.
***

Keesokan hari, aku dan Bram kembali ke rumah sakit. Seperti biasa, aku  ikut menyapa ibunya dan segera keluar kamar untuk memberi waktu bagi mereka berdua. Kembali aku duduk di bangku taman di bawah pohon mangga. Dari bangku itulah aku dapat melihat sekeliling rumah sakit, dan juga melihat persis ke depan ke jendela si gadis bermata tajam.

Sore itu tirai jendela masih tertutup rapat.

“Kamu menunggu dia?” 

Suara yang kukenal. Kakek beruban kemarin sudah di sampingku, siap-siap duduk di ujung kiri bangku taman. Sedikit canggung, aku mengangguk.

“Paling sebentar lagi ia keluar. Bersama ibunya” 

Baru saja si kakek selesai berucap, di ujung koridor terlihat gadis bermata tajam ke luar kamar bersama seorang perempuan paruh baya.

Kulirik ke kiri dan si kakek misterius sudah tenggelam dalam bentangan koran.

***

Hari-hari berikutnya, ketika Bram membesuk ibunya, aku selalu ikut. Kusapa ibunya , yang selalu tampak senang melihatku sambil menahan sakitnya, dan kutinggal pula mereka berdua di dalam kamar untuk segera bergegas duduk di bangku taman yang sama. 

Pagi ini, kami agak telat. Gadis bermata tajam sudah cukup jauh meninggalkan tempat tidurnya di koridor bangsal bersama ibunya. Kuperhatikan lewat satu jendela ke jendela lain, kedua perempuan itu berjalan hati-hati ke luar menuju taman. Jantungku berdentam amat cepat dan amat keras ketika mereka masih dengan hati-hati berjalan di jalur setapak taman di seberang bangkuku. 

Pandangan kami kembali beradu, dia dengan sorot yang tajam masuk menusuk ujung belakang kepalaku sedang aku dengan pandang terpukau diiringi debar-debar yang aku yakin terdengar oleh gadis itu dan ibunya walau jarak kami sekira dua puluh langkah. Aku terpukau leluasa menjelajahi paras eloknya yang menepiskan dua mata tajamnya. Rambutnya yang lurus sebahu dibiarkan tergerai alami. Kulitnya yang putih bersih bersinar diterpa matahari pagi yang segar. Wajahnya yang pusat kesi berubah jadi merah jambu yang lembut disapu angin sejuk. 

“Rupanya itu alasanmu ikut terus lihat Ibu?” tiba-tiba Bram mengagetkanku.
 “Ah, nggak juga… Tapi sebutlah alasan sampingan. Rasanya aku kenal dia.”
“Ya dan tidak. Tidak, karena kau mabuk berat. Ya karena hanya kau dan dia yang tahu apa yang terjadi malam itu, selepas pesta Esther.”

Aku diam. 

“Ayo jalan, atau kau mau menyapa Ibu dulu?”

Aku tetap diam.

Bram berjalan ke tempat parkir dan aku ikuti dia, masih diam. Kami teruskan diam kami di dalam mobil, seperti dikutuk menjadi bisu oleh gadis bermata tajam.
***
Keesokan harinya, aku dan Bram berangkat lagi ke rumah sakit, meneruskan diam sepanjang perjalanan dalam mobil, dari tempat parkir ke kamar ibu Bram -yang masih terlelap ketika kami tiba sehingga sapa ‘selamat pagi’ sekalipun tak diperlukan- dan berjalan selangkah demi langkah dengan hening menuju bangku di bawah pohon mangga. 

Aku masih terngiang-ngiang perkataan Bram. Semalaman kupaksa untuk membuka  lembaran-lembaran ingatanku tapi tak ada yang tersisa utuh. Hanya kilasan-kilasan rambut yang tergerai, kulit yang halus, wajah yang lembut, namun bercampur teriakan dan rontaan di sebuah tempat gelap pada satu malam kelam dengan dentam-dentam jantung yang tak terkendali. Setiap aku mencoba menyusunnya, keping-keping itu pun selalu pula segera menghilang. Begitu juga pada pagi yang terang benderang itu.  

 Baru saja aku duduk di bangku taman, si kakek misterius tiba-tiba datang dengan koran terlipat di tangannya. Aku melirik sekilas dan segera tak memperdulikan untuk smemandang ke jendela di seberang dan gadis bermata tajam itu seperti menantiku. Kami saling beradu pandang: dia dengan sorot tajam yang kuat sedang aku dengan mata lemah paduan rasa bersalah dan tidak tidur semalaman. Beberapa kali aku berkedip ketika matanya justru semakin kuat menikam kepalaku. 

“Ia korban pemuda mabuk,” tiba-tiba suara kakek membuyarkan pandanganku. Kupalingkan mukaku ke kiri, menunggu penjelasan selanjutnya. “Pulang pesta ulang tahun temannya dia diperkosa dan hamil. Beberapa mencoba bunuh diri. Tapi sepertinya Tuhan belum mengizinkan.”

Kupandang lagi gadis di seberangku, mata tajamnya tak melemah sedikitpun. 

“Siapa pemuda mabuk itu,” tanyaku otomatis tak melepas pandangan ke arah gadis itu walau harus berkedip dua kali. 
”Dia tak mau bercerita. Setiap ditanya, gadis itu selalu menangis meraung-raung.”
“Dari mana kakek tahu ceritanya,” lagi otak dan mulutku bertanya mekanis. 
“Dia cucuku satu-satunya,” pungkas kakek lalu berjalan ke arah gadis bermata tajam, yang kini menatapku penuh dendam.

Kututup mataku dan segera kurasakan lagi dentam-dentam jantungku yang amat keras dan amat cepat.
***
Kudus, Februari 2022

M Arif Budiman, lahir di Pemalang, Jawa Tengah. Karyanya dimuat di beberapa media massa dan daring. Sekarang menetap di Kudus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *