Malam mengakar dan menancap pada lingkar mataku
Hilang binar, mungkin ada lebam yang mulai menghitam
Aku melihat dia pergi tanpa diikuti bayangannya
Padahal cintaku telah sempurna cahaya purnama
Putihnya, dan ketika kehilangan menyisakan nyeri sekali
Yang kurasakan hari-hari tentu akan terasa berat
Sungguh, beberapa kenangan masih meniupkan rindu
Aku heran perasaanku yang kadang benci dan kadang cinta
Tidakkah itu cukup untukku mulai melupakan ingatan
Tentang dia, melepas segala kewajiban mencinta dan kebaikan
***
Indramayu, 2020
Membaca Gelas
Ada potongan puisi di dalam gelas
Mengambang seperti es batu
Berdiam sejenak di mulutku
Mengalir sejuk membasahi gurun dahaga
Cairan bahagia musim kemarau
Bagai embun menembus perdu
Menebus segala rindu
***
Indramayu, 2019
Secoret Lipstik di Bibir Cangkir
Secoret lipstik tertinggal
Memerah di sana
Di bibir cangkir
Senyum manis terukir
Terapung di suatu senja yang berdenting ramai
Di jantungku menderas sungai darah
Menyerbu ingin tahu
Pada wangi yang tertinggal di kursi
Kutangkap harum yang sama
Bunga sakura tumbuh di gaun
Seorang gadis duduk memandang taman
Matanya sibuk memilih tangkaitangakai diksi
Lalu menghimpunnya jadi puisi
***
Indramayu, 2019
Faris Al Faisal lahir dan berdikari d(ar)i Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Komite Sastra, Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Namanya masuk buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” Yayasan Hari Puisi. Pada “World Poetry Day March 21” menuntaskan 1 Jam Baca Puisi Dunia di Gedung Kesenian Mama Soegra Dewan Kesenian Indramayu (2021). Puisinya mendapat Hadiah Penghargaan dalam Sayembara Menulis Puisi Islam ASEAN Sempena Mahrajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara ke-9 Tahun 2020 di Membakut, Sabah, Malaysia, Juara 1 Lomba Cipta Puisi Anugerah RD. Dewi Sartika dan berbagai penghargaan lainnya. Buku puisi keduanya “Dari Lubuk Cimanuk ke Muara Kerinduan ke Laut Impian” penerbit Rumah Pustaka (2018).