kubiarkan dahaga ini menampung seluruh binatang
yang menyebar di segenap pembuluh darah
dan meraung di lambung-lambung yang kerontang
tak ada oase di padang perutku, sepenuhnya ia gurun
dan kuletakkan jiwaku serupa majnun di sana
dan kelaparan menjadi kerinduan, menjadi alam
menjadi kuburan

Laila, laila,
laila ha illallah…

kuhempas-hempas diri sebagai debu
aku hanya debu di telapak kakimu
o al Musthafa, bersikap lembutlah padaku
biar terik sengat aku pada matahari
dahaga ini kian beringas pada syafaatmu

aku berharap malam segera turun
menggantikannya dengan bintang-bintang
dan tak ada yang kupandang
selain wajahmu dan keindahan-Nya
***
2022

Kalam Sunyi

kita digenggam Allah
dengan kesunyian paling indah
dari nama-nama yang mengeja setiap jalan kita
hingga kita pun tak kuasa membaca arah
di mana-mana terbentang hadirat-Nya

o aku seperti berada di kamar
dan pintu tertutup oleh batu
aku kehilangan gema suara-suara
mengucapkan kemahaan itu

cuma jendela dan kebisuan
cuma hatiku dan kerinduan

senantiasa napasku terendus
beriringan derita dan alam
sekaligus dari keluasan diam
dari bayang-bayang sepi
hanya keindahan
***
2022

Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya berupa puisi dan cerpen tersiar di
beberapa media massa baik daring maupun cetak, seperti: Koran Tempo, Beritabaru.co, Langgar.co,
Detik.com, Ceritanet.com, Sastramedia.com, Litera.co.id, Magrib.id, Kompas.id, Borobudurwriters.id (Borobudur Writers & Cultural Festival), Tembi Rumah Budaya, Suara Merdeka, dll. Ikut berkhidmat di Forum Penulis Solitude (FPS). Sehari-harinya bekerja sebagai editor lepas dan penjual buku-buku lawas. Buku kumpulan puisi pertamanya bertajuk Akar Hening di Kota Kering (SIP Publishing: 2021). Sekarang tinggal di Yogyakarta sembari merampungkan buku keduanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *